Dalam empat keikutsertaan sebelumnya di Piala Asia, Indonesia selalu kandas di fase grup. Bagaimana dengan edisi 2023? Kami mewawancarai secara terpisah Sho Yamamoto, Brwa Nouri, dan Indra Sjafri untuk menganalisis kekuatan dan kelemahan ketiga calon lawan Indonesia.
BAGUS PPFARID SM, Surabaya-TAUFIQ A, Jakarta
“Musuh Jepang cuma cedera.”
Sho Yamamoto, gelandang Persis Solo asal Jepang
BOLEH nggak sih saya sombong? Jepang sudah ada di level berbeda. Mereka terlalu superior untuk timnas-timnas negara Asia. Mau buktinya? Lihat saja statistik Jepang di laga internasional. Samurai Biru selalu menang dalam sepuluh laga internasional terakhir. Statistiknya juga gila: mencetak 45 gol dan hanya kebobolan 6 kali.
Lawan yang dihadapi juga tidak sembarangan. Salah satunya menang 4-1 atas juara dunia empat kali Jerman. Jadi, maaf ya, Jepang jelas akan jadi lawan berat bagi Indonesia di grup D Piala Asia 2023. Jika kedua tim bertemu, berapa skornya? Saya tidak tahu. Tapi, yang jelas Jepang akan mencetak banyak gol.
Memang gelandang Brighton Kaoru Mitoma tidak ikut serta karena cedera. Tapi, itu tidak akan jadi masalah. Sebab, Jepang punya banyak senjata lainnya. Saya sebut dua nama saja: Takefusa Kubo (Real Sociedad) dan Junya Ito (Stade de Reims).
Keduanya akan jadi pemain kunci. Dan, dengan komposisi saat ini, saya yakin akan satu hal: Jepang bakal finis sebagai juara grup D. Kenapa? Ya karena Jepang punya banyak pemain yang merumput di Eropa. Dari 26 pemain, 19 di antaranya bermain di Benua Biru.
Mereka selalu bermain di level tertinggi. Artinya, mereka sudah terbiasa dengan tekanan tinggi. Lalu, apakah Jepang punya kelemahan? Saya melihat ada satu hal yang bisa menghentikan laju Jepang meraih gelar Piala Asia kelima: cedera. Banyak pemain yang merumput di Eropa sebenarnya juga jadi ancaman. Intensitas pertandingan yang dijalani cukup tinggi. Jadi, mereka juga rentan cedera. Kalau cedera bisa dihindari, saya yakin Jepang akan lolos ke babak berikutnya dengan mudah dan bersaing meraih gelar juara.
***
“Ke perempat final tak akan sulit bagi Irak.”
Brwa Nouri, mantan gelandang Bali United dan timnas Irak
Irak datang ke Piala Asia dengan skuad yang sangat baik. Komposisi tim lengkap, ditunjang sosok pelatih Jesus Casas yang berpengalaman. Jadi, saya yakin mereka akan berbicara banyak di Piala Asia kali ini.
Jesus Casas bisa membuat pemain nyaman. Ditunjang kecerdasannya dalam melihat situasi di lapangan. Irak setidaknya punya tiga pemain yang saya kira bisa menjadi senjata penting: Bashar Resan, Amjad Attwan, dan Ali Adnan. Bashar berpengalaman di timnas sejak junior, Amjad sudah bermain di banyak klub Asia, sedangkan Ali dengan jam terbangnya di Eropa.
Paling tidak, masuk perempat final tidak akan sulit dilakukan Irak. Untuk itu, pertandingan pertama melawan Indonesia adalah kunci. Saya tidak bisa menjawab berapa skor yang akan tercipta di laga tersebut.
Yang jelas, Irak lebih kuat daripada Indonesia. Lebih punya banyak pemain matang yang bisa jadi senjata. Kemenangan 5-1 atas Indonesia di kualifikasi Piala Dunia 2026 beberapa bulan lalu adalah bukti. Namun, saya tetap berharap Indonesia bisa melangkah lebih jauh di Piala Asia ini. Tentu bersama Irak.
***
“Menjebak Vietnam dengan sayap cepat.”
Indra Sjafri, pelatih timnas U-22 di SEA Games 2023 mengalahkan Vietnam di semifinal
Vietnam tim yang sangat berbahaya dan sulit diprediksi. Apalagi sejak posisi pelatih berpindah dari Park Hang-seo ke Philippe Troussier. Meski begitu, bukan berarti Vietnam tidak bisa dikalahkan.
Saya masih ingat ketika Indonesia berhadapan dengan Vietnam di semifinal SEA Games 2023. Dalam pertandingan itu, kita memang menang 3-2. Namun, butuh perjuangan ekstra untuk meraihnya.
Ketika itu salah satu strategi saya adalah memperkuat lini tengah dan memasukkan sayap cepat untuk melancarkan serangan balik cepat. Pemain yang saya pilih untuk mempertebal lini tengah adalah Taufany Muslihuddin. Lalu, pemain cepat di sektor sayap itu Irfan Jauhari.
Setelah dua pemain itu masuk, rencana saya untuk menerapkan serangan balik cepat berhasil. Kita punya banyak momentum untuk merepotkan lawan. Dan, momentum untuk melancarkan serangan balik makin terbuka saat skor imbang 2-2.
Dalam posisi imbang, Vietnam terus-menerus menekan untuk berusaha mencetak gol ke gawang Indonesia. Namun, lewat satu serangan balik jitu, kita berhasil menutup pertandingan menjadi 3-2 lewat Taufany.
Vietnam yang di Piala Asia kali ini kabarnya banyak menurunkan pemain di bawah usia 23 tahun terperangkap dengan taktik tersebut. Mereka menggebu-gebu untuk menyerang. Tapi, mereka tidak siap untuk mengantisipasi serangan balik.
Saya pikir, setiap Indonesia bertemu Vietnam, pertandingan bakal selalu berjalan ketat dari menit pertama sampai akhir. Namun, saya yakin Indonesia bakal meraih hasil maksimal melawan Vietnam di Piala Asia nanti. (*/c9/ttg/jpg/dwi/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria