Begitu dilepas Bupati Berau H. Agus Tantomo, Minggu (24/1) sore, tim relawan PMI Berau berjumlah 10 orang langsung bertolak ke Barabai, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.
Endro S. Efendi, Barabai
PERJALANAN darat melalui Bontang, Sangatta, Samarinda, Balikpapan hingga Kalimantan Selatan itu awalnya baik-baik saja. Namun di tengah jalan ada insiden.
Tim PMI Berau yang bertolak ke Kalsel itu dipimpin Ketua Korlap Tanggap Darurat Bencana (TDB) PMI Berau Yudhi Rizal. Saya ikut mendampingi dalam kapasitas sebagai Ketua Bidang Relawan PMI Berau.
Sementara 8 anggota tim masing-masing 2 tenaga pelayanan kesehatan yaitu Dedy dan Rio, dan 2 tenaga ahli pengolahan air Sugianto dan Raka. Ada pula 4 relawan wanita yang membantu proses logistik dan distribusi bantuan bencana yaitu Yayan, Ariyanti, Silvana dan Ika.
Awalnya, perjalanan dari Berau ke Samarinda relatif lancar. Meski kondisi jalanan mulai banyak rusak dengan guyuran hujan, namun mobil tetap melaju dengan nyaman.
Tim sempat istirahat sambil ngopi di Letta, juga sempat istirahat di Muara Wahau dengan membuka dapur umum, memasak mi instan. Di Samarinda, tim juga sempat istirahat di kediaman saya. Maklum, karena lebih banyak di Berau dan sudah menjadi penduduk Berau, rumah di Samarinda tidak ada yang menempati. Rombongan mandi, sekaligus istirahat sejenak sembari memesan nasi kuning dengan jasa kurir.
Setelah dirasa cukup beristirahat, perjalanan dilanjutkan ke Balikpapan dengan melintasi tol Samarinda sampai Samboja.
Sempat istirahat di rest area tol untuk ngopi sekaligus menunaikan ibadah di masjid rest area. Tim kemudian melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Penyeberangan Kapal Feri di Kariangau, Balikpapan. Penyeberangan lancar, mobil yang dibawa PMI Berau langsung naik ke kapal melalui Dermaga 1. Sejenak bisa beristirahat di kapal, menikmati udara segar menyeberangi Teluk Balikpapan.
Hampir satu jam menyeberang, di Penajam Paser Utara, tim langsung mencari tempat makan. Sekaligus mencari lokasi membeli perlengkapan tambahan.
Selesai, rombongan langsung bergerak melanjutkan perjalanan ke Kalsel. Dengan guyuran hujan, kecepatan rata-rata maksimal hanya 60 kilometer per jam. Kabut tebal menambah kurangnya jarak pandang.
Begitu melintasi Gunung Rambutan, mobil yang saya tumpangi tiba-tiba kehilangan energi. Sejak dari Berau, saya kebagian menyetir mobil. Maklum relawan lain sudah lelah melakukan persiapan. Saya sempat digantikan dari balik kemudi hanya sekitar 2 jam di ruas Sangatta, sampai SPBU Kenari. Setelah itu lanjut mengemudi sampai Kalsel. Saya memang lebih suka dibalik kemudi. Ada tantangan tersendiri melakukan rute jalur Kaltim sampai Kalsel.
Nah kembali ke Gunung Rambutan, mobil dobel gardan yang saya kemudikan kehilangan tenaga. Meski tetap bisa menanjak, namun akhirnya mobil ini tumbang.
Sampai di Batu Kajang, Paser, tiba-tiba suhu mesin naik. Kap mesin berasap. Kami memutuskan berhenti sembari mengatasi persoalan. Beruntung lokasinya di depan minimarket waralaba sehingga bisa istirahat sekaligus menikmati segelas kopi.
Sudah malam, tak mungkin mencari bengkel. Solusinya, mendinginkan suhu mesin dan menambah air radiator dengan air mineral.
Sudah dingin, kembali tancap gas. Namun kali ini, mata saya tak hanya fokus ke jalan raya. Harus sering melihat dashboard untuk mengecek suhu mesin. Benar saja, setelah satu jam perjalanan, temperatur mobil kembali naik.
Lagi-lagi beristirahat sembari menambahkan air pada radiator. Menurut analisa cepat, sepertinya ada yang bocor. Sebab kipas radiator tetap berputar. Fokusnya, bagaimana bisa cepat sampai. Esok hari baru memperbaiki mobil.
Begitu suhu dingin, dan sudah memasuki wilayah Tabalong, Kalsel, mobil kembali saya pacu kencang.
Jalanan lurus dan sepi. Jarum speedometer tak pernah beranjak di bawah angka 80 km per jam. Namun mata tetap sering melihat ke suhu mesin. Namun masih aman. Hingga akhirnya, kami sampai di Posko Tanggap Darurat Bencana Palang Merah Indonesia di Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Washliyah, Barabai, Hulu Sungai Tengah, Kalsel.
Suasana posko sepi. Maklum sudah pukul 03.00 dini hari. Pasti semua relawan sedang lelap. Dengan senyap, kami langsung mencari posisi istirahat. Setidaknya meluruskan pinggang. Apalagi saya, sejak dari Berau sudah menyetir. Rasanya mata sudah sangat lengket. Bahkan mungkin beberapa saat mobil sempat melaju sendiri, karena beberapa detik sempat tertidur. Tentu saja ini tidak boleh ditiru, dan tidak akan saya ulangi lagi. Faktanya mengemudi sejauh 888 kilometer itu memang membutuhkan stamina prima. (bersambung/har)
Editor : uki-Berau Post