PROKAL.CO, SAMARINDA – Fenomena orangutan yang berulang kali terlihat mencari makan di tempat sampah di kawasan Jalan Perdau, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, dinilai sebagai indikasi serius rusaknya habitat dan berkurangnya sumber pakan alami.
Peneliti primata dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Dr Yaya Rayadin, menyebut perilaku tersebut kemungkinan besar dipicu oleh degradasi habitat yang semakin masif di kawasan tersebut.
“Hipotesis pertama saya tentu karena habitatnya rusak. Habitat rusak, ketersediaan pakan berkurang, sehingga orangutan mencari alternatif pakan baru. Kebetulan yang dia temukan adalah tempat sampah,” kata Yaya saat diwawancarai, Rabu (4/2/2026).
Sebelumnya, video viral yang memperlihatkan seekor orangutan mengais sisa makanan di tumpukan sampah liar di tepi Jalan Poros Sangatta–Bengalon, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, memantik perhatian publik. Lokasi tersebut diketahui berada di jalur perlintasan orangutan yang hutannya telah terfragmentasi akibat aktivitas tambang batu bara dan kebun sawit.
Yaya menjelaskan, secara perilaku, primata yang sudah mengenal makanan manusia cenderung akan mengalami ketergantungan. Ketika satu kali menemukan makanan yang layak konsumsi di tempat sampah, orangutan tersebut akan datang kembali secara berulang.
“Begitu dia pernah datang ke tempat sampah dan menemukan makanan yang bisa dimakan, maka dia akan datang berkali-kali. Itu yang terjadi. Jadi kehadiran orangutan bolak-balik ke tempat sampah itu murni karena pakan,” ujar Yaya.
Menjawab pertanyaan soal solusi, Doktor Ekologi dan Populasi Satwa Liar itu menegaskan bahwa relokasi orangutan menjadi langkah paling realistis dalam jangka pendek. Pasalnya, perilaku orangutan yang sudah terbiasa dengan sampah manusia akan sulit diubah.
“Solusi khusus untuk orangutan yang sedang kita bicarakan ini ya direlokasi. Karena perilakunya sudah mengenal makanan dari sampah. Kalau tidak direlokasi, dia akan datang lagi ke situ,” jelasnya.
Namun demikian, relokasi hanya menjadi solusi sementara. Untuk jangka panjang, Dosen Fakultas Kehutanan Unmul Samarinda ini menekankan pentingnya perlindungan habitat yang tersisa dan menjaga konektivitas antar kawasan hutan.
“Yang paling penting itu bukan sekadar luasan habitat, tapi bagaimana habitat yang tersisa tetap terkoneksi. Jangan terfragmentasi,” tegasnya.
Ia juga menyoroti perlunya antisipasi pengelolaan sampah, terutama di wilayah yang berdekatan dengan habitat orangutan. Meski begitu, ia mengakui pengamanan tempat sampah publik dalam skala besar bukan perkara mudah.
Berdasarkan pengamatan tutupan lahan, Yaya memperkirakan habitat orangutan di lanskap Taman Nasional Kutai termasuk di Kutai Timur yang masih dalam kondisi baik di kawasan tersebut hanya tersisa sekitar 20 persen. Sisanya telah berubah menjadi permukiman, pertambangan terbuka, perkebunan sawit, hingga area reklamasi.
“Kalaupun 20 persen itu masih ada, kondisinya terfragmentasi. Di sini 2.000 hektare, di sana 1.000 hektare, di tempat lain 5.000 hektare. Itu menjadi ancaman luar biasa,” ungkapnya.
Ia mencontohkan pendekatan lanskap, seperti di Lanskap Karaitan, di mana kawasan hutan produksi yang masih baik dapat dikoneksikan dengan hutan lindung dan taman nasional hingga mencapai sekitar 60 ribu hektare dalam satu kesatuan ekosistem.
Dalam skala lebih luas, Yaya memperkirakan populasi orangutan di lanskap Kutai yang mencakup sekitar 4,2 juta hektare masih berkisar 6.000 hingga 7.000 individu. Angka tersebut diperoleh dari hasil survei yang dilakukan selama sekitar 10 tahun terakhir.
“Saya tidak bilang jumlahnya meningkat, tapi saya yakin orangutan akan tetap ada (di Lanskap Kutai), selama kawasan hutannya masih ada,” katanya.
Di Taman Nasional Kutai (TNK) sendiri, dengan luas sekitar 200 ribu hektare, populasi orangutan diperkirakan masih mencapai sekitar 2.000 individu.
Terkait peran para pihak, Yaya menilai kesadaran sosial masyarakat terhadap perlindungan orangutan sudah cukup baik. Hal itu terlihat dari perilaku orangutan yang tidak menunjukkan ketakutan berlebihan terhadap manusia.
“Orangutan itu tidak menganggap masyarakat sebagai ancaman. Dia tidak melihat manusia sebagai pemburu atau pembunuh. Itu indikasi bahwa kesadaran masyarakat (melindungi orangutan) sudah luar biasa,” ujarnya. (*)
Editor : Indra Zakaria