LONDON– Meski menuai pertentangan setelah dideklarasikan, European Super League (ESL) atau Liga Super Eropa tetap melanjutkan langkah. Ancaman UEFA selaku otoritas yang membawahkan 12 klub pengagas ESL untuk beperkara di meja hijau ternyata siap dilayani. Kemarin (20/4) ESL menyurati UEFA dengan tembusan ke FIFA dalam upaya meminta perlindungan hukum.
”SLCo (Super League Company sebagai badan hukum ESL, Red) telah mengajukan mosi ke pengadilan untuk memastikan pembentukan dan pengoperasian kompetisi yang mulus sesuai dengan hukum yang berlaku,” begitu bunyi surat ESL kepada UEFA dan FIFA seperti dilansir The Wall Street Jurnal.
Meski dianggap sebagai ”liga pelarian”, ESL memang tidak menyalahi aturan secara hukum. Misalnya, yang diungkapkan Mark Orth selaku pengacara yang bergerak di hukum kompetisi olahraga. Menurut Orth, ESL tetap memiliki peluang memenangi pertarungan legal melawan UEFA-FIFA.
Salah satu faktornya adalah semua peserta ESL tergerak dengan hal yang sama. Yaitu, keluar dari monopoli UEFA-FIFA, khususnya menyangkut faktor keuangan.
”Begini gambarannya, jika perusahaan monopoli dibiarkan melarang munculnya persaingan, Anda sama sekali tidak memerlukan undang-undang untuk itu. ESL memiliki prospek sepak bola di masa depan yang cukup menjanjikan,” tuturnya kepada Daily Mail.
Inti munculnya ESL adalah untuk mengatasi permasalahan ekonomi yang semakin parah akibat pandemi Covid-19. Sebagai contoh, utang FC Barcelona yang dilaporkan Forbes pada Januari lalu sudah melebihi EUR 1 miliar (Rp 17,4 triliun). Itu pun penghasilan dari hak siar di Liga Champions masih harus dibagi lagi dengan UEFA.
Orth yang pendiri MEOlaw juga meyakini, peserta ESL tidak akan mendapat sanksi apa pun dari UEFA-FIFA. Sebelumnya, UEFA-FIFA bakal mencekal para pemain yang tampil di ESL dalam ajang mereka. Artinya, bukan hanya Liga Champions maupun Euro, melainkan juga sampai Piala Dunia.
Bahkan, dugaan bahwa klub pengagas ESL bakal didiskualifikasi dari Liga Champions maupun Liga Europa yang musim ini sudah memasuki fase semifinal hanyalah rumor. Ada lima klub ESL yang masih eksis. Masing-masing Real Madrid, Manchester City, dan Chelsea di semifinal Liga Champions. Sementara itu, di semifinal Liga Europa ada Manchester United dan Arsenal.
Yang mungkin menjadi ganjalan ESL adalah pemerintah di negara masing-masing. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson yang menemui perwakilan dari FA (PSSI-nya Inggris), otoritas Premier League, dan beberapa kelompok suporter kemarin menyerukan bahwa ESL tidak akan diizinkan dihelat di Inggris. ”Pemerintah (Inggris, Red) sedang menjajaki setiap kemungkinan, termasuk opsi secara legislatif, untuk memastikan proposal itu (berlangsungnya ESL, Red) dihentikan,” beber Johnson kepada The Athletic. (io/c6/dns)
UNTUNG DAN RUGI ESL
YANG DIUNTUNGKAN
- Pemilik klub
Setiap pemilik klub yang memang sudah berstatus miliarder bakal semakin kaya. Sebab, peserta ESL bakal mendapatkan keuntungan minimal tiga kali lipat dari yang biasanya mereka peroleh bersama UEFA. Apalagi, tidak akan ada pemotongan dana seperti yang dilakukan UEFA jika sebuah tim gagal main di Eropa.
- Pemain bergaji tinggi
Meningkatnya keuntungan klub bakal diimbangi dengan meroketnya gaji para pemain. Mayoritas dari mereka juga tergiur dengan nominal gaji yang ditawarkan. Alhasil, jurang pemisah antara pemain top dan pemain medioker semakin besar karena pemain top akan lebih memilih bergabung ke tim ESL.
- Suporter di belahan dunia lainnya
Peningkatan dari sektor ekonomi bakal diimbangi dengan bertambahnya jangkauan klub ESL mendapat suporter baru di negara-negara lain. Sebab, mayoritas hanya tim ESL yang diperkuat para pemain top.
- Hak siar
Tingkat kompetisi antara pemegang hak siar bakal meningkat karena ESL lebih menyedot perhatian dunia. Hal itu berbanding lurus dengan klub peserta yang bisa mengontrol konten yang akan ditayangkan. Sebab, mereka memegang kartu truf sehingga tidak bisa dikendalikan oleh pemegang hak siar.
YANG DIRUGIKAN
- UEFA
Dana USD 14 miliar (Rp 20,3 triliun) yang digelontorkan UEFA untuk kompetisi mereka hingga 2024 bakal sia-sia. Efek domino lainnya adalah mereka bakal kehilangan pemasukan dari hak siar dan para penggemar dari klub peserta di seluruh dunia.
- Liga, tim, dan pemain lainnya
Jurang pemisah dari segi finansial yang ditimbulkan ESL bisa membuat gereget kompetisi lokal lenyap. Sebab, semua pemain terbaik bakal memprioritaskan ESL.
- Suporter di Eropa
Tidak ada lagi rival domestik membuat mereka bakal mengeluarkan dana ekstra untuk menyaksikan tim kesayangannya saat melakoni laga tandang lintas negara dengan waktu yang lumayan sering.
- Hak siar kompetisi Eropa
Jika ESL bergulir dan klub peserta ESL diusir dari Liga Champions atau Liga Europa, daya saing dan daya jual dua kompetisi itu bakal menurun drastis yang bisa berujung menurunnya pendapatan dari hak siar.
Editor : izak-Indra Zakaria