JAKARTA–Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan publikasi Global Burden of Disease (GBD) 2019 di Jakarta, (12/1). Salah satu poin di dalam publikasi tersebut adalah indikator angka harapan hidup. Catatan positifnya adalah angka harapan hidup untuk laki-laki dan perempuan mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
Publikasi GDB itu dikerjakan keroyokan sejumlah lembaga. Selain BRIN, ada International Health Metric and Evaluation (IHME), Bappenas, Badan Pusat Statistik (BPS), dan sejumlah perguruan tinggi. Data itu dirangkum dari rentang tahun 1990 hingga 2019. ’’Dari analisis ini, kita mendapatkan seperangkat data yang dapat dibandingkan dari 34 provinsi,’’ kata Kepala Pusat Riset Kesehatan masyarakat dan Gizi, Organisasi Riset Kesehatan BRIN Wahyu Pudji Nugraheni di Jakarta kemarin (12/1).
Dia mengatakan, data tersebut bermanfaat untuk membantu pengembangan kebijakan dan program guna memantau kemajuan.
Wahyu mengatakan di dalam analisis GBD tersebut ada empat poin utama yang diungkap. Salah satunya adalah angka harapan hidup laki-laki dan perempuan yang meningkat di seluruh Indonesia. ’’Untuk laki-laki terdapat peningkatan (angka harapan hidup) dari usia 62,5 tahun menjadi 69,4 tahun,’’ katanya. Itu artinya terjadi peningkatan atau perubahan positif angka harapan hidup sebesar 6,9 tahun.
Sementara itu, untuk kelompok perempuan, mengalami peningkatan usia harapan yang lebih tinggi. Yaitu mencapai 7,8 tahun. Dari sebelumnya 65,7 tahun menjadi 73,5 tahun. Wahyu mengatakan ketika angka harapan hidup tersebut dikupas lebih detail, Bali menjadi provinsi dengan harapan hidup tertinggi yaitu 75,4 tahun. Sebaliknya Provinsi Papua menjadi yang paling rendah dengan angka 65,2 tahun.
Indikator lainnya yang muncul dalam analisis tersebut adalah malnutrisi pada anak dan ibu merupakan faktor risiko utama angka harapan hidup di tiga provinsi. Yaitu di Kalimantan Utara, Gorontalo, dan Papua. Wahyu mengatakan, data hasil analisis GBD memberikan gambaran komprehensif tentang kondisi kesehatan di Indonesia. Tepatnya sesaat sebelum pandemi Covid-19 melanda. Lebih lanjut Wahyu mengatakan, hasil analisis di GBD nantinya dapat digunakan untuk menilai kinerja sistem kesehatan.
’’Selanjutnya literasi studi GBD perlu dibuat sampai dengan tingkat kabupaten dan kota,’’ tuturnya. Sehingga perencanaan dan kebijakan kesehatan bisa disusun lebih spesifik. Dia berharap studi epidemiologi di dalam GBD dapat meningkatkan derajat kesehatan serta mengurangi beban penyakit di masyarakat. (wan/jpg/riz/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria