Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Menyambal Muka Kuyang

izak-Indra Zakaria • Selasa, 1 Juni 2021 - 18:49 WIB
Photo
Photo

Oleh; Inui Nurhikmah

IG; @inui.nurhikmah

 

“Kuyang? Apa itu kuyang?” Rini memiringkan kepalanya.

“Hantu, Mbak. Kalau siang manusia biasa, malam hari kepalanya bisa lepas, terus terbang mencari mangsa.” 

“Jadi, Acil Ijum itu hantu?” 

“Ujar orang….” jawab Acil Bayah setengah berbisik.

“Ah, yang benar...?” 

“Kadada salahnya bahati-hati. Kulihat, akhir-akhir ini pian pina rancak bakisah dengan inya.”  

***

Malamnya, saat duduk berdua dengan Yatno, Rini mengulang cerita tersebut.

“Mas kok ketawa, sih?” protesnya ketika melihat sang suami terkekeh geli.

“Jangan mudah percaya, Dik. Mana ada yang begituan zaman sekarang.”

“Itu ‘kan kata Acil Bayah.” Rini membela diri.

“Ibu yang punya warung sembako di sebelah? Terus, yang dibilang kuyang itu, siapa tadi? Acil Ijum?” tanya Yatno.

“Iya,” sahut Rini, “yang jualan jamu itu, lo.”

“Jangan dijadikan pikiran. Kalau kamu stres, kasihan anak kita.” Yatno membelai perut Rini yang membuncit. 

Namun, Rini tidak bisa begitu saja melupakan cerita Acil Bayah. Dia jadi sering merinding saat terjaga di tengah malam. 

Rini dan Yatno baru tiga bulan pindah ke Samarinda, karena sang suami diterima sebagai guru di sebuah sekolah dasar. Untuk mendekati sekolah tempat Yatno mengajar, mereka mengontrak sebuah rumah di daerah pinggiran kota. Awalnya, Rini merasa tidak masalah tinggal di daerah situ, sampai akhirnya mendengar cerita seram Acil Bayah. 

Acil Bayah mempunyai toko sembako kecil, tempat Rini membeli keperluan sehari-hari.  Untuk mengenal penduduk dan situasi sekitar, Rini suka bertanya-tanya sambil berbelanja.  Hingga suatu hari Acil Bayah bertanya tentang kandungan Rini.

“Sudah usia enam bulan,” jawab Rini sambil mengusap perutnya.

“Anak pertama?” 

“Iya, Cil. Saya sudah menikah empat tahun baru bisa hamil.”

Lalu Acil Bayah menasihati tentang bagaimana menjaga kandungan terkait kebiasaan penduduk Kalimantan, yang kemudian berlanjut pada keharusan waspada jika berjumpa Acil Ijum.

“Tapi saya sering bertemu, karena beliau menawarkan jamu ke rumah,” kata Rini.

“Orang begitu biasanya mengintai pada siang hari. Lihat-lihat lubang angin….”

Sekarang Rini menyimpan duri landak pemberian Acil Bayah di bawah bantal tidurnya, yang konon untuk menangkal makhluk jahat. Yatno membiarkan saja, walaupun sambil tersenyum geli mendengar penjelasan istrinya.

***

Beberapa hari kemudian, ketika Rini sedang memasak di dapur, terdengar seruan, “Jamu! Jamu!”

Jantung Rini langsung berdebar. Dimatikannya api kompor, lalu pergi ke ruang tamu.  Sebelum membuka pintu, dirapalnya doa berulang kali.

Di depan teras, Acil Ijum berdiri memegang sepeda. Satu keranjang berisi banyak botol, diikatkan di boncengan belakang, sementara ember kecil tergantung di setang.

“Jahe kunyit, Mbak?” tanya Acil Ijum.

Rini mengangguk sambil menyorongkan gelas. Matanya tak lepas mengamati Acil Ijum; wajah keriput, pakaian agak lusuh, tangan kurus dengan jari-jari yang panjang. Kuku-kukunya tampak kuning.

***

“Biasanya mata kuyang itu habang, karena kurang guring malam. Di lehernya ada lingkaran seperti bekas luka, sambungan kalau kepalanya lepas.”

“Acil Ijum pakai jilbab, saya enggak bisa lihat lehernya,” terang Rini. “Kalau matanya, emmm… kayaknya iya, merah….”

“Kuyang takut bawang, terutama bawang habang. Coba aja diulekkan parak inya.”

***

Malamnya Rini sulit tidur. Beberapa kali terasa melilit, cepat-cepat dia meraba perutnya, dan ketika menyadari masih gendut, dia menarik napas lega. Pikirannya gelisah, membayangkan cerita Acil Bayah, bahwa kuyang dapat menyedot bayi yang masih dalam kandungan. Rini ingin membangunkan Yatno untuk menemaninya terjaga, tetapi saat dia mendengar napas suaminya yang berat, niatnya terbatalkan.

Sambil memeluk perutnya sendiri, Rini membaca doa tiada henti sampai akhirnya tertidur menjelang subuh.

Paginya, dengan tekat yang bulat, Rini mengupas lima siung bawang merah, lalu diuleknya dengan mantap. Tapi ketika dilihatnya hasilnya tidak terlalu banyak, ditambahnya lagi tiga siung besar, lalu ditambahkannya pula empat siung bawang putih. Kemudian diletakkannya cobek berisi bawang yang lumat itu di meja ruang tamu. Beberapa saat diamatinya, pikirannya berkembang. Dibawanya cobek itu ke dapur, ditambahkannya bubuk merica dan diratakannya. Terakhir, ditaburkannya cabai bubuk, baru hatinya merasa puas.

Pukul sepuluh lewat beberapa menit, terdengar seruan, “Jamu! Jamu!”

Hati Rini langsung berdebar kencang. Dibukanya pintu, tampak Acil Ijum dengan sepedanya di depan teras.

Rini mengambil cobek dan membawanya ke luar.

“Jahe kunyit?”

Rini meletakkan cobek di dekat tiang dan memerhatikan reaksi Acil Ijum.

“Jahe kunyit, Mbak?” Acil Ijum mengulangi.

Rini memerhatikan perempuan di hadapannya. Wajah yang tirus dan keriput, hidung pesek, bibirnya lebar. Dari sela-sela jilbabnya yang buruk, keluar rambut yang beruban.  Tiba-tiba saja Rini mengambil tumpukan sambal di cobek dengan tangannya, dan menempelkan ke wajah itu.  

Acil Ijum yang tidak menyangka, tak sempat mengelak atau menangkis. Wajahnya belepotan sambal. Seketika dia menjerit. Beberapa orang yang lewat di jalan, datang menggerombol. Maka ramailah suasana. Setelah mencuci mukanya dengan air cucian gelas jamu, Acil Ijum mengayuh sepeda, pergi sambil menangis, meninggalkan Rini yang berdiri bengong.

Berselang dua jam kemudian, polisi datang menjemput Rini. Anak lelaki Acil Ijum keberatan dan melaporkan perbuatan itu. Yatno menyusul langsung dari sekolah. Dan kini mereka berempat berkumpul di kantor polisi.

“Saya… saya… takut kalau dia… mengambil anak saya….” Rini menjelaskan terbata-bata ketika ditanya polisi tentang alasan perbuatannya.  

“Anak Ibu yang mana?” tanya lelaki berseragam polisi di hadapan mereka.

“Anak dalam perut saya….” jawab Rini.

“Maksudnya?” tanya polisi lain, yang menghadapi mesin tik.

“Eh… ada yang bilang, dia itu hantu kuyang yang bisa mengambil anak dalam kandungan….”

Maka suasana jadi gaduh. Anak Acil Ijum keberatan atas tuduhan dan perlakuan yang dilakukan Rini. Yatno memohon-mohon untuk dimaafkan.

Akhirnya, dengan pertimbangan bahwa Rini sedang hamil besar dan penduduk pendatang yang kurang paham situasi, dia dibebaskan; tetapi Yatno membayar tiga ratus ribu rupiah kepada Acil Ijum untuk biaya berobat wajah dan matanya yang perih.

***

Sejak itu Rini tidak pernah lagi ditawari jamu oleh Acil Ijum. Sekali Rini melihat perempuan itu lewat depan rumahnya, tapi tidak menoleh sedikit pun, bahkan mengayuh sepeda lebih cepat.

Lalu Rini meminta adik perempuannya dari Jawa datang dan tinggal di rumahnya hingga melahirkan nanti.

Saat kandungannya berusia tujuh bulan satu minggu, Rini merasa perutnya sangat sakit.  Dibangunkannya suaminya karena sudah tak tahan lagi. Yatno mengolesi perut istrinya dengan minyak kayu putih, lalu memijat pinggang, tetapi Rini tetap mengeluh dan merintih.

Selanjutnya Yatno berusaha menghubungi Bidan Asih, petugas puskesmas tempat Rini biasa memeriksakan diri. Namun panggilan telepon Yatno tidak dijawab. Akhirnya Yatno membangunkan Harti, adik Rini, dan menyuruh mengawasi, sementara dia pergi dengan sepeda motor ke rumah Bidan Asih.

Ketika Yatno kembali dengan ditemani sang bidan, didapatinya Rini mengerang-ngerang.  Dan tak lama kemudian, lahirlah anaknya, dalam keadaan sudah tewas.

***

Acil Bayah mulai menutup warungnya ketika mendengar pengajian dari pelantang suara langgar. Saat dia merapatkan daun pintu terakhir, dilihatnya seorang perempuan di seberang jalan. Perempuan itu berdiri sambil menuntun sepeda.

“Ijum? Apa diulahnya di sana sanja-sanja nangkaya ini?” bisiknya kepada diri sendiri.

Perempuan di seberang jalan itu hanya berdiri saja, tidak bergerak. (***/dwi/k8)

Editor : izak-Indra Zakaria
#cerpen #seni budaya