Suhu di Makkah dan Madinah masih sangat panas. Berpengaruh pada kondisi fisik dan kesehatan jamaah.
===============
Di tengah masa pemulangan, jumlah jamaah haji yang sakit mengalami peningkatan. Khususnya pada kasus pneumonia. Jamaah haji yang berada di Makkah atau Madinah diminta menjaga stamina dan kesehatan sampai proses pemulangan.
Kabar peningkatan kasus pneumonia itu disampaikan Juru Bicara PPIH Pusat Akhmad Fauzin di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur, Kamis (13/7). Dia mengatakan, ada banyak faktor yang bisa menjadi pemicu peningkatan kasus pneumonia. Di antaranya, suhu di Makkah maupun Madinah yang saat ini masih sangat panas.
“Suhu di Tanah Suci (Makkah atau Madinah) berpengaruh pada kondisi fisik dan kesehatan jamaah,” katanya.
Banyak jamaah yang rentan mengalami gangguan kesehatan karena tenaganya baru diforsir untuk menjalani rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Mudzalifah, dan Mina. Sampai pelaksanaan tawaf ifadah di Masjidilharam.
Fauzin mengatakan, petugas haji bidang kesehatan terus mengimbau jamaah disiplin menjalankan pola hidup bersih dan sehat. “Jamaah dianjurkan tetap menggunakan masker,” katanya. Kemudian, jamaah diminta menghindari kontak fisik dengan jamaah lain yang sedang sakit, khususnya batuk atau pilek.
Kepada jamaah yang sudah berada di Madinah, dianjurkan menggunakan alat pelindung diri saat keluar hotel. Misalnya menggunakan topi atau payung ketika melakoni ziarah di sejumlah tempat bersejarah di Madinah. Untuk mencegah dehidrasi, jamaah diingatkan untuk rajin minum air putih. “Jangan minum menunggu haus dulu,” katanya.
Fauzin mengatakan, sampai 12 Juli pukul 24.00 WIB, sebanyak 15.251 jamaah dari 149 kloter sudah tiba di Indonesia. Sedangkan sepanjang hari ini (14/7) dijadwalkan ada 8.093 jamaah dari 21 kloter tiba di Tanah Air. Saat ini masih berlangsung pemulangan jamaah gelombang satu dengan rute Jeddah ke Indonesia. Berikutnya disusul pemulangan gelombang kedua dari Madinah.
Sementara itu, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Hilman Latief berada di Madinah, di antaranya untuk mengawasi langsung pelayanan. Dia berpesan kasus atau fenomena jamaah hilang maupun tersesat yang terjadi di Makkah, tidak terulang di Madinah. Dia menekankan petugas maupun jamaah haji untuk lebih mawas diri.
“Saya meminta para petugas mawas diri, jaga-jaga, dan mempersiapkan skema agar fenomena tersesat, hilang di jalan, bisa kita minimalisasi," ujarnya seusai rapat koordinasi pelayanan jamaah haji gelombang kedua di kantor Daker Madinah.
Dia mengatakan, intensitas pergerakan manusia di Madinah saat ini masih cukup padat. Jamaah harus bisa menjaga diri supaya tidak tersesat atau bahkan hilang.
Kepada ketua kloter, Hilman juga menyampaikan pesan khusus. Supaya mengingatkan jamaah rombongannya, terlebih bagi yang pernah mengalami tersesat atau hilang saat di Makkah. “Jangan sampai terulang lagi di Madinah,” katanya.
Konsentrasi jamaah di Madinah berbeda dengan di Makkah. Untuk di Makkah, hotel atau penginapan menyebar sehingga kepadatan tidak terlalu tinggi. Sedangkan di Madinah, semua hotel berdekatan dengan Masjid Nabawi. Selain itu tampilan muka atau fasad hotel mirip-mirip. Sehingga bisa membuat jamaah tersesat atau salah masuk hotel. Jamaah diminta mencatat nomor dan nama hotel. Serta keluar hotel dalam kelompok atau tidak sendirian.
Jamaah haji gelombang kedua Indonesia mulai diberangkatkan dari Makkah ke Madinah sejak 10 Juli lalu. Total jamaah haji gelombang kedua mencapai 111.120 orang. Proses pemberangkatan dari Makkah ke Madinah berjalan sampai 24 Agustus. Jamaah di Madinah mulai dipulangkan ke Indonesia pada 19 Juli depan.
Selain itu, Kemenag juga melansir data badal haji. Total ada 357 badal haji karena wafat atau sakit. Kepada setiap petugas pelaksana badal mendapatkan 2.500 riyal dipotong pajak. Biaya petugas badal itu ditanggung pemerintah Indonesia. Sehingga keluarga jamaah yang dibadalkan tidak menanggung biaya lagi. (wan/jpg/dwi/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria