Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Zurich Biduk

uki-Berau Post • 2023-12-26 19:09:59
-
-

SUDAH sepekan teman saya tidak ada aktivitas di tempat bekerjanya. Padahal ditargetkan selesai akhir tahun ini. Terus, kenapa terhenti?

Kehabisan bahan. Banyak tempat yang selama ini menjual bahan bangunan, tak tersedia, kata teman saya itu. Kalau semen dan bahan lainnya ada. Yang sulit didapatkan sekarang batu pecah, tambahnya. Batu pecah alias batu Palu. Batu yang didatangkan khusus dari Palu.

Kalau pekerjaan campuran beton tanpa batu palu tak bisa berbuat apa-apa. Karena itu, sepekan ini puluhan pekerja yang terlibat, terpaksa berhenti bekerja sementara. Situasi yang sama dihadapi mereka yang punya kegiatan membangun.

Beruntung tempat bekerjanya teman saya itu, buka pekerjaan yang dananya dari pemerintah. Kalau tidak, bisa-bisa kena penalti, seperti yang dialami proyek yang ada di Talisayan. Kena denda Rp 6 juta per hari.

Kemarin itu, saya melewati Jalan Mulawaran. Salah satu ruas jalan yang sedang ditingkatkan dari jalan aspal menjadi jalan konstruksi beton. Sebagai proyek yang dananya dari APBD kabupaten, pastilah kejar-kejaran dengan waktu.

Saya melihat aktivitas belasan pekerja, hanya sibuk menyempurnakan satu sisi jalan yang sudah dicor. Sementara sisi lainnya, bisa dilewati warga karena belum ada aktivitas. Saya pikir, ini salah satu pekerjaan yang jadi korban kosongnya bahan campuran beton.

Bisa jadi, pekerjaan di Jalan Mulawarman hanyalah salah satu pekerjaan yang didanai pemerintah daerah, yang bisa mengalami keterlambatan. Mobil molen berukuran besar, juga tak terlihat wara wiri di jalan raya.

Karena hanya batu palu yang direkomendasi bisa digunakan, saya menduga bahan batu pecah itu tersedot ke pembangunan IKN. Menurut kabar seperti itu, daeng, kata teman saya yang aktif di dunia kontraktor.

Kalau semua kebutuhan batu palu, kontraktor lebih memilih memasok ke IKN, daerah lain yang memerlukan bahan yang sama akan mengalami kerugian. Rugi waktu dan dana. Juga akan ada penundaan pekerjaan hingga tahun depan.

Dulu saya pernah mendengar, ada pasokan batu Tawau yang kualitasnya sama dengan batu Palu. Kenapa bukan memilih batu Tawau lagi? Rupanya kontraktor mengalami kesulitan. Statusnya sebagai barang impor. Juga sekarang kabarnya prosedurnya semakin sulit. Harganya juga lebih mahal. Transaksinya dengan mata uang Malaysia.

Di daerah Swaran, sekitar pabrik Pulp Kiani Kertas, banyak gunung dengan batu yang keras. Sayangnya, menurut kontraktor tidak memenuhi standar. Kalau itu memungkinkan, Berau tidak akan kesulitan batu untuk campuran beton.

Bagaimana dengan pekerjaan teman saya Oetomo Llianto yang punya Ready Mix. Punya keluhan yang sama. Sudah beberapa hari ini, kawasan pabriknya sudah tidak ada aktivitas. Semen banyak, pasir banyak. Batunya yang tidak ada. Bagaimana mau bekerja.

Padahal pekerjaan beton yang ditangani teman saya itu cukup banyak. Terutama pekerjaan jalan ke pesisir pantai. Semua terhenti. Sambil menunggu kabar, apakah perusahaan pemasok batu di Palu bisa kembali memenuhi pesanan mereka. Saat ini semuanya dipasok untuk pembangunan IKN di Penajam Paser Utara.

Saat minum kopi di warung Hokky empat hari lalu bersama Oetomo Lianto, ia memang terlihat gelisah. Pekerjaan jalan beton yang ditangani tersisa tiga ratus meter. Masih memerlukan bahan yang banyak. Terutama batu palu. Pusing aku kalau begini situasinya, kata Oetomo Lianto alias Pak Aliang.

Dari pada pusing memikirkan batu Palu, sehari sebelum hari Natal ia memilih liburan saja ke Bidukbiduk. Ada resor yang baru dibangun Pak Yansen mitra kerjanya, di poros jalan menuju Teluk Sumbang.

Lokasinya berhadapan dengan Pulau Kaniungan Besar. Persis pada posisi yang tepat disaat matahari terbit dan terbenam. Cantik sekali. Mana cantik Bidukbiduk dengan pemandangan Kota Zurich ibu kota Swiss.

Kenapa dihubungkan dengan dua kota yang tidak sepadan itu? Pak Aliang itu, sebetulnya pada liburan Natal dan tahun baru, bersama keluarganya berencana ke Swiss. Tiba-tiba sehari menjelang keberangkatan, ia membatalkan untuk ikut. Padahal sudah buka tiket bisnis.

Kenapa? Cuaca di Zurich sekarang itu, kabarnya minus 15 derajat. Apa yang bisa dinikmati dengan cuaca seperti itu. Lebih baik ke Bidukbiduk saja. Bisa menikmati ikan bakar. Bisa menikmati udara yang bersih. Bisa leluasa berenang. Dan, bisa menikmati indahnya matahari terbit dan terbenam. Zurich, Swiss memang kota yang indah. Jangan salah pantai Bidukbiduk juga lebih menggoda. (*/sam)

@cds_daengsikra

Editor : uki-Berau Post
#Catatan