"Sebagian besar penyebabnya itu karena sengaja dibakar untuk pembukaan lahan," kata Edy, Kamis (4/4). Meski sebagian kebakaran akibat ulah manusia. Namun Edy membeberkan, terdapat kawasan di Kota Tepian pada periode ini yang diduga terjadi karhutla diakibatkan cuaca yang memang terik atau panas.
"Cuaca beberapa waktu belakangan ini termasuk saat memasuki Bulan Ramadan banyak panas, itu juga salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya Karhutla," ucapnya. Ia mengatakan dalam upaya melakukan pemadaman Karhutla yang telah terjadi tersebut tidak ada yang terlalu menghambat, hanya saja memang secara jumlah personel dan armada kini masih terbatas.
Mengingat, dulunya pernah ada peristiwa Karhutla di dua tempat, terpaksa pihak turun harus turun bergantian. Padahal, ketika mempunyai perlengkapan dan personel lebih maka bisa dilakukan penanganan secara bersamaan.
"Meskipun dengan berbagai tantangan kami siap untuk menghadapi kasus-kasus kebakaran hutan dan lahan," tegasnya. Ia membeberkan saat ini pihaknya terdapat dua unit mobil tangki, satu memang dimiliki BPBD Samarinda dan satunya pinjaman dari BPBD Provinsi Kaltim yang memang dititipkan untuk membackup di Kota Tepian.
"Sedangkan alat-alat lain kita sudah lengkap tinggal mungkin jumlahnya aja yang ditambahin, seperti selang, baju tahan panas dan sebagainya," imbuhnya. Dirinya pun mengimbau warga, sebaiknya untuk pembukaan lahan sebaiknya jangan dilakukan dengan membakar.
Selain itu memang berbahaya, ini juga menyebabkan gangguan bagi masyarakat yang lain. "Biasanya asap Karhutla bisa menyebar kemana-mana, tapi akibat itu bisa mengganggu ke perkampungan di sekitarnya. Jadi jangan buka lahan dengan membakar," pungkasnya. (kis/beb)