Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Ini Strategi Cegah Anak Putus Sekolah di Berau

Indra Zakaria • Rabu, 8 Mei 2024 - 20:00 WIB

 

Mardiatul Idalisa
Mardiatul Idalisa
 

Pemerataan pendidikan di Berau terus dilakukan. Salah satu caranya dengan memetakan wilayah mana saja yang membutuhkan sekolah filial.

 

TANJUNG REDEB–Kepala Dinas Pendidikan Berau Mardiatul Idalisa menerangkan, dalam waktu dekat ini SMP 2 akan membuka kelas filial untuk wilayah Gunung Tabur (Guntar). Langkah ini untuk mencegah atau mengurangi angka putus sekolah. 

Sehingga diharapkan pendidikan masyarakat meskipun di kawasan pedalaman tetap mendapatkan hak pendidikan yang sama.  “Jangan sampai putus di SD saja, jadi bisa melanjutkan dengan adanya kelas filial itu,” ungkapnya. 

Saat ini, Dinas Pendidikan tengah memetakan wilayah mana saja yang banyak memiliki anak-anak putus sekolah. Sehingga, wilayah tersebut akan difasilitasi kelas filial.  “Biasanya kan hanya usulan, sekarang tim sedang mencoba memetakan wilayah,” ungkapnya. 

Sebelumnya, anggota Komisi I DPRD Berau Rudi Parasian Mangunsong mendorong Dinas Pendidikan untuk membuat sekolah filial untuk kecamatan terjauh di Kabupaten Berau. Cara ini untuk menampung pelajar di pelosok yang punya keterbatasan kuota kursi sekolah.

Rudi mengatakan, di bidang pendidikan selama ini kegiatan belajar-mengajar tidak serta-merta murid datang ke sekolah belajar lalu pulang ke rumah, begitu juga dengan guru ke sekolah mengajar dan selesai tugas pulang.

Kata dia, di daerah pedalaman masih terdapat murid SD kelas 6 sangat minim sekali, namun di kelas di bawahnya ada banyak muridnya. Ini sangat disayangkan dan harus ada upaya untuk meningkatkan minat belajar. "Semakin dewasa minat sekolah anak-anak kita semakin menurun. Hal ini yang harus dicarikan solusinya," ungkap Rudi.

Lanjutnya, tentunya orangtua, tokoh agama, dan masyarakat harus berperan serta terlibat dan tidak terlalu mengharapkan pihak sekolah saja. "Pendidikan itu perlu, bahkan perlu sekali. Jangan sampai dilakukan pembiaran karena anak-anak sudah bisa mencari uang tetapi menganggap pendidikan jadi tidak penting," bebernya. 

Ia menegaskan agar Dinas Pendidikan cepat tanggap terkait permasalahan tersebut. Kata dia, tidak hanya sarana dan prasarana pendukung yang penting tapi juga memberikan pengertian mindset yang salah harus diluruskan juga. "Buat apa gurunya banyak dan ruang kelasnya bagus jika muridnya tidak ada," tegasnya.

Rudi berharap, OPD terkait bisa melakukan tindakan antisipasi agar menimbulkan semangat belajar dan bersekolah, khususnya di wilayah pedalaman. Salah satunya dengan filial, paling tidak bisa membantu anak-anak di pedalaman untuk bersekolah.

"Anggaran Berau itu banyak. Jadi kita tidak sekadar membangun fisik tapi juga SDM-nya," tandasnya. (sen/ind/k8)

 

Editor : Indra Zakaria