Tergerak atas tren melukai diri serta tingginya tingkat depresi di kalangan anak-anak muda, sekelompok mahasiswa di UNS dan Unair menciptakan aplikasi pengatur emosi.
LAILATUL FITRIANI, Surabaya
HATI keenam mahasiswa Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta tergerak tatkala mendengar cerita sang dosen soal penelitian tesisnya. Disebutkan, kalangan mahasiswa banyak melakukan non suicidal self injury (NSSI) alias perilaku melukai diri dengan sengaja tanpa dibarengi niat untuk mengakhiri hidup.
Keresahan itu mendorong Naura Nazifah dan kelima kawannya melakukan survei sampling kepada para mahasiswa di kampus mereka. ”Hasilnya, 51,5 persen mengaku kesulitan meregulasi emosi di mana itu dapat mencetuskan terjadinya NSSI. Salah satu penyebabnya memendam masalah," ujarnya saat dihubungi Jawa Pos dari Surabaya pada akhir Desember lalu.
Naura bersama Eka Yulianasari, Fatimah Nur, Lolya Wagmi, Ni Putu Gita Indah, dan Nikta Rosyida Nurul kemudian memutuskan untuk membentuk tim. Mereka kemudian menciptakan aplikasi pengatur emosi berbasis web progresif bertajuk Narajiwa. ”Aplikasi ini bertujuan membantu mahasiswa dalam meregulasi emosi agar tersalurkan dengan baik sehingga dapat menurunkan frekuensi perilaku NSSI," jelas mahasiswi 21 tahun itu.
Naura menyebutkan, kemampuan meregulasi emosi penting dimiliki tiap individu untuk dapat mengontrol emosi negatif yang dirasakan. Aplikasi Narajiwa akan membantu mengelola emosi pengguna jadi lebih positif lewat penerapan psikologi positif. ”Beberapa contohnya seperti pemberian afirmasi positif, journaling, pengenalan emosi diri, hingga curhat," lanjut dia.
Semua dikemas lengkap dalam fitur-fitur Narajiwa. Ada fitur mode tracker untuk memonitor emosi, fitur naracerita untuk curhat, dan fitur night capsule yang berisi afirmasi positif yang bisa didengarkan kapan pun dan di mana pun. Juga fitur nara-breath untuk melatih pernapasan, fitur nara-journal, naratips, dan nara-challenge. ”Kami masukkan juga fitur seeking help berisi kontak-kontak jika butuh bantuan profesional," imbuhnya.
Mereka butuh sekitar lima bulan untuk mewujudkan aplikasi itu. Prosesnya melewati banyak tahapan. Mulai brainstorming ide, assessment, riset, pembuatan aplikasi, eksperimen, hingga penyempurnaan.
Hingga akhir Desember lalu sudah 1.836 pengguna yang mengakses Narajiwa sejak resmi dirilis pada awal November kemarin. ”Beberapa pengguna yang kami wawancarai mengatakan bahwa aplikasi ini membuat mereka lebih mensyukuri apa yang mereka lalui. Banyak juga yang merasa lebih lega setelah curhat di naracerita," ungkapnya. Aplikasi Narajiwa mengantarkan Naura dan timnya lolos pendanaan program hibah riset keilmuan MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka).
Sementara itu, SEJATI, aplikasi yang juga concern pada kesehatan mental, berhasil membuat Nidya Almira Xavier lulus dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya tanpa skripsi. Sebagai gantinya, dia mengikuti program kreativitas mahasiswa (PKM) dengan aplikasi SEJATI sebagai output. ”Bentuknya masih berupa prototipe dengan berbagai fitur dan sudah diuji coba beberapa orang. Sayangnya belum bisa dapat medali," ucapnya.
Namun, Nidya berharap aplikasinya bisa dilanjutkan dan dikembangkan. Sebab, depresi masih menjadi gangguan mental dengan prevalensi tertinggi di Indonesia. Terutama pada kelompok remaja. ”Masih banyak stigma buruk tentang kesehatan mental di masyarakat yang bikin seseorang takut atau bahkan malu ke psikolog dan itu bisa jadi bom waktu," tutur perempuan asal Serang, Banten, tersebut.
Nidya merasa remaja akan lebih nyaman melakukan konsultasi secara virtual. Dia menangkap karakter remaja yang senang akan digitalisasi dan kepraktisan. Salah satu fitur utama yang dia hadirkan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan yang dapat mendengarkan dan menanggapi cerita pengguna lewat ENO Chatbot. ”Selain itu, ada fitur moodtracker, artikel seputar kesehatan mental, rekomendasi aktivitas selfcare, dan psikolog terdekat," tambah mahasiswi 23 tahun tersebut.
Setahun sejak lulus sebagai wisudawan terbaik, Nidya berharap bisa merealisasikan prototipe aplikasi buatannya itu. Kesibukannya di tempat kerja dan biaya yang tidak sedikit karena terhubung ke jaringan internet serta menggunakan sistem AI (artificial intelligence) jadi pertimbangan. ”Kalau waktunya ada, timnya terbentuk, dan biaya bisa dikelola, semoga aplikasi ini bisa terwujud," harapnya. (*/c9/ttg)
Editor : izak-Indra Zakaria