FOTO SYAFRIL TEHA NOER
BERBAGI CERITA: Dari kanan, Putu Fajar Arcana, Joko Pinurbo, Triyanto Triwikromo, dan Sunaryo Broto menjadi pemateri dalam diskusi sastra di Sintuk Golf Bontang.
==foto buat sambungan
Ada diskusi sastra di salah satu fasilitas Sintuk Golf Bontang. Pesertanya anggota Club Buku PKT dan pelukis-penyair yang ambil bagian dalam PKT Menyapa Budaya (PMB). Pemantiknya Joko Pinurbo, Putu Fajar Arcana, dan Triyanto Triwikromo. Bagaimanakah hubungan perusahaan pupuk itu dengan aktivitas seni-budaya dari waktu ke waktu?
SUNARYO BROTO, Bontang
RAHMAD Pribadi, direktur utama PKT, berkata, industri bukanlah sekadar kegiatan fisik pabrik. Industri adalah juga inovasi karyawan yang berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya. Semua itu berkenaan dengan kebudayaan. Lalu, lewat kolaborasi dengan Butet Kartaredjasa, lahirlah program PKT Menyapa Budaya (PMB), sebuah rangkaian kegiatan yang berujung Desember; berwujud pameran lukisan dan antologi puisi.
Para direktur utama pendahulu Rahmad berpandangan senada. Sederet daftar kegiatan PKT di bidang seni budaya yang terbentang sejak 1988 menegaskan hal itu.
PKT adalah satu dari lima produsen pupuk yang tergabung dalam holding company, PT Pupuk Indonesia. Didirikan 7 Desember 1977 di atas lahan seluas 493 hektare bahan baku utama produksinya adalah gas alam yang dialirkan dari sumbernya di Muara Badak, sekitar 60 kilometer dari lokasi pabrik.
Sekarang PKT memiliki lima pabrik urea dan amoniak serta dua pabrik NPK. Dengan kapasitas 3,44 juta ton pupuk urea, 2,7 juta ton amoniak dan 350.000 ton pupuk NPK per tahun. Produk pupuk didistribusikan ke 2/3 wilayah Indonesia terutama Indonesia Timur demi ketahanan pangan nasional.
Segala infrastruktur pabrik antara lain gudang, pelabuhan, storage tersedia di areal itu dan kompleks perkantoran. Di samping Pupuk Kaltim ada juga pabrik lain di Kawasan Kaltim Industrial Estate seluas 230 hektare yang terdiri dari pabrik melamin OKM, pabrik methanol KMI (Kaltim Methanol Industri), pabrik amonium nitrat KNI (Kaltim Nitrat Indonesia) dan black bear, pabrik amoniak KPI (Kaltim Parna Industri), dan lain-lain.
Di kawasan PKT ada kompleks perumahan dengan 300-an rumah dan kompleks perumahan milik karyawan program KPR BTN yang lebih 1.000 unit. Lengkap dengan fasilitas sosial seperti sekolah, sarana ibadah, berbagai sarana olahraga tenis, renang, golf, sepak bola, futsal, tenis lapangan, bulu tangkis, basket, soft ball, dan menembak.
Ada pula klub olahraga Akademi Sepakbola Pelangi Mandau, Persatuan Tenis Meja, Sintuk Tenis Club, Klub Renang Pesut, panahan, bulu tangkis, golf, silat, dan lain-lain.
Persinggungannya dengan seni-budaya bermula pada 1988. Saat itu, PKT mengundang koreografer dan Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Sardono W Kusumo, untuk mementaskan tari bertajuk Hutan yang Merintih.
Pentas itu melibatkan penari asli Dayak dan seniman dari Tenggarong. Sardono tidak hanya membaca literatur namun datang dan menjiwai langsung budaya suku Dayak Apokayan berbulan-bulan sebelum mengangkatnya ke atas panggung pertunjukan.
Namun, di antara kegiatan yang gema pengaruhnya terasa hingga sekarang adalah Sendratari Bontang Gugah di Monumen Pengabdian, tahun 1990. Karya maestro tari Bagong Kussudihardjo itu adalah hasil kolaborasi. Ide cerita dari direksi dan Bagong, penulis narasinya Butet Kartaredjasa dan Indra Tranggono, penata musiknya Otok Bima Sidarta.
Bontang Gugah didukung oleh karyawan dan keluarga PKT, siswa dan guru YPK, Karang Taruna Bontang, Paduan Suara PKT, Kerawitan Jawa PKT, Marching Band PKT, Kesenian Sunda PKT, Reog Ponorogo Bontang, dan LPKK Tenggarong.
Pada leaflet penunjang pementasan itu tertulis; Empat puluh lima tahun sudah kemerdekaan bangsa tersimpan di genggaman, kita bersama-sama berpaling ke suatu bakti, tentang hasrat membangun negeri. Dalam usia paling keramat kita becermin dengan kata sepakat: adakah sumbangsih dan cucuran keringat bermakna bagi-bagi keperkasaan negara, adakah darma telah tergores dalam bentangan sejarah bangsa?
Bontang Gugah belakangan terbukti memang menggugah. Jiwa seni karyawan menjadi bergelora. Sangat mungkin karena interaksi karyawan PKT dengan aktivitas latihan yang berlangsung tiga bulan. Dan Bagong tidak hanya membuat tarian, melainkan juga lukisan, sketsa-sketsa.
Setelah itu ada pameran lukisan Amri Yahya dan Pelukis Sanggar Arti dari Malang yang dikoordinasi karyawan. Lalu pentas Anoman Obong (1991). Ada pula event Bali Night, Sunda Night, Jawa Night, dan Kalimantan Night yang diadakan karyawan. Juga, studio keramik dengan mengundang seniman alumnus seni rupa Institut Teknologi Bandung (ITB). Para personel teater Gandrik juga pentas di Bontang.
Budayawan Emha Ainun Nadjib membaca puisi di Gedung Koperasi tahun 1992 di hadapan karyawan dan masyarakat sekitar. Berikutnya pentas musik Leo Kristi dalam rangka Hari Lingkungan Hidup (Mei 2001), serta teater minikata, Rambate Rate Rata, oleh Bengkel Teater Rendra (November 2001), hasil kolaborasi PKT dengan Harian Kaltim Post.
Begitulah kegiatan-kegiatan itu bersambung ke tahun-tahun berikutnya di hampir semua cabang kesenian; Pameran Lukisan Selaras Cita Indonesia (2008) yang menampilkan karya-karya karyawan dan pelukis Bontang; Diskusi literasi bersama cerpenis Hamsad Rangkuti (2009); Film 12 Menit Untuk Selamanya–tentang kiprah marching band yang menjuarai 11 kali Grand Prix Marching Band tingkat nasional (2012).
Hampir tiap tahun ada pergelaran wayang kulit di lingkungan PKT. Dari Ki Anom Suroto sampai almarhum Ki Seno Nugroho. Juga, pentas-pentas grup musik, dari generasi God Bless sampai Gigi, Letto, dan generasi setelahnya, Ungu. Dari lawak Bagito, Basuki Mandra sampai Topan Lesus.
Pada 23 Oktober 2018, dalam rangka HUT ke-41 Pupuk Kaltim dan Bulan Bahasa, di PKT berlangsung sharing session novelis 32 buku yang juga akuntan, Tere Liye–yang juga menjadi narasumber workshop menulis dengan peserta siswa SMP-SMA se-Bontang. Untuk Bulan Bahasa 2019, PKT menghadirkan novelis Negeri 5 Menara, Ahmad Fuadi, ber-workshop bersama 400-an siswa dan guru se-Bontang.
PKT sering menggelar lomba menulis. Biasanya dalam rangka perayaan ulang tahun. Tahun 2020, misalnya, dengan tema Peran PKT dalam Mendorong Pariwisata dan Budaya Bontang. Hasil seleksi lomba tersebut diterbitkan menjadi buku dengan judul PKT, Pariwisata, dan Budaya Kota Bontang. Ada pula lomba menulis pengalaman karyawan menghadapi Covid-19. Hasilnya, buku kumpulan esai berjudul Mencari Solusi di Tengah Pandemi.
Setahun lalu dibuka galeri lukisan koleksi komisaris PKT, Sunardi Rinakit, yang menyimpan karya-karya Willem Van Der Does, Arie Smith, S Sudjojono, Affandi, Widayat, Adam Lay, Wakidi, Tatang Ganar, Jeihan, sampai Nasirun, Komang Agus Darma, dan Bob Sick.
Khusus bagi Butet, hubungan dengan Bontang atau PKT dengan begini praktis terbilang tua, mengingat perannya di Bontang Gugah karya sang ayah, 30 tahunan silam. Baru tiga bulan lalu pula dia menampilkan serial Indonesia Kita episode ke-35, Tabib Suci, di GOR PKT, bersama Agus Noor, Susilo Nugroho, Cak Lonthong, Marwoto, Musle, Inayah Wahid, Sruti Respati, Yu Ningsih, dan Akbar. (***/rom/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria