“Di Samarinda juga ramai Susur Mahakam. Tetapi ada pergeseran pula. Di mana saat ini tampak adanya pergerkan masyarakat Paser dan PPU (Penajam Paser Utara) yang orangtuanya membawa anak-anak mereka berlibur ke tempat wisata edukasi dan hiburan,” ucapnya.
Baihaqi menyebut, era saat ini banyak masyarakat yang tertarik berwisata karena melihat promosi-promosi yang ada di media dan media sosial. Apalagi dilihatnya, pengelola wisata saat ini punya media sosial yang dikelola secara profesional termasuk melalui endorsement. Namun diingatkannya, setiap promosi harus dibuat sesuai kondisi sebenarnya. Dirinya juga melihat pengelola wisata di Kaltim sudah banyak melakukan pembenahan. Di sisi lain melakukan pembinaan dan monitoring.
“Tentu kami terus menggalakkan promosi ini khususnya tempat-tempat wisata lokal yang ada di sekitar kita. Dan saya melihat promosi melalui media sosial ini atraktif. Berhasil memikat masyarakat untuk berkunjung,” ucapnya.
Untuk persiapan kedatangan kunjungan 17 Agustus nanti, Dispar Kaltim akan fokus terhadap destinasi wisata di sekitar IKN. Meliputi Balikpapan, PPU, dan Kukar. Mulai Bukit Bengkirai lalu Gua Tapak Raja hingga ke Mentawir untuk melihat mangrove.
Adapun wisata pantai, banyak diarahkan ke sejumlah pantai di Balikpapan. Termasuk PPU dengan mengandalkan Pantai Nipah-Nipah.
“Kami arahkan juga ke sejumlah lokasi oleh-oleh dan UMKM-nya. Kami arahkan juga ke tempat pembuatan batik sampai di PPU itu juga ada penangkaran rusa. Kalau ada tamu yang stay lebih lama, maka kita arahkan ke Samarinda. Di sana ada Desa Pampang. Kalau lebih lama lagi stay-nya, kami bawa ke Tenggarong,” ungkapnya.
Namun ada tantangan, adanya kepadatan lalu lintas. Dirinya menyebut, menyerahkannya kepada instansi terkait seperti Dinas Perhubungan baik provinsi maupun kota. Yang paling diantisipasi adalah kepadatan di Balikpapan. Karena itu dirinya sudah meminta kepada agen perjalanan wisata untuk benar-benar bisa mengatur waktu agar setiap tamu tidak terjebak lama dalam kemacetan selama kunjungannya ke Kaltim.
“Kepadatan ini tidak akan bisa dihindari. Apalagi akan dimulai tanggal 10 Agustus di mana adanya penyerahan bendera. Lalu dari tanggal 10 itu akan terus padat sampai 20 Agustus. Kalau rekayasa yang pada 17 Agustus saya belum bisa cerita. Yang jelas, peran dari dinas terkait sangat penting dan setiap agen harus bisa mengatur waktu yang pas,” ujarnya.
Di sisi lain juga terkait harga hotel dan penginapan yang belakangan meningkat drastis. Bahkan saat kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) 2024 lalu di Balikpapan, sejumlah hotel berbintang memasang tarif per kamar mencapai puluhan juta rupiah.
“Itu hukum pasar ya. Tentu kami dari dinas tetap memberikan imbauan dan meminta kepada pengelola hotel agar bisa memberikan harga yang wajar. Seperti halnya penerbangan, di mana ada waktu-waktu tertentu harganya naik,” ujarnya.
Adapun soal kunjungan wisatawan asing, Baihaqi menyebut karena mengetahui adanya Hari Kemerdekaan Indonesia, dia menyebut terjadinya penjadwalan ulang kedatangan untuk turis mancanegara. Karena mengetahui, kondisi di Kaltim akan sangat padat. “Ya khusus wisatawan mancanegara kebanyakan reschedule karena tahu Kaltim akan jadi pusat penyelenggaraan independence day,” ujarnya.(*)