TANJUNG REDEB–Sektor pertanian dalam arti luas memberi kontribusi sebesar 11,6 persen terhadap pertumbuhan ekonomi di Berau. Angka ini terbesar kedua setelah sektor pertambangan. Saat ini, luasan kebun sawit mencapai 150.000 hektare yang tersebar di seluruh kecamatan, dan memiliki 13 pabrik crude palm oil di beberapa kecamatan.
Kepala Dinas Perkebunan Berau Lita Handini mengatakan, selain kelapa sawit, komoditas lain yang juga jadi andalan adalah kakao, lada, dan karet. “Termasuk pala dan kopi yang merupakan komoditas penunjang," terang Lita.
Namun, Lita mengatakan, saat ini Disbun sedang berfokus ke komoditas kakao, pasalnya permintaan pasar mulai lokal hingga luar negeri sudah terbentuk dan jumlah permintaan cukup banyak.
"Bukan berarti komoditas lain tidak diperhatikan. Tapi karena permintaan pasar kakao saat ini sangat tinggi, jadi Disbun harus bekerja di hulunya yaitu kebun. Kebun ini kita pacu supaya petani bisa konsisten menanam kakao," bebernya.
Menanam kakao, kata Lita, sebenarnya lebih menguntungkan. Perbandingannya, kalau kelapa sawit 4 hektare, tapi kakao cukup setengah hektare, hasilnya sudah sama.
Saat ini, ada dua perusahaan besar yang bisa menampung hasil panen petani kakao, dan membeli dengan kondisi biji masih basah ataupun kering. Petani tinggal telepon, maka pengepul akan datang. "Sekarang tinggal meyakinkan petani, tidak hanya sawit, kakao juga menguntungkan," tuturnya.
Dia berharap, petani yang sudah menanam kakao agar konsisten. Jangan justru ditebang dan diganti dengan sawit. Apalagi kakao bisa ditanam di pekarangan rumah. Seperti masyarakat di Rantau Panjang, cukup tanam 200 pohon maka dalam seminggu bisa menghasilkan 100 kg biji kakao. “Harga sekarang Rp 12 ribu sekilo," tambahnya.
Memang diakui saat ini Kabupaten Berau belum memiliki alat untuk mengolah bahan baku serbuk cokelat seperti yang ada di luar Berau. Itulah kendala petani di di Kampung Labanan Makarti dan Kampung Tumbit Melayu. “Mereka hanya menggunakan alat seadanya,” katanya. (adm/ind/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria