Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kekayaan Sejarahnya Bakal Didigitalisasikan

uki-Berau Post • 2023-04-27 14:01:09
LANGGAR WITAN: Musala Langgar Witan dipercaya sebagai langgar pertama yang dibuat sejak Dresmo didirikan, meski sudah tiga kali direvitalisasi, desain arsitektur lama masih dipertahankan.
LANGGAR WITAN: Musala Langgar Witan dipercaya sebagai langgar pertama yang dibuat sejak Dresmo didirikan, meski sudah tiga kali direvitalisasi, desain arsitektur lama masih dipertahankan.

Syahdan Sayyid Ali Akbar Basyaiban melihat cahaya terang mengarah ke satu titik angker di kota yang kemudian dikenal sebagai Surabaya. Dari berbagai cerita lisan, Sayyid Ali kemudian berhasil membabat alas (hutan) dan berdomisili di tempat tersebut untuk mengembangkan dakwah.

 

SANG ayah, Sayyid Sulaiman Basyaiban, cucu Sunan Gunung Jati, kemudian datang menengok lokasi anaknya tersebut. Dan, ulama yang pernah mondok di Ampel yang juga terletak di Surabaya itu menyuruh putranya untuk tetap menetap di sana. Termasuk mengikutsertakan lima santri dari Ponpes Sidogiri, Kabupaten Pasuruan, yang dia dirikan untuk membantu Sayyid Ali.

Beberapa abad berselang, tempat itu dikenal sebagai Kampung Dresmo. Sebuah kampung santri yang secara administratif terbagi ke dalam dua wilayah di Surabaya: Sidosermo di Kecamatan Wonocolo dan Jagir di Kecamatan Wonokromo. ”Kata Dresmo itu dari nderes kabehe limo (yang belajar lima orang, Red),” kata Muhaimin, tokoh masyarakat Sidosermo, kepada Jawa Pos (18/4).

Ada 16 pondok pesantren (ponpes) yang sekarang berdiri di Dresmo, kampung yang diperkirakan mulai berdiri pada abad ke-17 itu. Saat Jawa Pos bertandang ke sana pada Senin (18/4) lalu, semaan Alquran dan salawat tidak pernah berhenti terdengar dari penjuru kampung. Termasuk lalu-lalang santri yang memakai sarung dan peci.

Para santri itu datang dari berbagai tempat, bahkan tak cuma dari Indonesia. Ada yang dari Brunei dan Malaysia. Semuanya itu sejalan dengan cita-cita Sayyid Sulaiman yang sangat gigih dalam berdakwah dan kegigihannya tersebut kemudian menular ke keturunannya.

Dresmo juga kerap jadi jujukan ulama besar untuk belajar. Di antaranya, yang tercatat pernah nyantri di sana adalah KH Hasyim Asy’ari hingga Syaikhona Kholil Bangkalan.

Kemajuan ponpes di Dresmo tak luput dari perhatian pemerintah kolonial Belanda. Hingga akhirnya suatu hari Sayyid Ali Akbar dibawa pergi dari sana. Dan, kata Muhaimin, jejak keberadaan hingga makamnya tidak diketahui sampai kini.

Perjuangannya kemudian diteruskan sang anak, Sayyid Ali Asghor Basyaiban, yang lolos dari razia Belanda karena disembunyikan di dalam ruangan sebuah ruangan. Perlahan tapi pasti, jumlah ponpes pun terus bertambah.

Menurut Muhaimin, semua ponpes di Dresmo berawal dari rumah para kiai. Tempat belajarnya hanya di area pelataran. Di sisi lain, kediaman para kiai itu sekaligus jadi tempat untuk mengorganisasi kekuatan melawan Belanda.

Contoh kedekatan lain Dresmo dengan perjuangan melawan penjajah adalah banyaknya pejuang yang berdatangan ke sana. Rata-rata untuk asmaan (semacam minta doa sebelum ke medan perang).

Sayyid Ali Asghor menghabiskan masa hidupnya di Dresmo. Makamnya di Sidosermo pun sekarang dijadikan cagar budaya oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. ”Beberapa peninggalan Sayyid Ali Asghor masih disimpan para keturunannya. Di antaranya kitab kajian, senjata, dan pakaian beliau,” jelas Muhaimin yang juga ketua MWCNU Wonocolo.

Ketua LPMK Sidosermo Nasrohudin menambahkan, Dresmo dikenal memiliki banyak kiai dan gus. Dia sendiri juga keturunan ke-7 dari Sayyid Ali Asghor. ”Antar pemilik ponpes juga masih ada hubungan kekerabatan,” katanya.

Salah satu jejak peradaban di kampung itu adalah Langgar Witan. Musala yang berada persis di Kantor Kelurahan Sidosermo lama itu dipercaya sebagai langgar yang pertama dibuat sejak Dresmo didirikan. Sudah tiga kali musala tersebut direvitalisasi. Meski begitu, desain arsitektur lama masih kental.

Dresmo juga dikenal kaya akan kesenian bela diri hingga acara adat. Misalnya acara manten pegon. Upacara pernikahan itu hingga sekarang masih banyak dijumpai di Dresmo. Terutama di kalangan para keturunan kiai. Begitu pula kuliner khas setempat seperti bongko mentuk.

Semua itu tentu kian menguatkan posisi Dresmo sebagai destinasi religi yang bisa diandalkan Surabaya selain Kampung Ampel. Lurah Sidosermo Muhammad Zul Chaidir mengatakan, penataan Dresmo saat ini hampir sudah 100 persen. ”Lahan parkir untuk bus sudah siap. Saat ini hanya menunggu proses perbaikan paving agar cantik,” terangnya.

Selain kekayaan peninggalan religi dan adat, pengunjung bisa menikmati sajian kuliner khas Dresmo. Selain itu, lanjut Zul, pihaknya menggandeng para keturunan dan akademisi. Tujuannya untuk menggali kekayaan sejarah.

Jika sudah terkumpul, rencananya bakal didigitalisasikan sehingga bisa memudahkan pengunjung untuk mengetahui seluk-beluk terkait Dresmo. Sehingga mereka bisa jelas mendapat cerita dari sumber yang kredibel.

”Para pelaku UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah, Red) juga akan diikutsertakan. Mereka bakal didata untuk berjualan di depan rumah masing-masing,” katanya. (omy/c9/ttg/jpg/sam)

Editor : uki-Berau Post
#feature