SENDAWAR–Penyakit malaria jadi momok menakutkan bagi warga Kutai Barat (Kubar). Sejumlah kawasan berpotensi terserang penyakit tersebut. Terutama bagi karyawan perusahaan yang lebih banyak beraktivitas di dalam hutan atau areal tambang.
Data Dinas Kesehatan sebanyak 18 kasus malaria di Kampung Dilang Puti, Kecamatan Bentian Besar, pada 2021. Jumlah kasus ini diklaim telah terjadi peningkatan kasus malaria. Meski terjadi penurunan selama 2020 dan 2021 hanya 78 kasus dan lebih banyak 2019 tercatat 168 kasus.
Wabup Kubar Edyanto Arkan meminta perusahaan-perusahaan memerhatikan Kesehatan karyawannya dan kebersihan lingkungan perusahaannya. “Jangan sampai kasus-kasus yang terjadi di perusahaan ini membesar, karena ini akan menurunkan produktivitas perusahaan tersebut,” tegas Wabup.
Apabila diperlukan tambahan obat-obatan, vitamin-vitamin segera dikonsultasikan dengan pusat pelayanan kesehatan terdekat. Mari bersama-sama membangun sinergi apakah itu sistem kerja maupun jadwal kerjanya dan peran serta bersama di dalam mengeliminasi kemungkinan malaria ini lebih meluas ke tempat-tempat lain.
Tak hanya perusahaan, Wabup meminta, puskesmas sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat agar dapat menjalankan tiga fungsinya dengan baik. Tidak saja sebagai tempat pelayanan kesehatan, surveilans melainkan juga harus mampu sebagai penyuluh kepada masyarakat.
Sehingga penanganan malaria di tiap wilayah kerja puskesmas dapat terlaksanakan secara maksimal. Dalam penanganan malaria, tidak hanya menjadi tugas sektor kesehatan, melainkan kerja sama lintas sektor untuk mencapai tujuan tersebut dengan koordinasi dan pemahaman yang sama dari semua sebagai pemangku kebijakan.
Hal itu sebagai upaya mewujudkan Kubar bebas malaria pada 2026 mendatang. “Ini harus dikerjakan secara serius,” ujarnya. (kri/k8)
HARTONO
hartono.kubar@yahoo.com
Editor : izak-Indra Zakaria