---pasang tiga foto tetua
DOK/KP
BERPERAN PENTING: Dari kiri, Awang Faroek Ishak, Harbiansyah Hanafiah, dan Zuhdi Yahya, juga beberapa tokoh yang punya andil besar dalam memajukan olahraga Kaltim. Bersama sederet tokoh besar lainnya, mereka akan hadir dan menerima pin emas yang disematkan Gubernur Kaltim Isran Noor pada rakerprov hari ini.
---foto di sambungan
RENDY FAUZAN/KP
SPESIAL: Pin emas berlogo KONI. Gubernur Kaltim Isran Noor akan menyematkan logo tersebut kepada para tokoh penting dalam rakerprov pagi ini.
Keberhasilan Kaltim di bidang olahraga hingga menjadi salah satu daerah yang disegani di nasional dan internasional, bukan hasil kerjaan yang jadi dalam semalam. Di balik layar, ada sederet nama yang punya andil besar dalam mengangkat muruah dunia olahraga Bumi Etam.
============
“KALTIM tidak boleh sekadar jadi peserta di PON (pekan olahraga nasional). Saatnya Kaltim menorehkan prestasi. Minimal harus masuk sepuluh besar!” tegas M Ardans, ketua KONI Kaltim sekaligus gubernur Kaltim dua periode, 1988–1993 dan 1993–1998, dalam sebuah kesempatan. Pernyataannya itu kemudian menjadi titik mula kebangkitan olahraga Kaltim di pentas nasional.
Jalan Ardans membangun prestasi olahraga Kaltim sudah lebih mudah. Itu tidak lepas dari andil tangan dingin Kadrie Oening sebagai ketua KONI Kaltim periode sebelumnya. Oening menjadi penggagas pembangunan sistem olahraga prestasi Bumi Etam yang lebih modern, tertata, dan profesional kala itu.
Berbekal sistem yang sudah dibangun Oening, Ardans memulai perjuangan mengharumkan olahraga Kaltim dengan mewujudkan program pemusatan latihan daerah. Dulu diakronimkan dengan pelatda. Kini puslatda.
Lewat program tersebut, patriot olahraga Kaltim ditempa dengan optimal selama sebulan. Dan, persiapan itu langsung menampakkan hasil. Ketika Kaltim ambil bagian di PON XIII/1993, kontingen Bumi Etam langsung menjejakkan kaki di peringkat ketujuh. Sesuai target Ardans kala itu.
Salah satu atlet yang berkontribusi dalam keberhasilan Kaltim di PON XIII/1993 itu adalah Danahuri Dahliana, pemanah Kaltim yang berhasil menyumbang tiga medali emas saat itu. Atlet yang kemudian mengharumkan Kaltim di taraf nasional dan internasional. Seperti ikut serta di Olimpiade Atlanta 1996, Asian Games, dan SEA Games. Serta tercatat meraih perunggu di kejuaraan dunia.
Kembali ke perjuangan pembangunan prestasi olahraga Kaltim. Capaian di PON XIII/1993 berhasil dipertahankan ketika Bumi Etam ikut serta pada PON edisi berikutnya ke-14 di Jakarta, 1996. Masih dengan finis di peringkat ketujuh. Itu jadi persembahan terakhir Ardans di pentas nasional lantaran purnatugas dua tahun kemudian.
Warisan prestasi itu kemudian coba dipertahankan oleh sang penerus, Mayjen TNI (Purn) Suwarna Abdul Fatah. Ketika memasuki PON XV/2000, Kaltim finis di peringkat kedelapan. Ditambah kado Bumi Etam berhasil merebut kesempatan menjadi tuan rumah PON XVII/2008.
Nah, demi meraih hasil maksimal di PON XVII/2008, Suwarna yang juga saat itu gubernur Kaltim, menggencarkan pembangunan sejumlah infrastruktur penunjang pembinaan olahraga di Kaltim. Salah satunya kompleks Stadion Utama Kaltim Palaran, Samarinda.
Hasilnya langsung terasa. Berkolaborasi dengan pembinaan prestasi KONI Kaltim yang digawangi Syaukani Hasan Rais, Kaltim memulai kiprahnya sebagai daerah terbaik di luar Jawa dengan finis di tiga besar.
Estafet prestasi itu coba dilanjutkan oleh Awang Faroek Ishak yang terpilih sebagai gubernur Kaltim pada 2008. Berkolaborasi dengan sederet ketua KONI yakni Harbiansyah Hanafiah dan Zuhdi Yahya, mereka berhasil mempertahankan gengsi daerah terbaik di luar Pulau Jawa. Yakni ketika finis di peringkat kelima pada PON XVIII/2012 Riau dan PON XIX/2016 Jawa Barat.
Tidak hanya pembinaan olahraga secara menyeluruh, olahraga Kaltim juga begitu tersohor dari capaian masing-masing cabang olahraga (cabor). Salah satunya gulat. Dibangun oleh Saleh Basire sebagai pelatih pada era 1970-an, berkat tangan dinginnya, lahir sejumlah gladiator berprestasi Bumi Etam di berbagai jenjang, nasional hingga internasional.
Sebut saja Arbain, Bambang Wahyuni, Bunyamin, Suryadi Gunawan, Sumarlani, mendiang Rohandi Yusuf, dan Said Amin. Untuk Said Amin, dirinya meneruskan pengabdian di gulat sebagai ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) Kaltim dan sukses membangun fondasi kuat penjaga eksistensi gulat provinsi ini.
Dari mereka, lahir sederet insan gulat berprestasi. Salah satunya yang fenomenal adalah M Aliansyah. Pegulat asli Samarinda itu selalu berhasil meraih medali emas dalam empat edisi PON terakhir. Dia juga berhasil meraih medali emas di SEA Games XXXI/2023 Kamboja.
Jangan lupakan pencak silat yang juga berhasil mencetak pendekar terbaiknya, Iqbal Candra, yang prestasinya sudah diakui hingga level benua. Yakni ketika berhasil meraih medali emas di Asian Games 2018 Jakarta-Palembang.
“Kontribusi mereka atas olahraga prestasi Kaltim begitu besar. Sulit rasanya bila harus menakarnya dengan angka maupun benda. Karena itu, sebagai wujud apresiasi, kami simbolkan dengan pin emas berbentuk logo KONI,” jelas Ketua KONI Kaltim Rusdiansyah Aras, didampingi Kabid Humas & Media Zulkarnain.
Rencananya, pin tersebut disematkan dalam rapat kerja provinsi (rakerprov) KONI Kaltim di Aston Samarinda Hotel & Convention Center, Selasa (19/9). “Semoga pin ini bisa sekaligus menginspirasi insan olahraga lainnya menjaga semangat untuk terus berkontribusi kepada prestasi Kaltim pada masa mendatang,” pungkas dia. (ndy/dwi/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria