Oleh: AA Bagus Surya Atmaja Susastra
Guru SMP 38 Samarinda
Kalimat mendidik dan melatih budi pekerti dalam mata pelajaran matematika tampaknya tidak mungkin dilakukan. Namun ada prinsip, bila ada keinginan pasti ada jalan, merupakan hal yang relevan. Mengapa demikian? Karena sudah saatnya budi pekerti kembali menjadi hal yang utama bagi siswa.
Mata pelajaran matematika sekarang bukan hanya pembelajaran dalam bentuk teori. Bila hanya teori tampaknya ini sangat mudah didapatkan siswa. Hampir setiap siswa sekarang memiliki gawai yang dapat mendukung diterimanya informasi atau materi-materi pelajaran tanpa harus dengan kehadiran guru. Lalu, di manakah letak pentingnya kehadiran guru?
Sebagai pendidik kita bisa memberi pengaruh yang untuk mengubah budi pekerti siswa. Di sekolah, pendidik membantu siswa menemukan kembali keinginan berperilaku baik dengan mengolah pikiran, rasa, dan karsa. Saat inilah peran guru sangat penting dan tidak tergantikan oleh teknologi.
Seorang guru matematika merupakan perpaduan yang “indah” untuk menjadi panutan dalam mengasah budi pekerti siswa. Saat belajar matematika, siswa dilatih mendayagunakan kecerdasan kognitifnya sekaligus berkolaborasi dengan keinginan (rasa) bertindak (psikomotorik) untuk menghasilkan sesuatu yang berdaya guna bagi dirinya, keluarga, dan masyarakat.
Budi pekerti atau yang disebut watak, diartikan sebagai bulatnya jiwa manusia yang merupakan hasil dari bersatunya gerak pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan. Sehingga menimbulkan tenaga. Atau juga dapat dimaknai sebagai perpaduan antara cipta (kognitif) dan rasa (afektif) sehingga menghasilkan karsa (psikomotorik).
Dengan budi pekerti yang baik, siswa sudah mendapatkan “paket komplet” kemampuan mengoordinasi kognitif dengan afektif untuk menghasilkan psikomotorik yang andal dan berwibawa. Sebagai pendidik, mendidik budi pekerti sekarang ini merupakan suatu keharusan bagi siswa. Terlebih pada zaman sekarang, saat informasi dan teknologi yang masuk dan berkembang sangat cepat.
Menanamkan kembali “rasa” tidak nyaman bila berperilaku tidak jujur atau tidak sesuai norma di sekolah sangat diperlukan. Kita sebagai pendidik di sekolah turut berperan membantu murid “menemukan” kecerdasan budi pekerti dengan tuntunan dan teladan yang sesuai kebutuhan. Bila siswa memiliki kecerdasan budi pekerti, akan senantiasa memikirkan, merasakan, dan mempertimbangkan setiap perilaku yang ditampilkannya.
Sebagai guru matematika, kita dapat menciptakan kondisi belajar yang memungkinkan siswa mengasah dan melatih budi pekerti. Bekerja sama dalam tim atau kelompok belajar dengan keanekaragaman kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan matematika merupakan cara melatih siswa untuk berbudi pekerti.
Bagaimana mereka menyampaikan pendapat di dalam kelompok secara santun, beradab, dan tetap menghargai pendapat yang lain. Bagaimana mereka menerima penyelesaian permasalahan matematika dengan cara yang berbeda. Bagaimana dengan “anggunnya” siswa menyampaikan presentasi hasil diskusi kelompok mereka dengan tidak memandang rendah kelompok lain. Hal itu semua merupakan cara menanamkan prinsip budi pekerti dalam matematika.
Pelajaran matematika merupakan pelajaran yang penuh inspirasi. Sebagai pendidik, jangan sekali-sekali segan menanamkan prinsip budi pekerti di tengah pembelajaran. Sebab, matematika akan mereka bawa dalam kehidupan selanjutnya, baik dalam dunia perdagangan, kesehatan, dan lain-lain.
Jadi tidak dapat dimungkiri, mungkin sekarang dapat dipastikan kecenderungan kecerdasan kognitiflah yang sedang digaungkan. Siswa hebat adalah siswa berprestasi akademik di sekolahnya, atau siswa yang hebat adalah siswa yang selalu memenangkan lomba-lomba yang mengedepankan kemampuan kognitif. Hal itu bukanlah hal yang menurut saya salah, hanya “latah” dalam pemahaman.
Mengapa demikian? Kita terkadang membanding-bandingkan siswa berdasarkan ranking atau peringkat di sekolahnya. Sebagai pendidik kita dengan serta-merta membandingkan anak didik berdasarkan kemampuan kognitifnya.
Namun terkadang kita sebagai pendidik lupa, bahwa siswa kita nantinya kembali hidup di dalam masyarakat. Masyarakatlah yang akan meletakkan siswa sesuai dengan kehadiran norma yang berlaku. Bila baik budi pekertinya, maka baik pula penerimaan masyarakat.
Pendidikan budi pekerti perlu kita bangkitkan lagi, kita canangkan lagi, dan kita gaungkan lagi di sekolah. Mengapa demikian? Sebagai pendidik, kita perlu memfasilitasi siswa akan kebutuhan tuntunan yang nantinya dapat menumbuhkan budi pekerti dalam kehidupannya.
Keluarga dan masyarakat merupakan tempat kembalinya siswa-siswa kita dalam menjalankan kehidupannya. Namun, apakah kita sebagai pendidik telah memerhatikan tumbuhnya kecerdasan budi pekerti siswa dalam proses belajarnya?
Bila sebagai pendidik kita sudah melakukan hal itu, kita sudah memfasilitasi siswa untuk menaikkan level kemampuan kognitif mereka lebih tinggi, di mana rasa dan karsa ikut serta dalam kehidupannya. (dwi/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria