UJOH BILANG–Hunian perumahan bersubsidi kurang laku di Mahakam Ulu (Mahulu). Hal tersebut disebabkan masih minimnya upaya perbankan dalam mendukung program permukiman di Kawasan tersebut.
Developer Perumahan Mahulu Regency Hariati menuturkan, pihaknya telah menawarkan hunian sejak 2021. Meskipun tanpa saingan, namun baru 10 rumah yang terbangun.
Yayat, sapaan akrabnya, mengatakan sebetulnya antusias masyarakat terhadap hunian berlabel perumahan Jokowi itu cukup tinggi, namun tetap sulit dipasarkan. Warga yang berminat kredit selalu terkendala aturan-aturan bank.
Sebagai perbandingan rumah tipe 36 dengan subsidi bernilai Rp 181 juta dapat dicicil hingga 15 tahun. Sedangkan ukuran serupa tanpa subsidi bisa mencapai Rp 350 juta kalua membangun sendiri. “Pihak developer membuat rumah subsidi untuk MBR (masyarakat berpenghasilan rendah),” jelasnya.
Menurutnya, selama pendaftaran perumahan Jokowi dibuka, sudah 70 calon pembeli yang gagal karena tak bisa memenuhi persyaratan. Hanya satu bank yang bersedia kerja sama, yaitu Bankaltimtara. Bank lain belum ada kerja sama.
“Kami sudah berupaya untuk menjalin kerja sama dengan beberapa bank; BTN, BRI, dan Bank Mandiri, tapi sampai sekarang belum ada respons,” kata Yayat kemarin.
Menurutnya, keberadaan perumahan Jokowi sangat dibutuhkan masyarakat Mahulu karena untuk membangun rumah sendiri biayanya mahal. Akibatnya, pekerja banyak mengontrak rumah. Apalagi di Kawasan perbatasan, harga barang mahal. Termasuk material bangunan.
Saat ini, Real Estate Indonesia (REI) Kaltim Tengah mengupayakan membantu program pengadaan hunian bersubsidi dengan bekerja sama perbankan di Samarinda. (*/sya/kri/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria