Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Progres Sekolah Terpadu Lambat, Baru 40 Persen, Disdikbud Lakukan SCM 1

izak-Indra Zakaria • Minggu, 20 Agustus 2023 - 06:54 WIB
DIKEBUT: Pembangunan SD 016 dan SMP 26 Balikpapan Selatan di Balikpapan Regency mengalami deviasi di atas 10 persen. Kontraktor pelaksana ditarget progres harus mencapai 60 persen pada September agar proyek tuntas pada Desember. FOTO: ANGGI PRADITHA/KP
DIKEBUT: Pembangunan SD 016 dan SMP 26 Balikpapan Selatan di Balikpapan Regency mengalami deviasi di atas 10 persen. Kontraktor pelaksana ditarget progres harus mencapai 60 persen pada September agar proyek tuntas pada Desember. FOTO: ANGGI PRADITHA/KP

Diklaim kena sabotase dan sulit mendapatkan material ready mix, progres sekolah terpadu di Balikpapan Regency melenceng dari target.

 

BALIKPAPAN–Disdikbud akhirnya melakukan show cause meeting (SCM) 1 pada proyek sekolah terpadu di Balikpapan Selatan. Sebab, progres proyek belum sesuai target.

Kepala Disdikbud Irvan Taufik mengatakan, pihaknya harus menggelar SCM 1 karena proyek sudah melewati batas maksimal. Sementara kontraktor belum mampu mencapai target yang seharusnya.

Dia menjelaskan, saat ini proyek pembangunan SD 016 Balikpapan Selatan dan SMP 26 memiliki deviasi lebih dari 10 persen. Maka sesuai aturan, pihaknya perlu melakukan SCM 1 yang dihadiri kontraktor dan konsultan pengawas.

“Artinya ini ujian pertama yang diberikan kepada kontraktor agar mereka bisa segera beraksi mengejar deviasi,” sebutnya. Disdikbud memberikan target progres minimal 60 persen pada 6 September mendatang. Irvan menyebutkan, kini progres yang berjalan sekitar 40-an persen.

“Padahal seharusnya progres sudah 50-an persen. Ada deviasi 10 persen,” tuturnya. Dalam pertemuan tersebut, kontraktor pelaksana PT Sarjis Agung Indrajaya telah menyampaikan beberapa kendala yang membuat progres lamban. Misalnya mereka sulit mendapatkan material ready mix.

Kabarnya karena banyak yang menggunakan material ini dan harus mengantre. Alasan lainnya, kontraktor mengaku ada sabotase material. Bahkan, material tertahan sekitar 1 minggu tidak kunjung datang. “Tapi ini penyampaian mereka ke kami. Kami sayangkan kenapa mereka tidak lapor kepada Disdikbud soal itu,” bebernya.

Menurut dia, andai saja kontraktor kala itu melaporkan kendala tersebut, pihaknya bisa mengambil langkah. “Seperti membantu pengawalan agar material masuk. Kalau sekarang material sudah aman dan ada di lokasi proyek,” ucapnya. Setelah SCM, kontraktor berkomitmen melakukan upaya-upaya untuk mengejar deviasi.

Misalnya menambah waktu kerja, tenaga kerja, dan material on site atau material sudah ada di lokasi. Sehingga kontraktor mudah untuk melanjutkan pembangunan. “Saya yakin dan percaya bisa selesai kegiatan sesuai target Desember nanti,” harapnya.

Jika dari SCM 1 ternyata progres masih tidak terpenuhi, maka masih ada tahapan SCM 2, SCM 3, hingga blacklist. Namun, pihaknya yakin proyek berjalan dan rampung tak ada kendala. Dia berharap besar pembangunan sekolah cepat selesai. “Tahun depan ditargetkan bisa digunakan untuk PPDB dan menerima siswa baru,” pungkasnya. (ms/k8)

 

DINA ANGELINA

dinaangelina6@gmail.com

Editor : izak-Indra Zakaria