Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Ada Terbentang Spanduk Penolakan Pj Gubernur Kaltim, Akmal Malik: Alhamdulillah

Redaksi Sapos • Minggu, 8 September 2024 | 09:37 WIB
DITOLAK. Spanduk berisi penolakan terhadap Pj Gubernur Kaltim Akmal Malik terpasang di jembatan penyebrangan Jalan Juanda, Samarinda Ulu.
DITOLAK. Spanduk berisi penolakan terhadap Pj Gubernur Kaltim Akmal Malik terpasang di jembatan penyebrangan Jalan Juanda, Samarinda Ulu.

 

 Spanduk dengan panjang 10 meter membentang di dinding jembatan penyebrangan di Jalan Juanda, Kecamatan Samarinda Ulu, Samarinda, Kamis (5/9) lalu.  Dalam spanduk itu tertulis kalimat yang kontra terhadap kepemimpinan Pj Gubernur Kaltim Akmal Malik. "Tolak Akmal Malik Perpanjangan Pj Gubernur Kaltim.

Usir Dari Bumi Borneo." Begitu tulisan dalam spanduk itu. Hal ini tentu menjadi kontroversi terkait rekam jejak Akmal Malik sejak menjabat di Benua Etam pada Oktober 2023 sampai sekarang.

Menanggapi sebaran spanduk itu, Akmal enggan berkomentar panjang. Dalam sambungan pesan yang dikirim media ini ke nomor pribadinya, Akmal mengaku bersyukur masih diperhatikan warga Kaltim. "Alhamdulillah, masih menjadi atensi dan perhatian dari masyarakat Kaltim," ucapnya.

Terkait langkah atau tindakan apa yang akan dilakukan Akmal selanjutnya, dirinya mengungkap bahwa hal ini biasa saja dan akan diterima sebagai masukan kepada dirinya.

"Semua warga masyakarat boleh bersuara, baik yang suka ataupun tidak suka. Ini pertanda demokrasi kita berlangsung dengan baik," katanya. 

Sejak awal menjabat, Akmal melakukan beberapa kontroversi. Mulai dari mutasi besar-besaran di tubuh Pemprov Kaltim. Padahal Pj kepala daerah tidak diperkenankan melakukan mutasi pejabat kecuali mendesak. Menariknya, Akmal yang juga menjabat sebagai Dirjen Otonomi Daerah (Otda) Kemendagri justru melakukan beberapa kali mutasi pejabat di lingkungan Pemprov Kaltim.

Akmal juga juga mengganti slogan Kaltim Berdaulat yang selama diusung Isran Noor, gubernur sebelumnya. Akmal kini mengganti slogan Kaltim menjadi Membangun Kaltim untuk Nusantara. Soal slogan, Akmal menyebut ide itu merupakan inisiatif dari Sekprov Kaltim, Sri Wahyuni.

Di bagian lain, Akmal juga memberikan gebrakan baru dalam pemerintahan di Pemprov Kaltim. Mulai dari pencanangan tanaman hijau di sekolah dan perkantoran terkait ketahanan pangan, Akmal juga menekankan profesionalitas ASN untuk bisa melaju pesat.

Dirinya juga menjadi fasilitator bagi masyarakat di Pemaluan, Penajam Paser Utara (PPU), kala kawasan itu menuai konflik bersama Badan Otorita IKN. Pengamat Politik dan Hukum Tata Negara dari Universitas Mulawarman, Herdiansyah Hamzah menyebut bahwa cara Akmal Malik menjalankan keputusan dianggap sewenang-wenang.

"Coba Pj ini bercermin dengan hal ini. Harus terbuka dengan kritik, yang mana kurang harusnya dibenahi. Kalau dianggap sebagai informasi atau aspirasi, ini harus diinput juga oleh pemerintah pusat," ucapnya.

Menurut Castro, sapaan akrabnya, menyebut bahwa pemerintah pusat harus melek dengan kondisi saat ini. Evaluasi harus dilakukan juga terhadap Akmal Malik. "Harus dipertahankan atau tidak," tegasnya.

Menurutnya aspirasi publik harus didengarkan dengan baik. Bahkan spanduk yang terbentang ini jangan dianggap biasa, ini juga menjadi aspirasi yang menjadi keresahan masyarakat Kaltim. "Jadi ini catatan merah untuk Pj Gubernur, apakah dilanjutkan atau tidak nantinya," pungkasnya. (mrf/nha)

 

 
Editor : Indra Zakaria