TANJUNG REDEB - Menjadi salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) atau perusahaan daerah (perusda) yang disorot pihak legislatif, PT Hutansanggam Labanan Lestari (HLL) yang kini disebut PT Hutan Sanggam Berau (HSB), mengklaim telah berkontribusi bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Berau.
Direktur HSB Roby Maula melalui Manajer Humas Pamhut HSB Anwar Kalfangare mengatakan, setiap tahunnya perusahaan selalu memberi kontribusi bagi PAD Berau. Bahkan sejak berdirinya perusahaan pada 2003 silam.
"Tahun 2022 lalu, perusahaan berhasil mengalami surplus sejumlah Rp 2.457.476.790. Sehingga kontribusinya lebih baik lagi bagi daerah," ujarnya kepada Berau Post kemarin (17/5).
Kecuali kata Anwar, pada tahun 2020, perusahaan sempat tidak memberi kontribusi PAD, karena perusahaan mengalami kerugian akibat dari dampak pendemi Covid-19. Kemudian pada akhir 2021 lalu, saat pergantian jajaran direksi, perusahaan juga sempat berada dalam kondisi menurun. Belum lagi diperparah dengan kerugian yang dialami perusahaan akibat pandemi Covid-19.
"Maka itu, perusahaan optimistis akan kembali memberikan kontribusi dan signifikan lagi bagi PAD Berau pada tahun 2023," tegasnya. "Harapannya juga pada tahun-tahun selanjutnya, dan kami pun berusaha untuk berbenah lebih baik lagi," sambungnya.
Lanjut Anwar, sebenarnya tantangan yang dihadapi tak hanya itu. Belakangan ini, dampak perang Rusia-Ukraina dan krisis global turut berpengaruh pada target pendapatan perusahaan. Terlebih negara-negara tujuan ekspor olahan kayu bulat seperti Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat, turut terdampak perang tersebut dan tidak terlepas dari krisis.
"Jadi, akibatnya sektor manufaktur turut terpukul, karena pasar global kembali berpusat pada sektor energi seperti listrik dan batu bara. Jelas hal ini membawa dampak tersendiri bagi sektor bisnis Hutan Sanggam yang kian kehilangan pembeli," bebernya.
Dengan tantangan-tantangan yang dihadapi tersebut, perusahaan bertekad untuk kembali eksis dan tidak lagi mengalami kerugian, terutama pasca pandemi. Karena itu disebut Anwar, pada tahun 2021 lalu, mulai dilakukan efisiensi dan efektivitas perusahaan demi perbaikan ke tahun selanjutnya.
"Dengan kebijakan itu, biaya-biaya pengelolaan mulai ditekan. Langkah-langkah yang sudah dan akan ditempuh perusahaan pun mulai diperiodisasi, baik itu berupa jangka pendek, menengah dan panjang," terangnya.
Untuk jangka pendek, perusahaan akan mengembalikan performa terlebih dahulu. Itu supaya perusahaan dapat memberi kontribusi pada daerah. Tentu dengan memaksimalkan pengelolaan kayu bulat yang selama ini sudah berjalan.
Kemudian jangka menengahnya, memperoleh hasil di luar pendapatan kayu bulat melalui upaya optimalisasi untuk melakukan diversifikasi usaha. Sehingga di tahun 2022, ketika masuk dalam jangka menengah, perusahaan pun mulai melakukan pembenahan.
"Pembenahan itu mulai dari pembenahan SDM, invetarisasi dan langkah optimalisasi aset. Sedangkan dalam jangka panjang, perusahaan akan berjuang agar tidak sepenuhnya lagi bergantung pada kayu bulat," jelasnya.
Menurut Anwar, pilihan untuk tidak bergantung pada kayu bulat dipengaruhi sampai saat ini, krisis global turut berpengaruh terhadap pengelolaan hasil kayu. Selain itu, sesuai ketentuan yang berlaku, perusahaan tidak lagi megekspor kayu bulat, tetapi dalam bentuk turunan atau barang setengah jadi.
"Sebagai pilihan alternatif, perusahaan akan berusaha memaksimalkan pendapatan melalui optimalisasi aset, untuk menyokong diversifikasi usaha Hutan Sanggam," katanya.
Memang diakui Anwar, ada potensi lain yang bisa dikelola, yakni perhutani sosial, kemitraan kehutanan, multi usaha kehutanan, seperti agrowisata dan sebagainya. Tetapi, optimalisasi aset perusahaan yang dimanfaatkan pihak ketiga, yang tentu saja sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku, harus perusahaan jalankan dan laksanakan.
"Optimalisasi aset ini dapat menjadi pengoptimalan diversifikasi usaha, yang nanti dalam jangka panjang menjadi fokus bisnis perusahaan," ungkapnya.
Namun kata Anwar, akan lebih luar biasa lagi jika harga kayu kembali normal, kayu bulat menjadi penopang dan optimalisasi asset, serta diversifikasi usaha dapat berjalan beriringan. Dengan melakukan optimalisasi aset dan diversifikasi usaha yang sebenarnya sudah mulai berjalan itu, perusahaan mempunyai target tahun ini, minimal dapat menyamai surplus pada tahun 2022.
"Bahkan berjuang memecahkan rekor pendapatan terbesar di Hutan Sanggam, khususnya pada tahun 2013 lalu, yakni sebesar Rp 3.230.243.702," ucapnya.
Diakuinya, potensi hutan saat ini juga tergerus dengan adanya perkebunan, pertambangan, dan sebagainya. Pasalnya, dari luas areal yang dikelola perusahaan lebih kurang 78.000 hekatre, sudah terjadi penyusutan-penyusutan karena ada pengajuan-pengajuan pada APL, seperti untuk jalan, APL yang masuk wilayah kampung dan sebagainya. Tak hanya itu, penyusutan juga terjadi karena pengajuan APL jalan yang dibangun dari pinjam pakai kawasan.
"Tapi itu tidak mengurangi kontribusi Hutan Sanggam bagi daerah. Sebab ada nilai-nilai lain yang bisa dioptimalkan. Nah itu tadi, langkah fokus sistem kami kemarin hingga surplus, karena optimalisasi aset tersebut," katanya.
Pihaknya pun berharap, agar perusahaan nantinya tidak sekadar mengelola blok Labanan. Tetapi juga hutan-hutan lain dengan pengelolaan yang baik dan lestari. Adapun target produksi dan target pendapatan selalu disampaikannya kepada pemegang saham.
"Target produksi kayu bulat tahun ini 25.000 kubik. Bila target itu tercapai, maka pihaknya sudah bisa melampaui pendapatan Hutan Sanggam selama ini," katanya.
Untuk diketahui, PT HSB sejak 29 Juni 2022 bukan lagi berstatus perusda maupun BUMD. Tapi sudah menjadi Perseroan Terbatas (PT) yang saham terbesarnya dimiliki Pemkab Berau. (mar/udi)
Editor : uki-Berau Post