Selain mencari tahu penyebab kebakaran fasilitas pengolahan minyak mentah, aparat juga diminta mengusut temuan ceceran minyak dia area permukiman warga, tak jauh dari kawasan kilang Balikpapan.
Prokal.co - BALIKPAPAN-Inspeksi terhadap fasilitas pengolahan minyak mentah di Kilang Pertamina Balikpapan mulai menjadi sorotan. Lantaran, setelah dilakukan pengoperasian terhadap unit revamping atau peningkatan kapasitas produksi minyak, terjadi kebakaran. Tepatnya di salah satu crude distillation unit (CDU) atau unit pengolahan minyak mentah pada Sabtu (25/5) lalu.
Menurut data Pertamina, fasilitas CDU IV yang terbakar saat kejadian berkapasitas 170 ribu barel per hari (bph). Sedangkan tahapan normalisasi CDU IV, memiliki kapasitas normal sekitar 300 ribu bph.
Untuk diketahui, Kilang Balikpapan memiliki dua unit pengolahan minyak mentah atau CDU. Namun, untuk proses revamping atau peningkatan kapasitas, hanya dilakukan pada satu unit CDU, yakni CDU IV.
Selama proses revamping atau penyambungan dengan fasilitas baru ini, operasional CDU IV dihentikan sementara sejak Maret 2024. Sedangkan untuk operasional CDU V berkapasitas 60 ribu bph, tetap beroperasi normal dan tidak dihentikan sama sekali.
Kegiatan start up atau penyalaan mulai dilaksanakan pada bulan ini. Melalui tahapan itu, membuat kapasitas produksi Kilang Pertamina Balikpapan meningkat. Menjadikannya sebagai kilang minyak terbesar di Indonesia. Mulanya, kapasitas CDU IV 200 ribu bph.
Namun sejak pertengahan Mei 2024, ketika revamping tuntas, kapasitas CDU IV meningkat menjadi 300 ribu bph. Sehingga, proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan ini meningkatkan kapasitas pengolahan minyak mentah dari sebelumnya 260 ribu bph menjadi 360 ribu bph.
Melampaui kapasitas Kilang Cilacap, Jawa Tengah, yang saat ini mengolah minyak mentah sebesar 345 ribu bph. Pada 13 Mei 2024 lalu, atau 13 hari sebelum kebakaran, PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) bersama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) V Balikpapan menggelar seremoni penyalaan Kilang Balikpapan di Ruang Pusat Pengendali Kilang (RPPK) RU V Balikpapan.
Usai kebakaran yang mengejutkan tiga hari lalu itu, ahli Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Kaltim Isradi Zainal menuturkan, inspeksi dan audit terhadap fasilitas terkait, baik pada saat beroperasi maupun setelah selesai, adalah bagian dari prosedur untuk suatu instalasi migas. Termasuk dengan Kilang Balikpapan.
“Meski demikian, ini harus dipastikan apakah inspeksi dan auditnya dilakukan secara benar,” katanya kepada Kaltim Post, Minggu (26/5). Mengenai temuan ceceran minyak di permukiman warga di sekitar kilang sehari sebelum kebakaran, Isradi menyebut butuh analisis lebih lanjut.
“Kalau kita lihat konteks kebakaran kemarin, ada peralatan yang meledak. Dan mungkin juga, bisa jadi, kalau ada ceceran minyak di sekitar situ bisa menjadi penyebab. Hanya saja berdasarkan analisis berita yang saya lihat tidak ada kaitan dengan itu,” ujar dia.
Akan tetapi, Isradi Zainal meyakini bahwa Pertamina memiliki prosedur pencegahan terjadinya kebakaran di tempat kerja. Apalagi pada instalasi migas, yang menjadi Objek Vital Nasional (Obvitnas) seperti Kilang Balikpapan.
“Jadi ini catatan bagi semua pihak. Yang namanya perusahaan, apalagi sebesar Pertamina ada namanya Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja, atau SMK3. Yang di dalamnya harus orang-orang profesional yang bekerja di sana. Peralatan yang baik, tersertifikasi dan aman. Kemudian sudah ada prosedur untuk mengantisipasi jika terjadi segala hal. Yang bisa menimbulkan potensi bahaya termasuk tumpahan minyak,” jabar dia.
Oleh karena itu, selain kasus kebakaran fasilitas pengolahan minyak mentah yang masih diselidiki oleh pihak kepolisian, insiden ceceran minyak yang berada di sekitar Kilang Balikpapan, menurutnya juga sebaiknya menunggu hasil investigasi polisi.
“Yang pasti semua pihak harus secara jujur menyampaikan apa adanya. Dan yang pasti alhamdulillah tidak ada korban yang terjadi kemarin,” katanya.
Sementara itu, agenda pemeriksaan dari Tim Labfor Mabes Polri di lokasi kejadian yang direncanakan dimulai kemarin, belum terlaksana.
Namun, Tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) Polres Balikpapan telah lebih dulu menelusuri sumber api penyebab peristiwa kebakaran yang terjadi pada Sabtu (25/5) dini hari sekitar pukul 04.25 Wita
"Sumber api masih ditelusuri dari mana, dan secara teknis tim sedang lakukan investigasi," kata Kapolresta Balikpapan Kombes Pol Anton Firmanto di Balikpapan.
Lanjut dia, tim Inafis sudah mengumpulkan bukti-bukti di lapangan. Sementara itu, General Manager PT KPI Unit Balikpapan Bayu Arafat memastikan akan lakukan investigasi untuk mencari tahu penyebab pasti kebakaran. Dia juga memastikan jika tidak ada masyarakat yang terdampak di sekitar kilang. (kip/riz/k15)
Editor : Indra Zakaria