Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Hutan Debu dan Ancaman Nyawa: Warga Sekerat Desak Perusahaan Semen Hentikan Aktivitas Truk Angkut Bahan Semen di Jalan Desa

Redaksi Prokal • 2026-02-03 13:11:51
Truk yang angkut bahan baku semen.
Truk yang angkut bahan baku semen.

KUTAI TIMUR – Ketenangan warga Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, Kutai Timur, terusik dalam empat bulan terakhir akibat aktivitas kendaraan berat milik perusahaan semen yang masuk ke jalur pemukiman. Keluhan masyarakat memuncak seiring dengan tebalnya polusi debu yang menyelimuti desa hingga terjadinya kecelakaan yang melukai warga setempat.

Ketegangan ini bermula saat truk pengangkut batu koral yang merupakan bahan baku semen dialihkan rutenya dari jalur khusus di belakang pemukiman ke jalan utama desa. Berdasarkan informasi dari warga, pengalihan ini diduga dipicu oleh persoalan sengketa lahan antara pihak perusahaan dan pemilik tanah di jalur lama yang belum menemui titik temu terkait pembebasan lahan.

Ironisnya, perubahan rute ini diklaim terjadi tanpa adanya koordinasi dengan penduduk desa. Dampaknya pun nyata; pada Selasa (27/1), seorang warga menjadi korban kecelakaan akibat bersinggungan dengan kendaraan perusahaan yang mengakibatkan luka serius di bagian pelipis. Insiden ini menjadi pemantik amarah warga yang merasa keselamatan mereka dikorbankan demi operasional perusahaan.

Intensitas lalu lalang kendaraan berat ini tergolong sangat tinggi. Diperkirakan terdapat sekitar 200 unit truk pengangkut koral yang melintas setiap hari, belum termasuk kendaraan pengangkut semen curah dan bahan baku tambahan lainnya. Selain risiko kecelakaan, kepulan debu yang dihasilkan sangat mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak dan aktivitas ekonomi warga di sepanjang pinggir jalan.

Masyarakat Desa Sekerat kini menuntut ketegasan perusahaan untuk segera mengembalikan rute angkutan ke jalur khusus semula. Mereka menyayangkan sikap perusahaan yang terkesan lambat merespons keluhan warga sebelum jatuhnya korban jiwa. (*)

Editor : Indra Zakaria