Teluk Balikpapan bukan hanya rumah bagi biota laut dan muara. Teluk ini juga sumber mata pencarian bagi warga sekitar. Kini kerusakan lingkungan tidak bisa terhindarkan.
TIGA dekade lalu, nelayan menjadi pekerjaan yang masih menjanjikan. Bagi mereka yang tinggal di kawasan pesisir, melaut jauh lebih baik dibanding bekerja di kantor. Mudah mencari hasil tangkapan laut dan pendapatan lumayan menggiurkan. Zaman kini masa kejayaan telah sirna. Nelayan kesulitan mencari tangkapan.
Teluk Balikpapan yang menjadi andalan mengadu nasib kian rusak. Dampaknya luas ke segala penjuru. Terutama biota laut yang hidup memanfaatkan ekosistem dari Teluk Balikpapan. Mereka terganggu dari pembukaan lahan hingga meningkatnya aktivitas kapal di sana. Imbasnya nelayan tak lagi mudah mencari hasil laut.
Salah satunya dialami Mansur, nelayan asal Jenebora, Penajam Paser Utara. Sejak bujang sudah turun melaut, setidaknya lebih 20 tahun. Mansur sadar sekali, pekerjaannya bergantung dengan keberlangsungan hidup di Teluk Balikpapan. Setiap kali ada pembukaan lahan, kegelisahan seketika ada di benaknya.
Kepada Kaltim Post, pria usia 40-an itu bercerita pedih menjadi nelayan pada zaman sekarang. Terutama dia rasakan semenjak ramai pembangunan kawasan industri. Dulu baginya mudah mendapat ikan, udang, sampai kepiting. “Tapi tidak ada perusahaan atau industri,” ucapnya. Kondisi Teluk Balikpapan benar-benar terjaga.
Sementara kini, perusahaan bermunculan seperti dalam Kawasan Industri Buluminung. Dekat dengan Sungai Riko sebagai batas wilayah lautnya, salah satu lokasi Mansur biasa mencari tangkapan. Masalahnya, tempat dermaga atau pelabuhan perusahaan ini sesungguhnya area karang.
“Sementara ikan selama ini bersarang di sana. Karang ibarat rumah bagi ikan. Kami mencari terumbu karang pasti ada ikan,” katanya. Tentu nelayan juga tidak boleh terlalu dekat dengan kawasan perusahaan. Sehingga adu mulut dengan petugas keamanan perusahaan kadang tak bisa terhindarkan.
Alasan tak boleh ada aktivitas radius 500 meter dari perusahaan. “Kami tidak paham apa karena mereka pernah kehilangan dan ketat menjaga area tersebut,” sebutnya. Bahkan pernah terjadi nelayan mendekat ke perusahaan dituduh mencuri besi. Padahal, ukuran besi sangat besar dan tidak mungkin muat di kapal nelayan.
Akhirnya perusahaan semakin ketat dan tidak ramah dengan nelayan. Sementara itu, beberapa titik perusahaan memiliki terumbu karang dan padang lamun. “Sebelum ada perusahaan ini, ada tandanya kelihatan di air kawanan ikan berputar loncat-loncat di air,” kenangnya.
Mansur menyaksikan Teluk Balikpapan terus mengalami pembukaan lahan dengan berbagai jenis kegiatan di sana. Baik dari industri hingga pembangunan dermaga. “Saat ada pemancangan tiang, getaran sangat kuat dan ikan menjauh,” sebutnya. Selain dengan perusahaan, ayah tiga anak ini harus menghadapi masalah kompleks lainnya.
Dia hanya bermodalkan kapal 26 PK, panjang 10 meter dan lebar 130 meter harus melawan hilir mudik kapal ribuan ton yang melintasi Teluk Balikpapan. Mulai kapal pengangkut batu bara, crude palm oil, dan logistik karena penetapan IKN. Seperti di depan KRN terdapat banyak karang biasa spot memancing.
Namun sekarang batu sudah hancur setelah terkena jangkar kapal tongkang yang selama ini bersandar. Dia dan nelayan lainnya hanya keberatan mengapa kapal berlabuh di karang. Ikan sudah tidak mau lagi datang ke sana. Mansur pernah berusaha menyampaikan hal itu.
“Kami hanya meminta jangan bersandar di sana karena merusak terumbu karang, tapi sampai saat ini tidak ada perubahan,” tuturnya. Situasi dan kondisi ini membuat pendapat nelayan terimpit. Daerah yang asri dulu jika menghasilkan tangkapan 5 kilogram saja sudah terhitung sedikit.
Sedangkan sekarang nelayan mendapatkan 5 kilogram saja sulit sekali. “Kalau dulu nunggu paling lama satu jam. Sekarang seharian mancing tidak ada hasil. Sembilan puluh mata pancing dipasang yang dapat hanya tiga ekor,” bebernya. Itu pun dia sudah turun menggunakan berbagai metode.
Kalau pagi hari menggunakan alat pancing, malam hari dengan memakai jaring yang dipasang sekitar garis pantai. Sebutannya merengge. “Tangkapan dari trakulu, bambangan, kerapu,” tuturnya. Hasil tangkapan ini dijual ke penggawa atau pengumpul di Jenebora untuk nanti dibawa ke Balikpapan.
