Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Gubernur Optimistis Pandemi Tak Ganggu Rencana IKN

izak-Indra Zakaria • Selasa, 6 Juli 2021 - 19:49 WIB
YAKIN: Gubernur Kaltim Isran Noor dalam Dialog TVRI “Indonesia Bicara” yang dipandu Herdina Suherdi. Optimistis IKN berlanjut.
YAKIN: Gubernur Kaltim Isran Noor dalam Dialog TVRI “Indonesia Bicara” yang dipandu Herdina Suherdi. Optimistis IKN berlanjut.

Pemindahan ibu kota negara akan memberikan banyak keuntungan bagi bangsa Indonesia. Termasuk keseimbangan pembangunan di Jawa dan luar Jawa.

 

JAKARTA – Pandemi Covid-19 yang masih melanda dunia, termasuk Indonesia, membuat banyak pihak pesimistis rencana pemindahan ibu kota negara (IKN) ke Kaltim bisa diwujudkan. Namun, tidak demikian dengan Gubernur Kaltim Isran Noor.

Orang nomor satu di pemerintahan Kaltim itu mengajak masyarakat optimistis dan berpikir positif, bahwa pemindahan IKN akan tetap dilanjutkan Presiden Joko Widodo.

“Pasti ada hikmah yang kita tidak tahu di balik ujian ini. Pasti ada sesuatu. Kalau kita terima dengan ikhlas dan sabar, Allah akan berikan manfaat yang lebih besar, daripada kita kecewa. Jadi jalani saja, tidak terlalu panik, tetap waspada, tetap bekerja untuk mencapai apa yang kita harapkan," seru Isran dalam Dialog TVRI “Indonesia Bicara”, Sabtu (3/7) malam lalu.

Pada prinsipnya, kata Isran, pemprov adalah bagian dari pemerintah pusat. “Jadi kita sami’na wa atho’na, mendengar, taat dan ikuti,” tegas Isran Noor.

Pemindahan ibu kota negara, menurut dia, akan memberikan banyak keuntungan bagi bangsa Indonesia. Selain untuk keseimbangan pembangunan Jawa dan luar Jawa, secara geografis, jika jadi dipindah ke Kaltim, ibu kota negara akan berada tepat di tengah-tengah republik ini.

Isran Noor juga menegaskan bahwa pemindahan ibu kota negara bukan hanya berdampak baik bagi Kaltim, tapi juga bagi Indonesia. Terutama, bagi semua provinsi di Kalimantan dan provinsi tetangga, seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Gorontalo, bahkan hingga Sulawesi Utara.

"Pemindahan ibu kota negara ini sudah sangat lama dipikirkan oleh Presiden Soekarno, sekitar tahun 60-an. Presiden Soeharto juga berencana memindahkan ibu kota negara. Presiden SBY juga, dan sekarang Presiden Jokowi. Sejak 2015 Pak Jokowi bahkan sudah melakukan kajian, dan Kaltim akhirnya yang dipilih," ungkap Isran.

"Ibu kota negara ini milik bangsa Indonesia. Bukan hanya Kaltim. Manfaat ibu kota negara juga akan dirasakan oleh provinsi lain di Indonesia," yakin Isran dalam acara yang dipandu Herdina Suherdi dalam tema "Kesiapan Kaltim Menerapkan PPKM dan Ibu Kota Baru".

Bagi Kaltim, pemindahan IKN akan berdampak sangat positif. Jika saat ini Kaltim masih mengalami kontraksi pertumbuhan hingga minus 2 persen, maka dengan IKN pertumbuhan ekonomi Kaltim diprediksi naik hingga 7 persen. 

"Dalam hitung-hitungan kami, kalau IKN ini jadi dibangun dengan dana pemerintah, swasta, dan KPBU (Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha) akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekitar 7 persen untuk lokal," kata Isran di Studio 4 TVRI di Jakarta.

Bukan hanya Kaltim dan Kalimantan yang akan mengalami peningkatan hingga 7 persen, pembangunan IKN, disebutkan Isran Noor, akan berimplikasi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional antara 3–4 persen.

Pertumbuhan ekonomi 7 persen itu, lanjut Isran, jelas akan sangat berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan 3,7 juta penduduk Kaltim. Pertumbuhan itu akan disebabkan oleh investasi negara dalam pembangunan infrastruktur, baik berupa bangunan perkantoran, waduk, jembatan, maupun jalan. Termasuk pula akan mendorong mobilisasi barang dan jasa ke Kaltim.

Isran menegaskan, Kaltim akan mengikuti semua perencanaan pusat terkait kelanjutan dari rencana pemindahan ibu kota negara tersebut. "Prinsipnya, kami sami'na wa atho'na," tukasnya.

Sebagai informasi, sumber pembiayaan ibu kota negara baru yang dilansir Kementerian Keuangan pada 2019 lalu yaitu Rp 89,4 triliun (19,2 persen) melalui APBN, Rp 253,4 triliun (54,4 persen) melalui KPBU serta Rp 123,2 triliun (26,4 persen) dari pendanaan swasta.

Konsep ibu kota negara baru nanti adalah forest city dan green city. Menyiapkan kukuh bangunan istana negara dan perkantoran pemerintahan yang dikelilingi hutan lestari. Menurut gubernur, ibu kota baru nanti, bukan hanya akan menjadi ibu kota bagi Indonesia, tapi juga ibu kota dunia.

“Di lokasi calon ibu kota ini tidak ada permukiman penduduk. Kecuali di jalur-jalur menuju ibu kota. Kita bisa bayangkan bagaimana ibu kota negara kita nanti ada di tengah-tengah hutan Kaltim yang akan terus kita lestarikan,” tutup Isran. (sul/adv/dwi/k16)

 

 

Editor : izak-Indra Zakaria
#ibu kota negara