Harga tiket pesawat belum melandai walaupun musim libur Lebaran berakhir. Harga avtur yang belum menunjukkan penurunan karena konstelasi politik Rusia dan Ukraina disebut menjadi salah satu penyebabnya.
BALIKPAPAN–Maskapai penerbangan masih menawarkan harga tiket yang relatif mahal. Baik itu, untuk rute domestik maupun rute internasional. Dari pantauan Kaltim Post (7/6)melalui aplikasi pembelian tiket secara daring, penerbangan dari Bandara SAMS Sepinggan, Balikpapan, tujuan Jakarta pada Kamis (9/6) nanti, harga termurah Rp 1,369 juta menggunakan pesawat Batik Air untuk jam keberangkatan 11.30 Wita. Sementara harga tertinggi di hari itu sebesar Rp 2,446 juta dengan pesawat Lion Air pada pukul 07.00 Wita. Namun, penumpang tidak langsung menuju Jakarta, karena harus transit di Semarang.
Sementara itu, masih pada hari yang sama, pada laman resmi citilink.co.id, juga menawarkan harga tiket yang relatif tinggi. Yakni, Rp 1,337 juta untuk penerbangan dari Balikpapan menuju Jakarta. Persoalan masih tingginya harga tiket pesawat turut dibahas dalam rapat kerja Komisi V DPR RI dengan Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, Selasa (7/9). Anggota DPR RI daerah pemilihan (dapil) Kaltim, Irwan meminta agar ada langkah konkret dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk mengevaluasi harga tiket yang saat ini yang naik merata.
Sebelum libur Lebaran beberapa waktu lalu, kenaikan harga tiket pesawat hanya terjadi di beberapa provinsi. Namun sekarang, kenaikan harga tiket sudah merata di seluruh provinsi di Indonesia. Bahkan sampai ke bandara perintis. “Tentu sangat bijaksana kalau ada evaluasi terutama terkait kebijakan tuslah (tambahan pembayaran) yang sudah diambil Kementerian Perhubungan sebelumnya. Tetapi secara dampak dari kebijakan ini, tentang sangat bijaksana kalau dievaluasi. Termasuk juga tarif batas atasnya,” kata politikus Demokrat itu.
Kenaikan harga tiket ini, lanjut Irwan, menjadi beban masyarakat. Apalagi setelah pandemi Covid-19 kini mengarah ke endemi, harga kebutuhan pokok juga ikut terkerek naik. Pria asal Sangkulirang, Kutai Timur, itu kemudian memberikan ilustrasi dampak kenaikan harga tiket pesawat ini. Dia mengatakan, jika masyarakat membeli tiket pesawat dari Kaltim ke Jogjakarta dengan harga sebesar Rp 2,5 juta, dan apabila ingin naik ke Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, dengan harga tiket masuk sebesar Rp 750 ribu, maka biaya yang dikeluarkan pada saat itu Rp 3,25 juta.
“Ini tambah berat masyarakat. Sehingga menurut saya sih, harga tiket ini yang harus menjadi perhatian serius Kementerian Perhubungan. Untuk melakukan pengawasan dan mengambil kebijakan untuk mengendalikan harga tiket yang memang cukup mahal ini,” harapnya. Selain itu, dia berharap ada penambahan armada pesawat dan karyawan di bandara. Sehingga pelayanan di bandara semakin baik. “Mudah-mudahan ini bisa dituntaskan Kementerian Perhubungan,” ungkapnya.
Sementara itu, pengamat penerbangan Alvin Lie menilai, kenaikan harga tiket pesawat terbang akhir-akhir ini dipengaruhi oleh harga avtur yang naik signifikan.
Kenaikan harga bahan bakar pesawat yang diberlakukan Pertamina sejak Maret 2022, dinilainya belum berdampak signifikan pada rute penerbangan domestik.
Terutama rute-rute yang dilayani pesawat jet. Walaupun sejak pertengahan April lalu, pemerintah telah menerbitkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 68 Tahun 2022 tentang Biaya Tambahan (fuel surcharge) Tarif Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.
Kebijakan itu membolehkan maskapai penerbangan nasional, menarik surcharge atau biaya tambahan (tuslah) karena adanya kenaikan harga avtur.
“Sejauh ini, maskapai-maskapai nasional belum menggunakan fasilitas tersebut (tuslah) untuk rute yang dilayani dengan pesawat jet,” kata Alvin kepada Kaltim Post, kemarin. Tetapi, sambung dia, untuk rute yang dilayani pesawat baling-baling, seperti ATR, sudah ada beberapa yang memberlakukan surcharge. Ini disebabkan konsumsi bahan bakar pesawat baling-baling dibandingkan jumlah penumpang yang diangkut rasionya cukup tinggi.
“Biaya angkut per penumpang per kilometernya ini, sekitar 30 persen lebih mahal daripada biaya angkut per penumpang per kilometer yang dilayani pesawat jet. Dengan demikian rute penerbangan yang dilayani dengan pesawat jet saat ini lebih murah. Dan belum memberlakukan surcharge,” katanya. Lanjut dia, yang menarik adalah kenaikan harga tiket yang cukup signifikan pada rute penerbangan internasional. Selain harga avtur yang naik, tingginya harga tiket untuk rute ke luar negeri ini pengaruhi keseimbangan antara supply (pasokan) dan demand (kebutuhan). Ketika kebutuhan banyak, namun pasokan ketersediaan kursi yang sedikit untuk penerbangan ke luar negeri, maka akan berdampak pada melonjaknya harga tiket. Apalagi pada bulan Juni ini adalah peak season, disebabkan memasuki masa libur sekolah.
“Tanpa ada kenaikan harga avtur pun, ketika liburan sekolah harga tiket itu selalu mahal. Kita lihat pada pra pandemi. Karena selama pandemi tidak normal, sehingga sekarang ini harganya memang tidak masuk akal,” ungkapnya.
Karena itu, Alvin menyarankan masyarakat yang ingin menikmati masa libur sekolah nanti, untuk liburan di dalam negeri saja. “Sementara lupakanlah dulu liburan ke luar negeri. Apakah ini berlanjut ke depan? Saya yakin di bulan Juli, setelah liburan sekolah berakhir, harga tiket juga akan kembali turun,” ungkapnya. Menurut dia, ketika maskapai penerbangan mengoperasikan lebih banyak penerbangan ke luar negeri, otomatis harga tiket akan turun.
“Sejauh nilai tukar rupiah ini stabil dan juga harga avtur tidak naik lagi. Kalau naik lagi, itu lain lagu ceritanya. Syukur-syukur, kondisi krusial di Ukraina dan Rusia, eskalasinya menurun. Dan mereka segera mengakhiri konflik, sehingga harga avtur bisa turun lagi. Dan harga tiket pesawat akan lebih murah,” terangnya. Alvin mengemukakan, walaupun pemerintah sudah memberikan ruang untuk memberlakukan surcharge terhadap harga tiket, namun hingga hari ini, sejauh pengamatannya, belum ada maskapai penerbangan nasional yang memberlakukan surcharge. Semuanya masih menerapkan harga tiket pada taraf normal. Kalaupun tertingginya pada tarif batas atas.
“Kalau pesawat baling-baling, sebagian sudah melakukan. Karena biaya operasional pesawat baling baling lebih mahal jika dihitung per penumpang per kilometernya. Dibanding pesawat jet. Sehingga jika ada yang mengeluh kok mahal, tidak bisa dibandingkan dengan harga pada saat pandemi. Karena itu bukan kondisi normal. Tapi pada saat kondisi ini, yang menuju normal, semua maskapai penerbangan masih menjual dengan harga dalam batas yang diatur oleh pemerintah. Tidak ada yang melanggar, terutama pesawat jet,” pungkasnya. (riz/k8)
Rikip Agustani
ikkifarikikki@gmail.com
Editor : izak-Indra Zakaria