JAKARTA– Rabu (14/4) beberapa anggota DPR RI datang ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto untuk memberikan sampel darah untuk keperluan uji klinis Vaksin Nusantara. Sebelumnya ada beberapa tokoh, salah satunya Aburizal Bakrie juga datang. Di sisi lain, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan beberapa catatan pembuatan Vaksin Nusantara.
Uji klinis tahap dua vaksin nusantara tetap berjalan. Rabu (14/4) tim peneliti vaksin tersebut menerima kedatangan rombongan pejabat dari DPR untuk melakukan pengambilan sampel darah di RSPAD Gatot Soebroto. Setelah pengambilan sampel darah, pekan depan mereka akan divaksinasi menggunakan vaksin nusantara. Vaksin Nusantara merupakan vaksin yang dikembangkan oleh Balitbangkes Kementerian Kesehatan, RSPAD Gatot Subroto, RSUP Dr. Kariadi, dan Universitas Diponegoro.
Vaksin Nusantara sendiri menggunakan sel dendritik. Caranya dengan mengambil bagian tubuh dari calon penerima vaksin, dalam hal ini darah, lalu diolah. Pengobatan menggunakan cara ini sebenarnya awam dilakukan untuk penyakit kanker. Namun, vaksinasi menggunakan sel dendritik merupakan yang pertama dilakukan di dunia oleh tim peneliti.
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad turut menyambangi RSPAD Gatot Soebroto kemarin. Dia datang ke sana untuk ikut ambil bagian dalam uji klinis tahap dua vaksin nusantara. Meski belum mendapat lampu hijau dari BPOM, rangkaian uji klinis vaksin itu tetap berlanjut. Kedatangan Dasco tidak ubahnya bentuk dukungan DPR terhadap pembuatan vaksin tersebut.
Kepada awak media, Dasco menyatakan bahwa kemarin sampel darahnya sudah diambil. "Untuk diolah selama tujuh hari, untuk dijadikan vaksin nusantara yang kemudian akan dimasukkan ke dalam tubuh saya dalam tujuh hari ke depan," terang dia. Politisi Partai Gerindra tersebut menyatakan, pengambilan sampel darahnya berjalan lancar. Sebelumnya, pemeriksaan kesehatan juga dilakukan.
Dasco menyatakan, dirinya sempat ditanyai riwayat penyakit yang pernah dia derita. Tim dokter juga sudah menjelaskan kemungkinan-kemungkinan munculnya efek setelah dirinya divaksin. "Dan saya pikir itu kemungkinannya juga kecil," imbuhnya. Guna memastikan hal itu, dia mempersilakan awak media kembali datang ke RSPAD saat vaksinasi dilaksanakan pekan depan. Selain dirinya, Dasco menyebut ada beberapa orang yang datang ke RSPAD untuk diambil sampel darahnya.
Khusus dari DPR, kata dia, jumlahnya 40 orang. Menurut dia, pihaknya bersedia mendukung dan divaksinasi menggunakan vaksin nusantara demi menunjukkan kecintaan terhadap produk dalam negeri. Selain itu, ketersediaan vaksin dari luar negeri juga turut menjadi pertimbangan Dasco. "Apalagi sekarang ini embargo vaksin dilakukan oleh negara-negara penghasil vaksin," bebernya. Menurut dia kondisi itu harus disikapi dengan mendukung produk lokal.
Dasco mengakui vaksin nusantara bukan vaksin satu-satunya yang diupayakan diproduksi di dalam negeri. Namun demikian, keberadaan vaksin itu tetap penting. Karena itu, dia menilai kehadiran vaksin nusantara tidak perlu diperdebatkan. "Karena antara vaksin satu dengan vaksin lain itu tidak ada masalah," imbuhnya. Dia pun menapik kontroversi vaksin nusantara. Menurut dia, keterangan BPOM sudah jelas. "Mereka mempersilakan untuk memulai uji (klinis) fase (dua) ini," tambah dia.
Selain Dasco, Wakil Ketua Komisi IX DPR Emanuel Melkiades Laka Lena juga datang ke RSPAD Gatot Soebroto. Sampel darahnya juga sudah diambil oleh tim dokter di RSPAD yang dikomandoi oleh mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto. Menurut dia, tahapan uji klinis vaksin nusantara sudah sesuai dengan arahan BPOM. Catatan yang harus diperbaiki sudah ditindaklanjuti oleh tim dokter. "Berbagai perbaikan sudah dilakukan tim peneliti yang intinya adalah memenuhi unsur BPOM," tegas dia.
Untuk itu, Komisi IX DPR memberi dukungan kepada tim peneliti. Dukungan tersebut ditunjukkan dengan datang ke RSPAD Gatot Soebroto untuk diambil sampel darah dan divaksinasi pekan depan. "Saya terima kasih karena banyak tokoh bangsa yang mengikuti proses ini," kata dia. Selain anggota DPR dan keluarga, dia melihat ada beberapa tokoh yang datang untuk diambil sampel darahnya. Di antaranya adalah mantan Panglima TNI Jenderal TNI Purnawirawan Gatot Nurmantyo.
Menurut Gatot, dia turut mendukung vaksin nusantara lantaran merasa cinta kepada hasil kerja keras anak-anak Indonesia. Dia mengaku tidak ambil pusing dengan pro kontra yang muncul berkaitan dengan vaksin tersebut. Dia hanya menjalankan keyakinannya setelah diberi tahu dan diajak ikut ambil bagian oleh Terawan. "Kemudian ada hasil karya putra Indonesia yang terbaik, kemudian uji klinik, kenapa tidak saya (ikut), apapun saya lakukan untuk bangsa dan negara ini," tegasnya.
Sementara itu, politikus PDIP Adian Napitupulu mengungkapkan bahwa kedatangannya ke RSPAD Gatot Soebroto kemarin bukan atas nama partai. Kedatangannya juga tidak berkaitan dengan DPR. Dia hadir di RSPAD sebagai masyarakat yang mencari obat. "Orang mau pro kontra, saya harus cari obat untuk diri saya. Bagaimanpun juga tubuh saya dan keluaga saya adalah tanggung jawab saya," jelasnya. Menurut Adian, vaksin nusantara adalah jawaban untuk orang-orang seperti dirinya.
Adian mengaku, sebagai masyarakat yang punya riwayat penyakit jantung, Sinovac bukan vaksin yang cocok untuk dirinya. Pun demikian dengan vaksin AstraZeneca. Sebab, vaksin tersebut punya efek samping yang bisa menyebabkan pengentalan darah. "Dan itu musuhnya penyakit jantung," kata dia. Untuk itu, dirinya datang ke RSPAD Gatot Soebroto dengan harapan vaksin nusantara menjadi jawaban atas pencarian yang dia lakukan. "Ini persoalan saya dengan tubuh saya, dan saya harus mendapatkan jawaban terhadap persoalan tubuh saya," imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris mengatakan, aksi sebagian anggota yang menjadi relawan vaksin nusantara bukan sikap lembaga. Melainkan sikap pribadi masing-masing anggota.
Kalaupun ada pimpinan komisi IX yang terlibat, itu juga sepenuhnya mewakili pribadi. "Komisi IX DPR RI tidak pernah menyepakati secara kolektif untuk ikut vaksinasi Vaksin Nusantara," ujarnya, kemarin (14/4).
Dia memastikan, tidak semua anggota komisi IX melakukannya. Bahkan, Poksi IX PDI Perjuangan DPR RI juga secara kolektif telah memutuskan tidak mengikuti vaksinasi Vaksin Nusantara.
Charles menambahkan, sikap tersebut sejalan dengan arahan yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo. Bahwa pelaksanaan vaksinasi harus mengikuti standar yang berlaku.
"Sesuai dengan arahan yang disampaikan oleh bapak presiden bahwa uji klinis vaksin harus dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku dan kaidah-kaidah saintifik," tuturnya.
Sementara itu, mantan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie atau akrab disapa Ical jadi orang pertama yang melakukan vaksinasi. Hal itu dibenarkan Juru bicara Ical, Lalu Mara Satriawangsa. Lalu mengatakan, Ical telah divaksin nusantara pekan lalu.
"Sudah minggu lalu. Saya tidak mendampingi. Tapi beliau sudah kirim videonya (pasca vaksin) hari kamis (8/4)," ujarnya saat dihubungi.
Lantas, bagaimana kondisi Ical saat ini? Lalu menjelaskan, sepekan pasca divaksin nusantara, tidak ada efek samping yang dialami Ical. Dia memastikan dalam kondisi sehat. "Beliau sehat-sehat aja," imbuhnya.
Terkait alasan lebih memilih vaksin nusantara dibanding merek lainnya, Lalu menyebut kerelaan Ical menjadi relawan sebagai bentuk kepercayaan dan dukungan pada produk dalam negeri. "Beliau mendukung produk atau hasil karya putera bangsa," jelasnya.
Peneliti Utama Uji Klinis Tahap Dua Vaksin Nusantara Kolonel Jonny menjelaskan bahwa pengambilan sampel darah merupakan bagian dari proses vaksinasi vaksin nusantara. Dia mengakui proses itu memang berbeda dengan vaksinasi menggunakan vaksin lain yang langsung disuntik ke dalam tubuh. "Karena vaksin (nusantara) ini diambil dari sel tubuh sendiri, kemudian sel darah putih kami biarkan selama lima hari, dan setelah lima hari kami kenalkan kepada protein seperti yang dipunyai oleh protein virus," imbuhnya.
Melalui proses itu, lanjut Jonny, sel darah putih memiliki memori terhadap virus Covid-19. Dengan begitu, apabila virus itu mencoba masuk setelah vaksinasi dilakukan, tubuh penerima vaksin nusantara sudah siap. "Karena dia sudah tahu dan kenal (dengan virus Covid-19)," imbunya. Vaksin nusantara juga diklaim minim reaksi atau efek samping. "Bisa meminimalkan reaksi alergi," kata dia. Sebabnya tidak lain karena vaksin itu diproses dari darah yang diambil dari tubuh penerima vaksin.
Jonny menyebut, total ada 180 orang yang ikut andil dalam uji klinis tahap dua vaksin nusantara. Jumlah itu sudah termasuk rombongan dari DRP yang turut mendukung uji klinis vaksin tersebut. Melalui uji klinis tahap kedua, mereka mencari dosis yang paling optimal untuk memberikan perlindungan kepada penerima vaksin dari serangan Covid-19. "Belum (melihat sampai) efektivitas. Efektivitas nanti di fase tiga," jelas Jonny.
Pada 12 hingga 13 Maret lalu BPOM melakukan Inspeksi ke center uji klinik RSUP Dr. Kariadi dan laboratorium pemeriksaan imunogenisitas Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan, untuk memastikan pelaksanaan seluruh aspek Good Laboratory Practice (GLP), Good Manufacturing Practice (GMP), dan Good Clinical Practice (GCP). Ketua BPOM Penny K Lukito menyampaikan ada beberapa hal yang menjadi catatan.
Pada aspek penuhan GMP, temuan BPOM adalah produk vaksin dendritik tidak dibuat dalam kondisi yang steril. ”Dikatakan pembuatan vaksin secara close system, tetapi pada kenyataannya setelah diminta menjelaskan proses pembuatannya semua dilakukan secara manual dan open system,” ujarnya. Lalu antigen SARS CoV-2 yang digunakan sebagai bahan utama pembuatan vaksin dendritik ini bukan merupakan Pharmaceutical grade. Antigen tersebut penggunaannya hanya untuk riset di laboratorium bukan untuk diberikan kepada manusia.
Temuan lainnya, hasil produk pengolahan sel dendritik yang menjadi vaksin tidak dilakukan pengujian sterilitas dengan benar sebelum diberikan kepada manusia. Yang dikhawatirkan adalah adanya potensi risiko infeksi bakter. Penny juga menyatakan bahwa hasil inspeksi sebelumnya pada Desember tidak pernah ditindaklanjuti untuk dilakukan perbaikan.
Lalu pada aspek pemenuhan GLP, BPOM menilai metode pengujian tidak dilakukan validasi dan standardisasi sebelum pelaksanaan penelitian. Peneliti menyerahkan hasil dengan dua macam pengujian dengan menggunakan alat yang berbeda dan hasil yang berbeda. Padahal hal itu tidak diperbolehkan.
Selain itu, beberapa alat ukur tidak terkaliberasi dan metode pengujian tidak tervalidasi dengan baik. Sehinga akurasi hasil pengujian tidak dapat diterima oleh BPOM.
Sementara itu, Jubir Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito menerangkan bahwa saat ini pemerintah Indonesia tengah berupaya untuk terus mengurangi ketergantungan terhadap vaksin impor dari luar negeri dan mendorong produksi vaksin dalam negeri.
Wiku mengatakan, Indonesia belajar dari embargo yang dilakukan India terhadap vaksin karena kasus Covid-19 melonjak. Saat ini PT Bio Farma akan terus meningkatkan kapasitas produksi vaksin Sinovac mencapai 25 juta dosis.
"Dengan ditingkatkannya kapasitas produksi vaksin ini, kebutuhan vaksin dalam negeri akan tercapai," jelas Wiku.
Pemerintah juga terus mengakselerasi pengembangan vaksin dalam negeri. Secara bersamaan, pemerintah juga terus mendiseminasikan informasi kepada masyarakat, tentang pentingnya vaksin untuk melindungi masyarakat dari terpapar. Dan sejauh ini pemerintah sudah menyuntikkan 13,6 juta dosis vaksin kepada masyarakat Indonesia.
Pemerintah juga terus memastikan bahwa program vaksinasi terus berjalan dengan baik sehingga masyarakat dapat terlindungi. Karenanya pemerintah terus mencukupi kebutuhan vaksin melalui skema kerjasama dengan sejumlah negara di dunia.
Namun demikian, ia menyebut bahwa pemerintah auga membuka peluang bagi pihak swasta untuk berpartisipasi dalam program Vaksin Gotong Royong yang telah ditutup pendaftarannya hingga tahap 2 oleh Kamar Dagang Indonesia (KADIN).
"Antuasias cukup tinggi dari perusahaan-perusahaan yang akan berpartisipasi. Dan Kamar Dagang Indonesia, KADIN yang berencana untuk membuka lagi pendaftaran untuk tahap ketiga," lanjut Wiku.
Pemerintah kini tengah mematangkan persiapan untuk pelaksanaan vaksin Gotong Royong. Sementara para pihak dari perusahaan-perusahaan swasta sudah siap melaksanakannya, dan tengah menunggu kepastian impor vaksin yang dilakukan oleh PT Bio Farma.(syn/far/lyn/tau)
Editor : izak-Indra Zakaria