SAMARINDA–Beberapa titik yang diduga jadi penyebab banjir kian terkendalikan. Seperti sungai alam yang berada di kawasan Perumahan Rapak Binuang dan Pondok Surya Indah (PSI), hingga kini kawasan itu sudah digali yang berdampak air mengalir dengan lancar menuju Sungai Karang Mumus (SKM).
Namun, Pemkot Samarinda meninjau beberapa segmen yang diduga sebagai pemicu terhambatnya air mengalir dari arah Jalan Wahid Hasyim menuju SKM. Sebab, parit tersebut dihuni rumput-rumput yang berakibat tersumbatnya aliran air. Titik drainase tersebut persis di depan kawasan stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) hingga menuju gerbang Perumahan Rapak Binuang.
Untuk diketahui, beberapa bangunan ruko termasuk SPBU diduga melebihi garis sempadan bangunan (GSB). “Setelah peninjauan ini, Senin atau Selasa kami akan ukur untuk menentukan pasti apakah masuk dalam GSB,” ujar Wali Kota Samarinda Andi Harun. “Tapi kemungkinan besar kena. Sebab, patokan GSB ada pada tiang listrik, karena tiang listrik lebih dulu hadir dari bangunan tersebut,” imbuhnya.
Rumah toko (ruko) yang berjejer itu beroperasi berbagai jualan, salah satunya menjual produk pompa air. Secara spesifik, lanjut dia, pagar mereka sedikit melebihi tiang listrik, yang artinya pagar-pagar tersebut berpotensi masuk GSB. Menurut keterangan dari pihak SPBU, tangki yang mereka tanam tidak masuk dalam GSB. “Kami sudah mendengar keterangan SPBU, dan meminta untuk memundurkan tugunya, sedangkan pagar (ruko) agak keluar. Selesai pengukuran, kami perintahkan untuk melakukan pembongkaran mandiri. Jika tidak diindahkan, kami akan turunkan tim pembongkaran dari pemerintah,” tegas politikus Gerindra itu.
Sementara itu, anak sungai di kawasan Perumahan Rapak Binuang yang terhubung ke SKM, dan kawasan Jalan Perjuangan mencapai panjang 1.937 meter, itu sudah dilakukan penggalian, sehingga aliran air berjalan lancar. Namun, Andi Harun menegaskan perlu adanya pembangunan turap kiri dan kanan agar pengendalian banjir bertahan jangka panjang. Saat ini proyek turap tersebut masih kurang 1.137 meter, itu terdiri dari 800 meter daerah SKM dan 337 meter dari kawasan hulu.
“Jika dilanjutkan, proyek itu menelan anggaran kurang lebih Rp 12 miliar, tapi itu hanya pembangunan fisik (turap),” jelasnya.
Dalam peninjauan lalu, salah satu warga Perumahan Rapak Binuang Yuliati berkesempatan menyampaikan aspirasinya terhadap Andi Harun. Yuli menjelaskan, fenomena pengemudi yang hendak masuk ke perumahan tersebut sering nyemplung di parit, tepat di depan gerbang Perumahan Rapak Binuang. “Saya sebagai warga sering melihat mobil dan motor masuk di lubang samping gapura itu. Saya juga takut kalau terjadi sama anak dan keluarga saya,” ucap Yuli.
Saat dikonfirmasi harian ini, Yuli menegaskan, kejadian itu sering terjadi walau kondisi banjir tidak datang. Dia berharap selain normalisasi anak sungai, pembatas parit di depan gapura perumahan itu dapat jadi solusi. “Tolong dibantu, minimal ada pembatas kiri kanan, kalau ada pembatasnya kan bisa aman,” pungkasnya. (dra/k16)
EKO PRALISTIO
pralistioeko@gmail.com
Editor : izak-Indra Zakaria