Jordania mengirimkan bantuan pasokan medis darurat ke rumah sakit lapangan di Jalur Gaza. Pengiriman bukan lewat jalur darat. Melainkan dengan sistem penerjun udara atau airdrop. Bantuan tersebut dijatuhkan dari udara di lokasi yang sudah ditentukan dengan menggunakan parasut. Rumah sakit itu dikelola Jordania sejak 2009.
”Personel angkatan udara kami yang tak kenal takut mengirimkan bantuan medis darurat ke rumah sakit lapangan Jordania di Gaza pada tengah malam. Ini adalah tugas kita untuk membantu saudara-saudari kita yang terluka dalam perang di Gaza,” bunyi unggahan Raja Jordania Abdullah II (6/11) di media sosial X seperti dikutip Al Jazeera.
Militer Israel menyatakan bahwa pengiriman bantuan via udara itu sudah dikoordinasikan dengan mereka. Selain alat medis, terdapat juga kiriman makanan. Bulan lalu beberapa media melaporkan bahwa rumah sakit yang dikelola Jordania itu terancam tidak bisa beroperasi jika blokade terus dilakukan dan tidak ada bantuan yang masuk.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengungkapkan bahwa sehari sebelumnya mereka telah membombardir sekitar 450 lokasi. Middle East Monitor mengungkapkan, salah satu yang luluh lantak akibat serangan Israel adalah Al Azhar University. Awal bulan lalu IDF juga telah mengebom Islamic University of Gaza. Sekolah, rumah sakit, permukiman penduduk, dan tempat pengungsian juga tidak lepas dari sasaran.
IDF mengklaim telah mengepung Gaza City yang terletak di sisi utara. Tingginya pengeboman juga membuat saluran komunikasi kembali terputus. Pemimpin Rumah Sakit Al Shifa di Gaza mengungkapkan bahwa korban tewas dalam serangan Minggu malam mencapai setidaknya 200 orang.
Total korban jiwa di Jalur Gaza sudah mencapai 10.022 orang. Setidaknya 88 staf Badan Pengungsi PBB untuk Palestina (UNRWA) tewas. Itu merupakan korban jiwa staf PBB tertinggi dalam satu area konflik. Presiden AS beberapa waktu lalu sempat mempertanyakan keakuratan angka kematian yang dirilis Kementerian Kesehatan Hamas tersebut. Namun, WHO menegaskan bahwa angka itu bisa dipercaya.
Pada Minggu pimpinan 18 badan PBB dan LSM mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam pengepungan di Gaza sebagai hal yang tidak dapat diterima. Mereka menyerukan agar bantuan disalurkan dengan aman, cepat, dan dalam skala yang dibutuhkan.
Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Josep Borrell mengatakan dalam pidatonya kemarin bahwa situasi di Timur Tengah saat ini adalah hasil dari kegagalan politik dan moral kolektif karena kurangnya kemauan untuk menyelesaikan masalah Israel-Palestina. ”Saya pikir kita sebagai warga Eropa mempunyai kewajiban moral dan politik untuk terlibat, tidak hanya dengan memberikan bantuan, tetapi juga berkontribusi terhadap solusi jangka panjang,” tuturnya seperti dikutip The Guardian.
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken saat ini berada di Turki untuk membahas masalah Gaza. Namun, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dikabarkan berencana melakukan perjalanan melintasi wilayah timur laut Turki yang terpencil. Itu tampaknya merupakan sinyal penghinaan terhadap utusan AS tersebut. Blinken telah mendukung Israel sambil mencoba meyakinkan para pemain regional bahwa Washington fokus untuk meringankan penderitaan kemanusiaan di tengah serangan darat yang sedang berlangsung di Gaza.
Afrika Selatan mengikuti jejak tujuh negara lainnya dengan memanggil pulang diplomat mereka di Israel. Mereka prihatin dengan pembunuhan yang dilakukan pasukan IDF di Gaza. ”Kami yakin respons yang dilakukan Israel adalah hukuman kolektif,” ujar Menlu Afrika Selatan Naledi Pandor. Dia menambahkan bahwa negaranya akan terus menyerukan gencatan senjata komprehensif di Palestina.
Sementara itu, Iron Dome yang seharusnya melindungi penduduk Israel dari serangan rudal Hamas mengalami malafungsi. Dalam video terverifikasi yang beredar, tampak misil yang seharusnya menghalau roket Hamas justru berputar dan jatuh di permukiman serta rumah sakit yang berada di Kota Rishon LeZion, selatan Tel Aviv. (sha/c9/oni)
Editor : izak-Indra Zakaria