KERUSUHAN di Stadion Kanjuruhan, Malang mengundang keprihatinan. Mitigasi pencegahan dan penanganan kerusuhan diduga tidak dijalankan oleh panitia pelaksana (panpel), PT LIB selaku operator liga, maupun aparat keamanan. Salah satu yang memicu pertanyaan publik adalah penembakan gas air mata ke kerumunan orang di tribun yang berujung jatuhnya ratusan korban jiwa. Kepulan gas air mata seketika membuat suporter meninggalkan tribun dengan saling impit-impitan, terinjak-injak, serta sesak napas.
Di antara mereka yang panik menyelamatkan diri itu, terdapat kelompok rentan. Seperti anak-anak, lanjut usia, dan perempuan. Bahaya gas air mata membuat mereka sangat terancam, sehingga menimbulkan kepanikan. Diterangkan Marwan, dokter spesialis paru RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda, sebelum 1950, senyawa gas air mata yang dipakai yakni chloroacetophenone atau gas CN. Namun, yang saat ini yang paling banyak dipakai adalah chlorobenzyl malononitrile atau gas CS. Gas CN justru menimbulkan efek lebih parah. Pada dasarnya gas air mata tidak berbentuk gas. Terdiri dari bahan kimia padat atau cair, umumnya berbentuk semprotan atau bubuk.
Ketika ditembakkan, partikel-partikel solid akan tersebar di udara dalam bentuk kepulan asap. Bereaksi terhadap kelembapan yang menyebabkan rasa sakit dan iritasi. Oleh sebab itu, paling banyak mengiritasi selaput lendir di mata, hidung, mulut, hingga paru-paru. “Di kita ada namanya trauma inhalasi, berdasarkan sifatnya ada tiga, pertama itu menyebabkan iritasi. Kedua asfiksia, artinya mengganggu distribusi oksigen ke tubuh. Dan berikutnya bersifat toksik sistemik, merusak sistem pernapasan. Dan gas air itu bersifat iritan atau iritasi,” jelas Marwan.
Dijelaskan, paparan gas tak hanya berefek pada saluran pernapasan, tapi juga mata dan kulit. Seperti iritasi pada kulit, ditandai dengan kemerahan dan rasa gatal. Lalu pada mata hingga terasa pedih dan mengeluarkan air mata. “Di saluran pernapasan tergantung dosis yang terhirup, paling ringan bisa batuk sampai sesak napas. Di kerongkongan seperti tersedak, banyak mengeluarkan air liur. Bahkan ke saluran pencernaan juga bisa sampai mual, muntah, dan diare,” jelas pulmonologist yang juga mengajar di Fakultas Kedokteran (FK) Unmul itu. Semakin lama terpapar, sesak napas akan semakin parah. Sehingga tubuh kekurangan oksigen. Akibatnya, suplai oksigen dari paru ke otak terhambat dan berakibat pada tak sadarkan diri atau pingsan.
Pada kondisi itulah, yang kemungkinan terjadi pada tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang. “Kita tidak tahu pasti, tapi ketika dia terhirup banyak gas air mata kemudian pingsan. Lalu terbentur atau terinjak-injak karena berdesakan sehingga meninggal dunia. Kita belum tahu persis,” ujar Marwan. Semakin lama seseorang terpapar, kerusakan saluran napas akan bertambah. “Terutama saluran napas bagian atas. Kita turut berdukacita dengan kejadian itu. Kita tidak tahu juga berapa (gas air mata) yang dilepaskan,” jelas Sekretaris Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Kaltimtara itu. Oleh sebab itu, pada kasus yang terkena gas air mata dalam jangka waktu lama apalagi konsentrat paparan tinggi, diperlukan tata laksana khusus.
Diungkapkan Marwan, dalam waktu 4–12 jam terus diawasi dan dilihat apakah ada gejala lain yang timbul. “Misal tambah sesak atau sel-sel di organ paru yang terimbas. Setelah 12 jam dievaluasi lagi, lalu 24–48 jam apakah ada perburukan. Bagi mereka yang memiliki riwayat gangguan pernapasan, efeknya bisa lebih parah,” ujarnya. Penanganan paling utama adalah segera evakuasi. Jauhkan dari paparan gas dan segera mendapat oksigen atau udara segar. Lalu bersihkan area wajah dengan handuk lembap. “Jadi untuk membersihkan sisa-sisa partikel. Lalu diguyur dengan NaCl (cairan infus). Setelah itu baru digosok selama 10-20 menit. Kalau sesak napas, bantu dengan oksigen. Penanganan sesuai dengan keluhan. Jangan sampai mengucek mata, akan menambah perburukan,” lanjut Marwan. Pada beberapa kasus, seperti mahasiswa yang melakukan demo tak jarang ditemui mereka mengoleskan pasta gigi di area bawah mata. Menurut Marwan, hal itu kurang berpengaruh. “Justru penggunaan kacamata dan masker yang bisa mengurangi paparan gas itu,” kata dia.
Aksi Solidaritas untuk Kanjuruhan
Sementara itu, tadi malam (3/10), bertempat di pelataran Graha KNPI Balikpapan, suporter klub bola se-Indonesia menggelar aksi solidaritas tragedi Stadion Kanjuruhan. Lagu Aremania yang kerap dilantunkan saat Arema FC berlaga di lapangan, mengiringi aksi semalam. Ikrar dan tuntutan pun dilayangkan. Dalam tuntutan tersebut, mereka meminta presiden mengusut tuntas kasus di Stadion Kanjuruhan, kemudian meminta PSSI bertanggung jawab penuh, mengutuk penggunaan gas air mata di dalam stadion, dan aksi kekerasan lainnya. Ikrar tersebut ditandatangani semua elemen suporter di Balikpapan dan dibawa ke Polresta Balikpapan sesudah aksi.
Ketua Balistik Ade Setiawan mengatakan, aksi ini dilakukan sebagai bentuk persaudaraan antarsuporter. “Rivalitas sejatinya hanya terjadi 90 menit, setelah itu kita bersaudara. Kami berdoa, agar korban yang telah meninggal bisa diterima di sisi Allah SWT. Duka yang dirasakan warga Malang, menjadi duka kami semua, khususnya di Balikpapan,” sebutnya. Ia juga menuntut, agar kasus tersebut diusut tuntas. Pasalnya, nyawa manusia tidak bisa dibayar dengan uang. Awan, sapaannya, menambahkan, penembakan gas air mata tidak diperbolehkan di dalam tribune. Padahal, kata dia, di dalam stadion banyak masyarakat membawa keluarga, termasuk anak dan istri. “Makanya sangat disayangkan ada penembakan gas air mata ada di dalam stadion,” sebutnya.
Sementara itu, Aremania Balikpapan, Juned mengapresiasi aksi solidaritas yang digelar. Dia berharap tragedi di Stadion Kanjuruhan tidak lagi terjadi untuk kedua kalinya. Selain itu, ia meminta pihak federasi untuk bertanggung jawab. “Kekerasan di dalam stadion tidak dibenarkan. Karena stadion ajang hiburan, termasuk bagi para keluarga,” ujarnya. Perwakilan Bonek Balikpapan juga mengucapkan turut berdukacita untuk korban meninggal dunia. Mereka berpesan, di setiap pertandingan apabila kalah, besok masih bisa berusaha untuk menang. Mementingkan nyawa di atas segalanya. Karena kalau nyawa menghilang hari ini, besok tidak bisa dicari. Dari Samarinda, Ketua DPRD Kaltim Hasanuddin Mas’ud mengatakan, secara pribadi dan mewakili DPRD Kaltim, menyampaikan dukacita mendalam untuk keluarga korban tragedi Stadion Kanjuruhan.
“Tragedi Kanjuruhan adalah tragedi kita semua. Tak ada satu pun olahraga yang lebih berharga dari nyawa. Perlu menjadi perhatian dan evaluasi bagi seluruh pihak yang terkait agar kejadian serupa tidak terjadi lagi. Tragedi Kanjuruhan harus menjadi pelajaran berharga,” katanya. Dia berharap tragedi serupa tak terulang. Perencanaan, pengelolaan dan pengawasan seluruh kegiatan harus dilaksanakan secara terintegrasi dengan memikirkan segala kemungkinan yang dapat terjadi.
Terpisah, Kapolresta Samarinda Kombes Pol Ary Fadli mengatakan, pada prinsipnya, pihaknya terus melakukan evaluasi-evaluasi di setiap rangkaian pengamanan sepak bola, khususnya di Kota Samarinda. “Jadi begitu pengamanan selesai kami langsung evaluasi. Karena setiap pertandingan pasti punya kerawanan yang berbeda. Oleh karena itu, kami (polisi) selalu berkoordinasi dengan Panpel (Borneo FC) maupun stakeholder terkait. Agar bagaimana menyiapkan suatu pola pengamanan yang baik. Baik untuk suporter, pemain, dan panitia," ungkapnya. (riz/k16)
OKTAVIA MEGARIA
oktaamegaa@gmail.com
RADEN RORO MIRA
@rdnrrmr
ASEP SAIFI ARIFIAN
@asepsaifi
Editor : izak-Indra Zakaria