Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kemarau Jadi Berkah, Panen Durian Berlimpah di Kaltim

izak-Indra Zakaria • 2024-01-23 00:00:04
ilustrasi
ilustrasi

Mencari durian saat ini adalah waktunya. Hampir di setiap sudut jalan mudah ditemukan. Bahkan di berbagai daerah di Kaltim. Jenisnya pun beragam. Dengan harga yang relatif terjangkau.

 

MENGENDARAI sepeda motor matik, Hepi Eko Rahmanto mengaspal dari rumahnya di Jalan Soekarno-Hatta Kilometer 24, Karang Joang, Balikpapan Utara. Tujuannya ke kebun durian. Lokasinya di Kilometer 23.

Memasuki jalan di Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) Beruang Madu, Balikpapan. Dari jalan raya, perlu waktu 30 menit berkendara. Medan yang dilewati belum “bersahabat”. Hanya sebagian kecil yang sudah disemen. Sisanya masih jalan tanah yang dilapisi batu kerikil. Bahkan, beberapa titik tergenang dan licin.

“Itu jalan dibuat pemerintah. Namun, sudah lima tahun tidak ada sentuhan lagi. Batu kerikil itu swadaya petani sini supaya memudahkan kami keluar masuk kebun,” ungkap Eko yang membawa awak Kaltim Post masuk ke kawasan kebun durian, Jumat (19/1) pagi.

Eko merupakan kepala pengelola kebun durian. Tergabung dalam Kelompok Tani Dusma Sejahtera. Di bawah manajemen Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Bosifa.

Pemiliknya Triolla Siregar. Ada beberapa komoditas pertanian, mulai karet hingga buah-buahan. Namun khusus untuk durian, sejak lima tahun lalu, telah ditanam 1.100 pohon di atas lahan seluas 17 hektare. Menggunakan sistem okulasi, pada Desember 2023 lalu, akhirnya pohon menghasilkan buah masak untuk pertama kalinya.

“Itu merupakan panen perdana durian kami. Jenisnya beragam. Dari musang king, bawor, ochee (duri hitam), pelangi, dan banyak lagi jenisnya kecuali durian lokal. Semua jenis ini merupakan introduksi. Artinya, bibit yang kami dulu dapatkan merupakan bibit impor yang kemudian kami kembangkan. Dan yang panen kali ini jenisnya musang king, ochee, dan bawor,” jelas Eko.

Untuk panen perdana itu, Eko menyebut termasuk berhasil. Pasalnya satu pohon durian menghasilkan lebih dari 20 buah durian. Dengan kualitas premium dan minim kerusakan akibat hama. Itu berkat pemeliharaan yang maksimal. Mulai pemupukan sampai penyemprotan obat anti-hama. Selain itu ada faktor alam yang paling menguntungkan.

“Kita tahu Kalimantan ini untuk musimnya tidak menentu. Namun, kali ini karena musim kemaraunya cukup panjang, di mana hujan jarang terjadi, maka pohon menghasilkan bunga yang maksimal. Artinya, kemarau kemarin menjadi berkah bagi petani durian. Meskipun kami sadar, ada komoditas lain yang terdampak karena kemarau ini,” ungkapnya.

Tidak hanya panen yang melimpah, penjualan durian juga membawa berkah. Sehari, dibantu pekerja kebun, Eko mampu mengeluarkan 20 durian. Permintaan yang terus mengalir membuat jenis durian premium, seperti musang king dan ochee pun telah ludes dibeli pedagang dan konsumen langsung.

Ketika Kaltim Post berkunjung, hanya tersisa durian jenis bawor yang masih bergelantungan di pohon. Siap untuk dipanen seminggu atau dua minggu ke depan. “Kalau musang king harga petani itu Rp 250 ribu perkilogramnya. Kalau ini (bawor) Rp 100 ribu per kilogramnya. Beratnya untuk satu gelondongan (buah) antara 4-9 kilogram,” sebutnya sambil menunjukkan durian yang siap dipanen itu.

Kelebihan durian di kebun itu dibanding durian impor karena buah yang dipanen adalah yang telah jatuh. Artinya, memiliki tingkat kematangan yang maksimal. Berbeda dengan durian impor yang dipanen dengan dipetik dan mengalami proses pematangan di jalan. “Jadi rasanya tentu beda. Durian kami lebih nikmat,” klaimnya lantas menawarkan durian bawor kepada awak media untuk dicicipi.

Ditanya mengapa tidak menanam durian lokal? Eko menyebut dari pengalamannya tidak mudah. Selain harga ekonominya yang rendah, juga penjualannya yang susah. Apalagi, durian lokal sudah dikuasai petani di daerah lain, seperti Kutai Barat dan daerah di Sulawesi.

Yang ketika musim durian “membanjiri” pasar durian di Kaltim. Sementara, untuk durian premium seperti musang king, memiliki pasar yang lebih stabil dan harganya stabil tinggi. “Karena itu, kami lebih memilih durian premium ini. Apalagi, dengan sistem tanam dan pemupukan, kami akan mengupayakan bisa panen 15 bulan dua kali,” kata Eko.

Eko menambahkan, menanam durian memang menguntungkan. Namun yang mesti diketahui, petani atau pemilik pohon harus sabar. Misal untuk kebun ini saja, untuk mencapai titik impas atau break even point (BEP), perlu 10 tahun sejak masa tanam pohon pada 2019 lalu. Di atas masa tersebut, baru bisa menikmati keuntungan hasil berkebun durian.

“Durian bisa dikatakan investasi jangka panjang. Satu pohon ini bisa bertahan hingga 100 tahun jika dirawat dengan benar. Tempat kami lebih cepat panen karena sistem tanam dengan vegetatif. Sehingga, bisa memangkas masa panen setelah tanam. Namun tetap, harus sabar jika bicara soal keuntungan,” terangnya.

PRODUKSI MENINGKAT

Musim kemarau tak selamanya berefek negatif bagi tumbuhan. Buktinya, tahun ini hasil panen buah durian melimpah ruah. Itu lantaran hampir seluruh pohon durian yang memiliki nama latin Durio zibethinus itu mampu menghasilkan buah. Karena masa fotosintesis cukup. Sehingga, membuat bunga menjadi buah imbas dari masa kemarau yang panjang

Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim Siti Farisyah Yana kepada Kaltim Post menjelaskan, kemarau panjang tersebut menstimulasi tumbuh-tumbuhan yang memiliki akar tunggang. Sehingga, bukan hanya durian yang berbuah, tapi juga tanaman buah lokal Kaltim rata-rata berbuah semua.

“Seperti buah kapul itu tidak pernah berbuah, tapi tahun ini berbuah, ada juga (buah) ramania. Kemudian manggis, duku, langsat, dan lain sebagainya. Itu karena kemarau panjang menstimulasi tumbuh-tumbuhan sepanjang airnya cukup di tanah,” katanya.

Diklaim lantaran akar mereka tunggang atau tumbuh langsung ke bawah membuat asupan air tercukupi karena adanya air tanah walau pada kondisi kemarau. Itu pun membuat mereka tidak hanya tahan terhadap kemarau panjang, tapi dapat berfotosintesis bergeneratif dengan optimal.

“Tahun lalu ‘kan durian itu spot-spot. Ada tempat yang berbuah dan ada yang tidak. Tapi kalau sekarang merata berbuah, sehingga banyak. Itu bukan hanya dari Kaltim saja, tapi daerah Kalimantan dan Sulawesi. Mereka mengantarnya ke sini (Kaltim) dalam sehari. Jadi, harganya tidak terlalu tinggi sekarang,” bebernya.

Disinggung soal potensi Kaltim mengekspor buah durian, perempuan berjilbab itu menegaskan, setelah panenan, daerah yang belum sepenuhnya siap. Memang bisa dikatakan saat ini panen banyak hingga overload. Tapi, belum menyiapkan pasarnya di luar negeri.

“Mungkin nanti jadi pelajaran bagi kami. Ketika ada pameran-pameran, kami akan tampilkan juga durian-durian ini agar bisa masuk ke market internasional. Karena pernah kita membawa pisang awal pertama itu ditampilkan ke pameran-pameran,” kenangnya.

Hingga kemudian ada penandatanganan nota kesepahaman antara petani yang membawa display. Diklaim mengikuti cara tersebut paling relevan untuk mengenalkan produksi buah daerah ke pasar internasional.

“Tapi, persoalannya kalau pisang itu bisa bertahan (panen secara berkelanjutan). Sementara, durian musimannya sustainable (keberlanjutannya) yang harus dijaga. Kalau pisang sudah bisa kita jaga. Karena kalau kita ekspor enggak bisa menjaga permintaan di sela-sela mereka perlu, itu yang sangat berbahaya. Makanya, ke depan nanti coba data ulang lagi yang mana yang sustainable,” terangnya.

Kondisi puncak panen buah durian Januari ini belum tentu akan kembali didapatkan pada Maret mendatang. Sehingga, memang diperlukan teknologi agar petani bisa memanen durian secara berkelanjutan bukan tiap tahun seperti saat ini. “Produksi durian sampai masa panen, naik 200 persen. Yang tadinya hanya 80-90 ribu kuintal. Sekarang sampai 200 ribu kuintal untuk durian. Jadi, lebih dua kali lipat,” bebernya. (rom/k15)

Peliput:

M RIDHUAN

mad.dhuan@gmail.com

 

ASEP SAIFI

@asepsaifi

 

Editor : izak-Indra Zakaria