Ada yang dibawa ke Pasar Pandansari hingga restoran. “Ikan trakulu ukuran 0,5–1 kg justru mahal karena ukuran ini yang bisa masuk ke restoran,” ucapnya. Sedangkan ukuran besar 2 kilogram lebih murah dan dijual di pasar. Pendapatan pun tak menentu kadang Rp 70–100 ribu per hari dari hasil tangkapan 2–3 kilogram.
Mansur kadang pulang dengan tangan hampa dan tidak balik modal. Butuh bahan bakar solar 5 liter sekali melaut. “Kalau dulu hidup jadi nelayan saja cukup, walau harga murah tapi jumlah tangkapan besar,” ungkapnya. Jauh berbeda dengan kondisi sekarang.
Keadaan sekarang akhirnya pindah cari pergi ke tempat lain, misalnya ke arah laut yaitu Tanjung Jumlai hingga pergi “nambang” selama dua bulan ke Tanjung Aru. “Masih pakai kapal ini dan bantuan GPS. Kalau ke sana sudah tidak kelihatan darat, rasanya kita seperti dalam telur saja,” imbuhnya.
Cari pemasukan tambahan untuk hidup, Mansur merintis lahan bagi siapa yang perlu bantuan. Sebagian besar penduduk Jenebora merupakan nelayan, begitu pula dengan Mansur dan keluarga. Meski memiliki tiga anak, dua putranya memilih bekerja di perusahaan yang berada di sekitar wilayah Jenebora.
Tidak ada yang mau melaut karena menyadari kondisi nelayan sudah susah. Nelayan seusia Mansur juga banyak yang berhenti dan beralih sepenuhnya menjalani pekerjaan lain. Dia mengaku sejauh ini belum berpikir untuk meninggalkan pekerjaan nelayan. Mansur masih bermimpi, Teluk Balikpapan terjaga kembali.
Pasokan hasil laut di Teluk Balikpapan juga disebarkan ke berbagai penjuru restoran di Kota Beriman. Untuk diketahui, Balikpapan terkenal dengan suguhan wisata kuliner berbahan baku seafood. Salah satu resto kenamaan, Torani juga memanfaatkan hasil laut tersebut.
Pemilik Restoran Torani, Jaka, bercerita bahwa selama ini pasokan ikan berasal dari pengumpul. Seperti pengumpul di Kampung Baru dan Manggar. "Ikan kakap, kerapu, trakulu, dan sejenisnya dari Kampung Baru. Sedangkan kepiting dari Manggar," tuturnya. Sementara untuk bandeng dari Grogot dan Muara Badak.
Sejauh ini, jumlah pasokan untuk restoran masih aman. Namun karena pihaknya selama ini mengandalkan bantuan pasokan dari pengumpul ikan. "Infonya dari pengumpul sepertinya memang ada keluhan nelayan. Kalau sekarang ada beda hasil tangkapan dibanding beberapa tahun ini," tuturnya.
Lalu Lintas Kapal Meningkat
Beragam jenis kapal beraktivitas dan memanfaatkan lalu lintas di Teluk Balikpapan. Baik kebutuhan angkutan batu bara, logistik, hingga industri di sekitar wilayah tersebut. "Rata-rata kapal tugboat, tongkang, tanker, Ro Ro, LCT, SPOB, dan kontainer," ucap Plh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Balikpapan Dimyati.
Kapal yang melintas pun memiliki jumlah kapasitas berbeda. Semua ini bergantung dari jenis kapal dan keperluannya. Misalnya kapal batu bara dengan ukuran 180 feet mengangkut sekitar 2.000 ton batu bara. Sementara ukuran 230 feet sekitar 4.000 ton batu bara.
"Kemudian ukuran 270 feet yang dapat mengangkut sekitar 6.000 ton batu bara," ujarnya. Pihaknya mencatat selama 2022 saja, jumlah aktivitas kapal terhitung dari ship call rata-rata berkisar 1.100 per bulan. "Kami melihat setiap bulannya jumlah kapal yang beraktivitas memiliki kenaikan," tuturnya.
Kenaikannya pun cukup signifikan pada Januari 2022, jumlah kapal melintas sebanyak 1.105 ship call. Sedangkan pada Desember 2022 sudah mencapai 1.365 ship call (selengkapnya lihat infografis). "Awal tahun ini Januari 1.409 dan Februari 1.276 ship call," ungkapnya. Salah satu faktor kenaikan juga berasal dari aktivitas pembangunan IKN.
Itu bisa dibandingkan dari jumlah ship call selama Januari dan Februari tahun ini dengan periode yang sama tahun lalu. "Kapal logistik IKN ada sekitar 25 ship call dengan muatan sirtu, batu pecah, batu kali, besi beton, agregat," bebernya. Mengingat sejauh ini, pengantaran kebutuhan logistik IKN semata-mata memanfaatkan jalur laut.
Dimyati mengatakan, KSOP Kelas I Balikpapan memiliki tiga kapal patroli dari KNP 347, KNP 479 dan KNp 555. "Kami juga berkoordinasi dengan Kapal AL dan Polri untuk melakukan pengawasan," sebutnya. Kapal ini memiliki jadwal untuk melaksanakan patroli pengawasan Teluk Balikpapan. (ms/k8)
DINA ANGELINA
dinaangelina6@gmail.com
Editor : izak-Indra Zakaria