Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Motif Batik Kawung di Lantai dan Batas Suci Masjid

izak-Indra Zakaria • 2023-04-04 12:24:14
Photo
Photo

Masjid Raya Sheikh Zayed Solo memadukan gaya Timur Tengah dengan Nusantara, yang merupakan hasil komunikasi pihak UEA dengan Indonesia. Turut menggerakkan ekonomi sekitar seiring jumlah pengunjung yang terus bertambah.

 

SILVESTER KURNIAWAN, Solo

 

MOTIF sulur dan kelopak bunga itu sama dengan yang ada di Grand Mosque Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA). Hanya beda pada bentuknya: yang ada di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo adalah bunga Indonesia.

Masih di interior ruang ibadah, ada perpaduan batik (Solo-Pekalongan) dan hiasan berbentuk lingkaran (ornamen) khas Timur Tengah yang juga dipakai di Grand Mosque Abu Dhabi. Di bagian lain, motif batik kawung melengkapi lantai di dalam area masjid dan halaman yang sudah masuk batas suci.

Masjid yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 17 November 2022 itu memang simbol persahabatan Indonesia dengan Uni Emirat Arab. Kado dari Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed Al Nahyan untuk Presiden Joko Widodo. Tak heran bendera dua negara dipasang di muka masjid yang menghadap Jalan Ahmad Yani itu.

’’Detail-detail di masjid ini merupakan hasil komunikasi antara kedua Negara. Basic-nya seperti yang ada di Grand Mosque Abu Dhabi, hanya ada beberapa bagian yang didekor ulang dan disesuaikan dengan kekhasan kita,” kata Munajat, direktur operasional Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, kepada Jawa Pos Radar Solo pada Jumat kedua Maret lalu (10/3).

Waktu salat Jumat tiba. Panggilan azan muazin yang berasal dari UEA menggerakkan ribuan jemaah yang datang dari berbagai kota siang itu. ’’Sengaja datang ke sini memang untuk salat Jumat, ternyata jemaahnya membeludak,” kata Alfian Noor, salah seorang jemaah asal Magelang, Jawa Tengah, setelah salat Jumat.

Jawa Pos Radar Solo menyempatkan diri mengelilingi area masjid seluas 2,9 hektare yang mampu menampung 10 ribu jemaah itu. Di area luar, tata letak tanaman hias yang dipadu dengan area kolam dan air mancur tampak selaras dengan arsitektur bangunan masjid yang memiliki 82 kubah (1 kubah utama dan 81 kubah kecil) tersebut.

Perpaduan gaya Timur Tengah dan Nusantara juga terlihat di bagian dalam masjid. Kubah-kubah besar yang ada di dalam masjid dihias dengan dekorasi kelopak bunga dan dilengkapi dengan kaligrafi ayat-ayat Alquran seperti yang terlihat pada ruang ibadah utama.

Interior ruang ibadah utama itu makin elok dengan penempatan asmaulhusna yang menghiasi dinding di sekitar mimbar. Ke-99 sifat Allah lengkap dengan satu lafaz Allah itu bersanding dengan dekorasi bunga dan sulur berwarna salem tersebut.

’’Pembangunan masjid dan operasional sampai hari ini masih dari UEA, pengelolaannya dilakukan bersama ada pihak dari pemerintah Indonesia (di bawah Kementerian Agama, Red) dan dari pihak UEA. Ini akhirnya menjadi kekhasan masjid ini yang berbeda dengan masjid-masjid lain yang ada di Indonesia,” beber Munajat.

Ke depan, Masjid Raya Sheikh Zayed akan dilengkapi dengan cultural center yang akan dibangun di barat masjid di area seluas 3–4 hektare. Pembangunan cultural center itu akan dilakukan secepatnya setelah proses alih status lahan selesai dilakukan.

Nantinya, cultural center akan dilengkapi fasilitas seperti tempat untuk menginap, tempat pelatihan dan pendidikan, serta area komersial untuk menggerakkan UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah). Fasilitas ini diharapkan tak hanya sebagai pelengkap masjid dan pusat kajian islami saja, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.

Sejauh ini pun, Masjid Raya Sheikh Zayed telah turut menggerakkan perekonomian sekitar. Sejak masjid itu dibuka untuk umum, berbagai penganan dan makanan berat yang dijajakan warga selalu laris manis dibeli para jemaah masjid yang datang dari berbagai kota.

Itu belum termasuk banyaknya warga yang tertampung untuk bekerja atau sekadar menjadi tenaga sukarela di area masjid. ’’Dulu jalan ini kan sepi, Mas, tapi setelah ada masjid jadi ramai seperti ini. Biasanya saya cuma bikin masakan kalau ada pesanan saja, sekarang tiap hari bisa dagang di sini,” kata Ngatiyem, salah seorang penjaja kuliner di timur masjid.

Selain pedagang makanan, mereka yang bekerja sebagai tukang foto keliling, ojek dadakan, hingga penjual tas kresek dan sewa payung saat hujan juga turut kebagian rezeki.

Kendati demikian, aktivitas jual beli tetap harus dikendalikan dengan baik agar tidak mengurangi keindahan kawasan masjid maupun kenyamanan para jemaah yang datang untuk beribadah.

Pemerintah Kota Surakarta sebagai tempat untuk menampung para pedagang. ’’Ada rencana membeli lahan di sekitar, tapi lokasinya masih kita cari dulu. Mohon sedikit bersabar ya,” kata Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming.

Di sisi lain, Pemkot Surakarta terus mendorong pengelola Masjid Raya Sheikh Zayed agar menambah karyawan, baik dari sektor keamanan, kebersihan, maupun lainnya. Itu untuk memudahkan pengaturan dan pengamanan masjid yang makin ramai dikunjungi masyarakat.

Data terbaru menunjukkan angka kunjungan Masjid Raya Sheikh Zayed terus mengalami peningkatan. Puncaknya pada salat Jumat dan akhir pekan yang bisa mencapai 10–12 ribu orang.

’’PR (pekerjaan rumah, Red) lainnya kita selesaikan untuk area parkirnya,” ucap Gibran. (*/c17/ttg)

Editor : izak-Indra Zakaria