Perawat di Pedalaman Kaltim Ini Curhat, Bagaimana Perjuangannya Menjadi Tenaga Kesehatan
Indra Zakaria• 2024-03-18 15:10:00
BIASA JEMPUT BOLA: Sri Sahayu tak hanya melayani pasiennya di Puskesmas Pembantu Kampung Jelmu Sibaq, Kubar. Tapi juga mendatangi rumah warga yang memerlukan perawatan.
Peliput:
M RIDHUAN, Balikpapan
MUHAMMAD NAJIB, Paser
LUKMAN HAKIM MAHENDRA, Kubar
Menjalani pekerjaan sebagai perawat di daerah pedalaman punya beragam tantangan. Terlebih infrastruktur yang masih perlu mendapat sentuhan. Belum lagi kesejahteraan mereka yang mesti diperhatikan.
SUDAH lima tahun belakangan Sri Sahayu menjalani pekerjaan sebagai perawat. Sehari-hari dia bertugas di Puskesmas Pembantu Kampung Jelmu Sibaq, Kecamatan Bentian Besar, Kutai Barat (Kubar). Lokasi yang cukup jauh dari ibu kota provinsi di Samarinda.
Baginya, menjadi perawat di daerah terpencil cukup banyak tantangan. Seperti masih dipandang sebelah mata, profesi mulia itu dia nilai masih jauh kata sejahtera. Meski demikian, Sahayu tetap mensyukuri.
Bertugas di daerah pedalaman, meningkatkan infrastruktur dan kesejahteraan bagi perawat adalah dua hal utama yang diharapkan bisa terwujud melalui pesan pada momentum Hari Perawat Nasional tahun ini. Terlebih soal tunjangan bagi perawat di pedalaman memiliki keterbatasan.
Sahayu mengatakan di Kampung Jelmu Sibaq, tempatnya, ketersediaan akses masih menjadi tantangannya selama hampir lima tahun mengabdi sebagai perawat. Bahkan karena terisolasi, petugas medis tidak ada yang mau mengabdi untuk masyarakat di sini. Kondisi itu juga bagi Sahayu, menjadi tantangan baginya, sehingga perlu perjuangan.
Bahkan, pengalaman pahit pernah dia alami ketika kondisi hujan turun di tengah panggilan tugas melayani warga yang sakit. “Waktu itu malam, saya sepulang dari rumah warga yang sakit. Lokasi cukup jauh dari tempat saya tinggal. Kurang lebih satu jam waktu tempuh perjalanan. Lalu hujan tiba-tiba turun, ketika saya berada di jalan yang rusak. Tapi, beruntung bisa saya lewati dengan selamat walau hujan deras. Rasa takut pun sampai hilang karena berpikir harus melewati jalan rusak dengan selamat,” ungkap Sahayu menceritakan pengalamannya selama bertugas.
Berdasarkan pengalaman itu, pahit dan manis sudah dia lalui selama ini. Maka perlu memerhatikan kesejahteraan mereka yang bertugas di pedalaman. Ia menilai, tugas perawat di pedalaman dengan daerah perkotaan punya tantangan yang berbeda. Maka, perlu perhatian khusus bagi perawat di pedalaman dalam hal gaji.
Dia sadar, peran serta tanggung jawabnya sangatlah besar dan berat dalam memberikan pelayanan kesehatan. Namun, pandangan dan penghargaan terhadap profesi perawat masih terasa minim.
Kepada Kaltim Post, perempuan bersuku Dayak Bentian Besar itu ingin kepekaan pemerintah terkait apa yang diperlukan para perawat pedalaman saat ini. Ia mengaku tak berani menyampaikan secara gamblang, karena takut berdampak pada nasibnya.
Sebagai satu-satunya perawat di kampung itu, Sahayu bercerita, keraguan terhadap kemampuan pada perawat sering dijumpai. Stigma tersebut sangat memengaruhi tingkat kesejahteraan perawat. Namun, ia tak berkecil hati menanggapi persoalan itu. Sahayu tetap tegar dan teguh berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Ia berpesan kepada seluruh perawat agar tetap kuat dan bersemangat dalam menjalankan tugas di mana pun bertugas.
