Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Bahas Pengaruh Tour de France ke Tour de Singkarak di Disertasi

uki-Berau Post • Sabtu, 20 Januari 2024 - 03:36 WIB
RAIHAN AKADEMIK: Endarman Saputra didampingi istri, Adek Damayanti, dan anaknya, Kautsar Adzkia Satria Perkasa, setelah sidang disertasi di Lyon (15/1).
RAIHAN AKADEMIK: Endarman Saputra didampingi istri, Adek Damayanti, dan anaknya, Kautsar Adzkia Satria Perkasa, setelah sidang disertasi di Lyon (15/1).

Dalam penelitiannya, Endarman Saputra menemukan gelaran ala Tour de France dipilih karena tak memerlukan biaya tinggi seperti Formula 1 dan MotoGP. PPI Dunia menyematinya PhD sport management pertama di Indonesia, Endarman berkeinginan membentuk asosiasi tempatnya bisa berkolaborasi dengan pakar serta pelaku.

 

I’IED RAHMAT RIFADIN, Surabaya

 

APA pengaruh Tour de France yang melintasi berbagai wilayah Prancis terhadap Tour de Singkarak yang dihelat di Sumatera Barat? Itulah inti yang coba diungkap Endarman Saputra dalam disertasinya.

Disertasi itu ternyata menarik hati dewan penguji di Claude Bernard University Lyon 1. Pada 15 Desember lalu, dia berhasil mempertahankan disertasi tersebut sekaligus menyelesaikan studi doktoral setelah 3 tahun bermukim di Lyon, Prancis.

Biro Pers Media dan Informasi Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia merilis Endarman sebagai PhD pertama di bidang sport management di Indonesia. Demikian pula situs resmi Universitas Jambi tempat Endarman mengajar.

"Saya tidak punya data pastinya," kata Endarman tentang status yang disematkan PPI Dunia dan Universitas Jambi. "Tapi, yang pasti, saya bersyukur dan bangga bisa menyelesaikan doktoral saya. Dan, tak kalah penting, bagaimana kontribusi saya untuk tanah air sepulang studi," lanjut pria yang pada 21 Januari ini bakal genap berusia 46 tahun itu, ketika dihubungi Jawa Pos via telepon dari Surabaya (7/1).

Endarman patut bangga karena yang menguji disertasinya adalah para ahli sport management and marketing, sporting event, sport tourism, sport branding, dan sport sociology terpandang di Eropa. Yakni, Profesor Nicolas Chanavat (Universite de Rouen Normandie), Profesor Bastien Soule (Unversite de Lyon 1), Dr Anne-Marie Lebrun (Universite de Bourgogne Franche-Comte), dan Dr Noemi Garcia-Arjoba (Universite Renne 2).

Selama menjalani studi di Lyon, dosen Universitas Jambi itu dibimbing Profesor Guillaume Bodet. Dia adalah peneliti berpengalaman dan telah memiliki reputasi internasional di bidang sport marketing, sport tourism, maupun sport event.

Endarman berangkat ke Prancis dengan beasiswa proyek Advance Knowledge and Skills for Sustainable Growth in Indonesia (AKSI). Proyek itu didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI serta Asian Development Bank (ADB).

Dalam penelitiannya, Endarman menemukan bahwa gelaran Tour de Singkarak memang terinspirasi lekat dengan Tour de France. Gelaran yang kali pertama digelar pada 2009 itu berawal dari keinginan H Gusmal selaku bupati Solok, Sumatera Barat, kala itu untuk mengembangkan potensi wisata di wilayahnya.

Gusmal mendatangi Kementerian Pariwisata di Jakarta. Dia meminta bantuan kementerian itu agar Kabupaten Solok yang memiliki danau indah bernama Singkarak bisa lebih dikenal warga Indonesia maupun dunia.

Setelah melalui berbagai kajian, terpilih event balap sepeda seperti Tour de France untuk memperkenalkan Danau Singkarak. ’’Pertimbangan saat itu, event ini lebih murah dibanding gelaran olahraga lain semisal F1 atau MotoGP. Karena hanya butuh jalan yang bagus,’’ jelas Endarman.

Seiring berjalannya waktu, Tour de Singkarak terbukti sukses mengenalkan wilayah itu di mata nasional dan internasional. Dengan masuknya Tour de Singkarak dalam kalender resmi Kejuaraan Federasi Balap Sepeda Dunia (UCI), para pembalap dari berbagai negara setiap tahun datang untuk memperebutkan poin di event tersebut. Endarman menambahkan, event itu juga sukses mengangkat perekonomian warga setempat.

Suami Adek Damayanti itu menyebut sport management memang bidang keilmuan yang unik. Di dalamnya membahas aspek-aspek khusus beberapa bidang sekaligus. Mulai manajemen hingga industri olahraga. ’’Sporting event di era saat ini harus dikemas semenarik mungkin untuk menopang industri wisata agar menjadi acara sport tourism,’’ katanya.

Sepulang dari Prancis, Endarman ingin bisa berkolaborasi dan mendirikan wadah para ahli sport management tanah air. Baik dari universitas, swasta, maupun profesional.

Di Indonesia sendiri, ada Asosiasi Profesor Keolahragaan Indonesia atau Apkori. Juga, Ikatan Sarjana Olahraga Indonesia. ’’Wadah organisasi perlu agar kontribusi kami yang menggeluti bidang ini lebih maksimal untuk tanah air. Ini memang tidak bisa dilakukan sendirian, butuh kolaborasi berbagai pihak,’’ ucap pria yang menyelesaikan studi S-1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga di Universitas Negeri Yogyakarta tersebut. (*/c18/ttg/sam)

Editor : uki-Berau Post
#feature