SAMARINDA- Wakil Ketua DPRD Kaltim Ekti Imanuel mengatakan, potensi pemotongan dana transfer dari pusat menjadi ancaman nyata bagi stabilitas fiskal Kalimantan Timur. Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kaltim memproyeksikan, jika pemotongan Dana Bagi Hasil (DBH) benar-benar diterapkan, APBD 2026 bisa merosot drastis dari Rp 20,3 Triliun menjadi hanya Rp 15 Triliun.
Ekti secara spesifik menyebut Mahulu, Berau, dan Paser sebagai wilayah yang paling berisiko mengalami perlambatan pembangunan. Untuk itu, DPRD Kaltim menegaskan komitmennya untuk mengawal isu ini secara intensif. Mereka memastikan akan menjadi garda terdepan dalam melindungi kepentingan daerah-daerah kecil tersebut, dengan harapan keterbatasan fiskal tidak sampai menghambat roda pemerintahan dan merugikan masyarakat. (adv/dprd/i)