JALAN RUSAK
Sepuluh tahun menjadi perawat, membuat Dwi Astuti (32) tahan banting bertugas di mana pun. Dwi lama mengabdi di Tanah Grogot, Paser sebagai perawat. Namun, tiga tahun terakhir dia pindah ke desa yang cukup tertinggal di Paser, yaitu Desa Muser, Kecamatan Muara Samu. Mendapatkan amanah sebagai PNS bertugas di Puskesmas Muser, jadi pilihan Dwi berani pindah dari zona nyaman di ibu kota kabupaten.
Perbedaannya bekerja di kota dan desa menurutnya sangat signifikan. Di desa kondisi pekerjaannya mengharuskan untuk bisa kerja pagi dan jaga siang atau malam. “Seorang perawat harus benar-benar mempunyai kesiapan fisik maupun mental,” kata Dwi, Jumat (15/3).
Perawat di puskesmas desa biasanya diberi tugas program tambahan. Seperti bertugas di posyandu, usaha kesehatan sekolah (UKS), layanan lansia atau kegiatan yang lainnya juga menambah peningkatan kinerja perawat.
Dwi bersyukur sejak setahun terakhir, perawat di Puskesmas Muser sudah ditambah. Sehingga, pekerjaan yang biasa banyak bisa berkurang terbagi. Juga tidak terjadi kelelahan pada petugas seperti tahun sebelumnya.
Dia menjelaskan cara kerja di puskesmas desa sistem unit gawat darurat (UGD) dan rawat inapnya 24 jam. Setiap pagi sampai pukul 15.00 Wita yang tidak ada jaga siang atau malam di UGD, tetap diwajibkan untuk hadir saat pagi. Namun, siang hari bisa pulang kerja pukul 12.00 Wita dan kembali untuk jaga pukul 14.00 Wita. Kecuali bila ada rujukan keperawatan atau kebidanan, maka akan dilakukan oleh teman-teman yang tidak bertugas jaga siang dan malam.
Untuk pendapatan bertugas di puskesmas desa, tidak ada bedanya gaji bulanan dengan di kota yang diberikan oleh pemerintah. Namun, ada beberapa perbedaan bila pendapatan perjalanan ke desa-desa karena sulitnya rute jalan. Uang pendapatan perjalanan dinas lebih besar dibandingkan di kota. Meski tidak semua perawat mendapatkan pendapatan yang sama, bergantung dari berapa banyak kegiatan dinas di desa dan disesuaikan dengan program yang diamanahkan.
Tantangan terbesar menjadi perawat di desa adalah perjalanannya dari desa yang satu ke desa lain saat menjalankan program. Lokasi antar-desa yang jauh dan banyak sungai, terkadang bila hujan tak berhenti, akan membuat jalanan penuh lumpur, licin, dan sulit dilewati.
Di luar tugas, suasana puskesmas dan sekitarnya yang masih sangat asri dan tidak banyak hiruk pikuk kendaraan menimbulkan rasa tenang dan damai. Rasa persaudaraan kepada sesama tenaga kesehatan puskesmas juga membuat suasana menjadi lebih baik. Di situ dia bersyukur menjadi PNS di desa tersebut.
“Dukanya mungkin karena agak jauh dari orangtua dan keluarga. Sehingga, agak susah bila keadaan orangtua sakit ingin berobat, saya harus bolak-balik Muser ke Grogot,” katanya. Perjalanan Grogot ke Muser sekitar 2 jam. Namun, jika jalanan banjir atau habis hujan, bisa menempuh sampai 3 jam. Dwi bersyukur lingkungan kerjanya sangat mengerti dan memperbolehkan memberikan izin jika ada kondisi mendesak.
Pada momen Hari Perawat Nasional ini, Dwi berharap dari pemerintah untuk menyediakan anggaran untuk peningkatan kompetensi perawat. Selama ini untuk pelatihan harus bayar sendiri.
Selain itu, dia mendambakan ada penambahan rumah dinas perawat, bukan mes bersama seperti sekarang. Tunjangan terpencil untuk tenaga honorer dan PNS juga sangat diharapkan, selama ini tidak ada lagi tunjangan untuk desa terpencil. Lalu untuk pelayanan puskesmas, menurutnya perlu penambahan ruang atau unit pelayanan khusus upaya kesehatan masyarakat di puskesmas.
JUMLAH TINGGI, BISA DISEBAR
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Kaltim, Jaya Mualimin menjelaskan, di antara empat jenis tenaga kesehatan, yakni dokter umum, dokter gigi, dokter spesialis, dan perawat, menunjukkan peningkatan jumlah dalam lima tahun terakhir. Di mana menurut data, untuk perawat, sejak 2019 ada 6.524 orang. Kemudian bertambah signifikan di 2021 mencapai 10.789 orang.
“Tahun 2022 meningkat menjadi 11.011 orang dan tahun 2023 menjadi 11.239 orang. Jumlah itu tersebar di setiap tingkatan faskes (fasilitas kesehatan),” ungkap Jaya, Jumat (15/3).
Dengan tingginya jumlah perawat tersebut, menurut dia, seharusnya sudah cukup untuk memenuhi keperluan tenaga perawat di Kaltim. Sementara untuk persebarannya, cukup tinggal didistribusikan ke daerah-daerah termasuk ke daerah terluar dan terpencil. “Untuk perawat kalau dilihat jumlahnya sudah cukup. Tinggal distribusi bisa tersebar ke daerah terdepan, terpencil, dan tertinggal,” singkat Jaya.
Di sisi lain, anggota Komisi IV DPRD Kaltim Rusman Ya’qub menyebut, pada Hari Perawat Nasional ini jika melihat realitas di lapangan, maka diperlukan tolok ukur perbandingan jumlah perawat dengan pelayanan yang diberikan ke masyarakat. Apakah dengan jumlah yang ada saat ini sudah cukup, melebihi atau kekurangan.
“Idealnya seperti apa. Persebarannya bagaimana hingga kualitas pelayanannya kepada masyarakat apa sudah sesuai. Itu pertanyaan yang harus kita ketahui,” ujarnya.
Politikus PPP itu mengatakan, diperlukan sistem distribusi yang adil terhadap perawat. Jangan sampai kasus distribusi guru ikut terjadi di perawat. Karena dari kondisi yang ada, untuk guru saja bertumpuk di perkotaan. “Sementara layanan kesehatan harus sampai ke pelosok,” imbuhnya.
Untuk kesejahteraan pun, persoalan tersebut harus segera diatasi. Dugaannya, masih ada ketimpangan kesejahteraan antara perawat berstatus ASN dengan non-ASN. Karena itu, dirinya mendorong ke pemerintah agar mampu mengurai masalah-masalah yang terjadi di dunia keperawatan.
“Apakah itu diperlukan sertifikasi atau pengembangan karier perawat. Apalagi dengan jumlah produksi perawat Kaltim dari kampus-kampus yang terus muncul. Itu perlu pencermatan. Karena ke depan, Kaltim akan semakin banyak menghadapi tantangan kesehatan. Tetapi akan tertinggal ketika pemerintah lebih mengedepankan pengobatan yang sifatnya kuratif,” jelasnya.
Rusman menegaskan, sudah waktunya Kaltim melakukan reorientasi pembangunan bidang kesehatan. Yang berbasis kepada kesehatan lingkungan masyarakat. Tidak lagi bangga bisa membangun fasilitas kesehatan modern, tetapi di masyarakat kondisinya jauh dari perilaku hidup sehat.
“Kita melihat kepala daerah kita bangga membangun rumah sakit atau menambah ruang. Seharusnya ini dibarengi dengan program-program peningkatan kualitas hidup dan lingkungan kesehatan di masyarakat. Termasuk peningkatan kualitas pelayanan dan kesejahteraan tenaga kesehatan kita termasuk perawat,” bebernya. (rom/k15)