Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Angka Harapan Hidup Laki-Laki Indonesia Lebih Rendah

izak-Indra Zakaria • 2023-12-13 10:54:47
-
-

JAKARTA–Hampir seluruh penduduk Indonesia sudah menjadi peserta BPJS Kesehatan. Data BPJS Kesehatan ini bisa menjadi cerminan kondisi masyarakat. Selasa (12/12), BPJS Kesehatan meluncurkan tabel mortalitas dan morbiditas penduduk Indonesia yang salah satu faktanya menyatakan laki-laki lebih cepat meninggal dunia dibanding perempuan.

Deputi Direksi Bidang Aktuaria BPJS Kesehatan Benjamin Saut menyatakan, adanya tabel mortalitas ini dapat menjadi dasar perencanaan dan perhitungan dalam menyusun iuran jaminan sosial, pembangunan kesehatan, hingga kesejahteraan sosial. Selain itu, dapat menginformasikan tentang peluang tren kematian, angka kesakitan, dan angka harapan hidup.

Ada 254.872.335 data sesuai jumlah peserta yang diamati dari 2018 hingga 2022. “Dari data ini ada yang tidak dipergunakan karena ada NIK yang kosong, setelah pemadanan tanggal lahir eror,” ucapnya.

Temuan dari tabel ini, terlihat dalam lima tahun crude death rate (CDR) atau ukuran tingkat kematian dalam satu populasi pada periode tertentu di Indonesia terendah pada 2020. Yakni 4,80 per 1.000 penduduk. Sementara tertinggi terjadi di 2022 pada angka 6,12 per 1.000 penduduk.

“Usia peluang kematian laki-laki lebih tinggi daripada perempuan,” tuturnya. Rata-rata peluang kematian laki-laki di usia produktif lebih tinggi. Sayangnya dalam publikasi ini belum ada data soal penyebab kematian. Sebab, tim masih melakukan investigasi terkait penyebab kematian ini.

Sementara itu, untuk angka harapan hidup, laki-laki Indonesia rata-rata memiliki angka harapan hidup 73,74. Sedangkan perempuan 78,37. Artinya, perempuan lebih panjang umur. “Faktor yang menjadi penyebab adalah sistem kesehatan, sosial ekonomi, demografi, angka kematian ibu, angka kematian bayi, dan lingkungan,” ungkapnya.

Deputi Kependudukan dan Ketenagakerjaan Bappenas Maliki menyebut, data yang disajikan BPJS Kesehatan ini sangat bermanfaat. “Akan bisa kami gunakan dalam perencanaan dan eksekusi program,” tuturnya.

Penduduk Indonesia sedang transisi demografi. Angka penduduk di usia tua ke depan akan lebih banyak. Saat ini saja angka lanjut usia mencapai 22 juta orang. “2045 persen usia penduduk di atas 65 mencapai 14 persen,” tuturnya.

Kehadiran tabel mortalitas dan morbiditas ini menurut Maliki akan memberikan pemicu agar dapat mendesain keuntungan yang diberikan oleh jaminan kesehatan nasional (JKN) menjadi lebih adaptif lagi.

“Ke depan penduduk akan semakin banyak, kami harapkan dengan tabel ini dapat mendukung reformasi jaminan kesehatan ini berdasar kerentanan. Tidak hanya kerentanan ekonomi,” tutur Maliki. Kerentanan ini bisa jadi pertimbangan dalam bantuan iuran kepesertaan JKN.

Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Iwan Pasila menyebutkan, inflasi pada sektor kesehatan angkanya lebih tinggi daripada inflasi ekonomi. Terakhir inflasi Indonesia di sekitar 3 persen, tapi di sektor kesehatan inflasinya mencapai 9 persen. Ini menjadi alasan harus ada intervensi di sektor kesehatan. “Mulai dari over-use, ditambah kebiasaan hidup pemegang polis membuat membengkaknya biaya kesehatan,” ucapnya.

Dia mendorong agar ada perbaikan di industri asuransi Indonesia. Caranya dengan memperbaiki ekosistem kesehatan. Mulai mendorong masyarakat untuk menjalankan pola hidup dengan baik dan deteksi dini. Lalu, ketika membutuhkan layanan kesehatan, bisa dilakukan konsultasi via telemedicine.

“Ini perlu didorong untuk efisiensikan biaya,” ungkapnya. Dengan adanya database yang sedang dikembangkan BPJS Kesehatan ini bisa digunakan oleh Kementerian Kesehatan dalam menata ekosistem ini.

Direktur BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti menyebutkan akan mempertimbangkan berbagai faktor hal ini. Sejauh ini utilisasi yang dibayarkan BPJS Kesehatan untuk rumah sakit mencapai Rp 40 triliun. Dengan ada data ini bisa proyeksikan kapan harus mengubah iuran. “Banyak hal lain juga yang perlu dieksplorasi. Misal cost sharing (dalam klaim) karena di banyak negara yang menerapkan ini,” ujarnya. (lyn/jpg/dwi/k8)

Editor : izak-Indra Zakaria