SAMARINDA—Setelah sosialisasi tempat relokasi pedagang Pasar Pagi terselenggara, Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda mengumpulkan pedagang untuk membagi lapak. Menggunakan sistem cablot atau undian agar tidak menimbulkan kecemburuan.
Kepala Disdag Samarinda Marnabas Patiroy mengatakan, pertemuan kedua di Segiri Grosir merupakan tindak lanjut dari agenda yang pertama. Yakni pengundian untuk menentukan para pedagang bisa berjualan di kios-kios yang telah disediakan.
Hampir 90 persen pedagang hadir dan sebagian pedagang ada pula yang mengurus administrasi. Misalnya, memperpanjang surat keterangan tempat usaha berjualan (SKTUB), Disdag juga sudah sediakan.
“Kami juga menyediakan tempat pengaduan. Misalnya begini, ada tempat yang kurang baik fasilitasnya seperti pintu lapak tidak bisa di buka, atau ada tetesan air bila hujan, itu akan kami tampung dan di sampaikan kepada pihak Segiri Grosir untuk dibenahi,” kata Marnabas, (21/12).
Untuk yang direlokasi, lanjut Marnabas, didominasi pedagang klaster konveksi dan emas. Para pedagang itu berjualan di Pasar Pagi, khususnya di lantai tiga dan dua. Namun, tidak menutup kemungkinan bila nanti kuota di Segiri Grosir masih ada tempat, pedagang di lantai satu bisa ikut ke Segiri Grosir.
“Nah, untuk di Mal Plaza Mulia saat ini masih dalam proses. Di mal itu akan ditempati pedagang yang berjualan di lantai satu. Namun bisa saja pedagang yang di lantai satu ikut di sini (Segiri Grosir). Tapi, itu sebagian, dan saat ini pedagang yang berada di lantai tiga dan dua difokuskan,” terangnya.
Sementara itu, Jufriansyah selaku pedagang konveksi mengatakan, metode yang digunakan untuk menentukan lapak bagi pedagang dapat dikatakan sudah baik. Sebab, para pedagang ikut memantau secara berkala agar pengundian benar-benar dilakukan secara adil.
“Kami membenarkan terkait pengundian itu, dan metodenya adil. Bahkan, semua disamaratakan, dalam hal ini walaupun ada yang dekat dengan pemerintah tapi tetap dilakukan sistem cablot,” ujarnya.
Mengenai perbedaan lapak yang didapatkan, Jufriansyah menegaskan, memang terdapat perbedaan lapak dari pasar sebelumnya ke tempat relokasi (Segiri Grosir). Namun, hal tersebut tak menjadi soal. “Yang penting layak, sebagaimana yang kami usulkan beberapa waktu lalu. Kami melihat dari aspek keamanan, fasilitas pendukung sudah cukup. Karena, tempat itu kan hanya untuk penampungan sementara,” jelasnya.
Selain itu, lanjut Jufriansyah, kami berharap Pemkot Samarinda dapat memperkenalkan ke khalayak publik terkait tempat penampungan sementara bagi pedagang Pasar Pagi. Peresmian itu diharapkan sebagai langkah untuk memperkenalkan sekaligus menjaga pendapatan para pedagang.
“Kami berharap jadi satu pintu langsung dari pemerintah, dan itu sangat dibutuhkan. Apalagi, tidak semua pedagang mempunyai kemampuan untuk menyebarkan informasi tentang tempat relokasi pedagang, pemerintah bisa saja mengundang media-media di Samarinda sebagai sarana untuk menjelaskan kepada publik,” kuncinya.
Kembali ke Marnabas, setelah relokasi di Segiri Grosir tuntas, akan ada seremoni peresmian. “Itu pada 30 Desember mendatang. Setelah pedagang menempati kios di Segiri Grosir dan diresmikan Pak Wali Kota,” pungkasnya. (kri)
EKO PRALISTIO
pralistioeko@gmail.com
Editor : izak-Indra Zakaria