Tanah yang gersang dengan cuaca yang panas, tidak berlaku mutlak di Arab Saudi. Sebab Kota Thaif tetap memberi kesejukan di tengah teriknya sinar matahari.
YUDHI PERDANA, Makkah
BERKUNJUNG ke Kota Thaif jadi salah satu agenda city tour dalam rangkaian ibadah umrah gelombang III PT PMB dan PT PASN bersama Arminareka Perdana, Maret lalu.
Selain untuk mengenang perjalanan dakwah Rasulullah SAW, tur ke kota yang berada pada ketinggian 1.700 meter di lereng Pegunungan Sarawat pada Senin (13/3) lalu itu sekaligus ingin menikmati sensasi menaiki kereta gantung yang merupakan salah satu destinasi unggulan di kota itu.
Sebelum perjalanan, tour leader sudah meminta jemaah untuk menggunakan jaket. Sebagai media penghangat di tengah suhu cuaca yang dingin. Ya, ketika jemaah berkunjung, suhu di Thaif diperkirakan berkisar 20 derajat celcius.
Berkunjung ke kota penghasil buah-buahan dengan kesuburan tanahnya, memang kurang afdal jika tidak mencicipi buah-buahan yang tumbuh subur di kota itu. Buah-buahan tersebut banyak dijual di halaman Masjid Abdullah Bin Abbas. Seperti buah delima, plum, anggur, sampai buah tin. “Buah tin ini buah surga,” ujar salah satu pedagang yang berjualan di halaman masjid.
Masjid Abdullah Bin Abbas memang kerap menjadi tempat persinggahan jemaah maupun peziarah. Karena di sini ada makam sahabat Nabi Muhammad SAW, yang juga sepupu Rasulullah yang berpengetahuan luas, Abdullah Bin Abbas. “Banyak hadis yang diriwayatkan melalui Ibnu Abbas,” ujar Rohli, salah satu muthawif yang mendampingi jemaah.
Masjid Abdullah Bin Abbas jadi persinggahan pertama dalam tur di Thaif. Teriknya sinar matahari seperti berbanding terbalik dengan dinginnya suhu saat itu. “Makanya kita diingatkan pakai jaket. Dingin memang udaranya,” terang Gufron, salah satu jemaah.
Sekitar 30 menit mengunjungi masjid, jemaah kembali diminta naik ke bus untuk melanjutkan perjalanan. Untuk menikmati salah satu kuliner juga yang khas di Thaif.
Ya, sebanyak 140 jemaah yang terbagi dalam tiga bus rombongan diajak untuk mencoba menu nasi mandi khas Thaif. Nasi yang dihidangkan dalam nampan besar yang dimasak langsung dengan lauk seekor ayam yang dipotong menjadi empat bagian. “Satu porsi memang untuk empat orang, jadi makannya sama-sama,” lanjut Rohli.
Lambung pun sudah terisi. Perjalanan lalu dilanjutkan untuk menjajal kereta gantung yang terkenal di kota itu.
Bagi jemaah yang ingin mencoba wahana tersebut, harus merogoh kocek sebesar 75 riyal atau Rp 350 ribu menggunakan rupiah. Dalam setiap gerbong, kapasitas maksimal hanya bisa diisi 8 orang. Kereta meluncur dari puncak ketinggian di kota tersebut, menuju salah satu wahana permandian yang berada dataran rendah kota tersebut, dan kembali lagi ke puncak bukit.
Dari atas kereta gantung, jemaah bisa menyaksikan keindahan gunung batu dan tebing-tebing curam. Pemandangan jalanan Thaif yang berkelok tampak seperti liukan ular dari atas kereta gantung.
“Bagus pemandangannya, rugi memang kalau nggak naik,” terang Nisma, salah satu jemaah.
Tur ke Thaif menjadi tur terakhir para jemaah. Sebab rencana berkunjung ke peternakan unta dan gua hira, tempat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama dari Allah SWT, harus diurungkan karena persoalan non teknis.
Agenda ibadah pun tinggal menyisakan tawaf wada atau tawaf perpisahan, sebelum seluruh jemaah mempersiapkan kepulangan kembali ke tanah air. (*/bersambung/sam)
Editor : uki-Berau Post