BALIKPAPAN–Pemanfaatan void atau lubang bekas tambang batu bara untuk menghasilkan energi baru terbarukan (EBT) akan dikaji Pemprov Kaltim. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) segera menyusun kajian pemasangan panel tenaga surya pada lubang bekas tambang. Berdasarkan kajian sementara, potensi energi yang dapat dibangkitkan sebesar 345,33 megawatt (MW).
Kepala Bidang (Kabid) EBT dan Konservasi Energi Dinas ESDM Kaltim Elly Luchritia Nova memaparkan, potensi tenaga surya tersebut berasal dari 1.498,06 hektare area lahan bekas tambang. Lokasinya tersebar di tiga kabupaten/kota di Kaltim. Yakni, Kutai Barat (Kubar), Kutai Kartanegara (Kukar), dan Samarinda. “Kapasitas potensinya 345,33 MW dengan luasan lahan 1.498,06 hektare,” katanya dalam diskusi di Swiss-Belhotel Balikpapan, Rabu (2/8).
Dia merinci, untuk wilayah Kubar, lokasi lahannya berada di bekas tambang PT Kelian Equatorial Mining (KEM). Dari luas 1.199 hektare, potensi kapasitas daya yang dihasilkan 100 MW. Sedangkan di Kukar, lokasinya merupakan lahan bekas tambang dari berbagai perusahaan. Adapun potensi tenaga surya yang dihasilkan, yaitu 53,7 MW dengan luasan 70,17 hektare. Sementara di Samarinda, juga gabungan dari lahan bekas tambang berbagai perusahaan dengan potensi daya 192,63 MW dari luas lahan 228,89 hektare.
“Masalah reklamasi tambang itu sudah kami anggarkan untuk perencanaan kajiannya di tahun depan,” ucapnya. Selain itu, beberapa minggu yang lalu, pihaknya telah melakukan pembahasan mengenai masalah reklamasi pascatambang. Ada empat perusahaan tambang yang sudah memiliki beberapa masalah reklamasi pascatambang dan usaha-usaha mereka mengenai pemanfaatan EBT. “Seperti di Kukar itu, saya lupa namanya perusahaannya mereka sudah melakukan beberapa alternatif seperti PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro),” terang dia.
Elly menyampaikan, pihaknya juga sudah mengundang para sekkab maupun sekkot dari kabupaten/kota mengenai pemanfaatan EBT itu. “Mereka sedang melakukan studi energi baru tapi dari pohon randu alas. Jadi olahannya itu, dari bijinya. Kemarin kami juga sudah dipresentasikan dan mereka bekerja sama dengan UGM dan Undip. Dan memang pohon ini adanya lebih banyak itu di kuburan. Jadi agak horor gitu ya. Mereka memang mengarahkan pohon ini untuk menanam pertama. Pendampingnya seperti jagung dan pohon minyak kayu putih,” ungkapnya.(riz/k8)
RIKIP AGUSTANI
ikkifarikikki@gmail.com
Editor : izak-Indra Zakaria