Catatan: Gunawan
(Forum Guru Kaltim )
PROKAL.CO-Dalam hiruk-pikuk birokrasi, jarang kita menemukan sosok yang mampu berdiri tegak di antara dua dunia, dunia makro kebijakan yang kaku dan dunia mikro pembelajaran di kelas yang dinamis.
Namun, bagi mereka yang mengenal Pak Armin, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur (Kaltim), dua hal itu adalah napas kesehariannya.
Ia bukan sekadar pejabat yang duduk di balik meja.
Ia adalah seorang guru yang "dipinjamkan" ke birokrasi, membawa integritas ruang kelas ke dalam koridor kekuasaan.
Dari beberapa diskusi, beliau memiliki pandangan, setiap keputusan
di birokrasi harus selalu bermuara pada kualitas mikro pembelajaran di kelas.
Dari Guru Berprestasi hingga Benteng Aset Negara
Rekam jejak Pak Armin adalah bukti nyata kompetensi dan karier yang lengkap.
Ia mengawali perjalanan sebagai guru bahasa Inggris dan berkat kemampuan bahasa asing yang ia miliki, ia membangun jaringan internasional di bidang pendidikan.
Sejak menjadi pendidik, ia telah menorehkan prestasi sebagai guru berprestasi nasional dan instruktur nasional yang disegani.
Ia menyadari bahwa bahasa adalah kunci komunikasi global, yang kemudian menginspirasi lahirnya program bilingual school dan kelas dwibahasa di berbagai SMA/SMK se-Kaltim, menjangkau hingga ke daerah pelosok.
Namanya identik dengan masa keemasan SMAN 10 Samarinda, sekolah unggulan
yang di bawah kepemimpinannya tidak hanya menjadi yang terbaik di Kaltim, tapi juga disegani di level nasional bahkan dunia.
Baca Juga: Adu Konsistensi di Way Halim: Borneo FC Tantang Bhayangkara Presisi Lampung FC Sore Ini
Sebelum menjabat di posisi saat ini, Pak Armin telah menapaki tangga birokrasi, baik sebagai PNS maupun sempat berkiprah di sektor swasta.
Ia pernah menjabat sebagai Kasi di bidang SMA, Kepala Pustedkom (Pusat Data dan Komunikasi), hingga kepala Dinas Cabang Kutai Timur (Kutim)-Bontang.
Jabatan kepala dinas cabang ini memberinya kesempatan untuk mengunjungi sekolah-sekolah pelosok dan memahami betul realita pendidikan di daerah.
Kemudian, ia sempat menjabat kepala Bidang SMA, dan kepala Bidang GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan).
Namun, ujian sesungguhnya bukan saat ia meraih prestasi, melainkan saat ia harus mempertahankan prinsip. Konflik aset SMAN 10 dengan Yayasan Melati menjadi saksi bisu konsistensi beliau.
Memilih untuk tidak berada di zona nyaman, ia rela membuka konflik yang mungkin tidak disukai banyak orang.
Namun, ia memilih jalan ini dengan satu niat, memastikan SMAN 10 berada pada lokasi yang tepat sebagai aset pendidikan publik yang unggul sekolah Garuda Transformasi.
Di tengah tekanan, ia berdiri kukuh menyelamatkan aset pemerintah, dan keputusan yang lahir dari pijakan yang kuat dan benar ini bahkan harus digugat di Pengadilan Tata Usaha Negara maupun Pengadilan Negeri (Perdata).
Integritas yang Tidak Berisik, Menolak Tanpa Mencela
Banyak orang bicara tentang anti korupsi, tapi sedikit yang mempraktikkannya dalam
kesenyapan.
Penulis menyaksikan sendiri bagaimana beliau tetap memilih hidup
bersahaja.
Saat melakukan perjalanan dinas sebagai kepala bidang, ia tak sungkan berbagi kamar hotel standar dengan staf, meski fasilitas untuk kelas yang lebih baik tersedia di tangannya.
Integritasnya teruji saat ia menjabat sebagai Plt Kadisdikbud. Di tengah godaan dan "tanda jadi" yang kerap menghantui, ia tetap bergeming.
Baginya, jabatan adalah
pengabdian, bukan komoditas. Hal ini tercermin pada kebijakan pengangkatan kepala sekolah yang ia pimpin.
Tanpa tendensi keuntungan pribadi ia memilih berdasarkan kompetensi murni.
Tak jarang, para kepala sekolah yang diangkat justru terkejut karena merasa tidak memiliki kedekatan khusus dengan dinas.
Inilah bukti, bagi Pak Armin, jabatan adalah pengabdian, bukan komoditas, dan prestasi Anda adalah satu-satunya "orang dalam" Anda.
Visi "Broken Window" dan Mimpi Sekolah Berkelas Dunia
Pak Armin adalah penganut kuat teori Broken Window. Baginya, pendidikan dimulai dari hal yang terlihat.
"Bagaimana kita bicara tentang ide-ide abstrak yang besar, jika
menata fisik sekolah saja belum mampu?" ujarnya suatu kali.
Ia sering mencontohkan
sekolah di Jepang, Singapura, atau Australia yang pernah dikunjunginya—di mana
setiap paving block yang lepas langsung diperbaiki (zero repair delay).
Kerusakan kecil atau perilaku menyimpang yang dibiarkan dalam suatu lingkungan dapat memberikan sinyal bahwa tidak ada pengawasan atau perhatian.
Hal ini akan memicu perilaku yang lebih buruk dan eskalasi masalah.
Dalam bahasa sederhana, jika ada satu kaca jendela yang pecah di sebuah gedung dan tidak segera diperbaiki, maka akan mendorong orang lain untuk memecahkan kaca lainnya atau melakukan vandalisme lebih lanjut.
Teori Broken Window atau kaca pecah dapat diterapkan untuk memahami bagaimana perilaku siswa dan kondisi lingkungan sekolah mempengaruhi disiplin serta karakter siswa.
Dalam konteks sekolah, teori ini menunjukkan bahwa tindakan
kecil yang melanggar aturan, jika dibiarkan, dapat menciptakan budaya permisif yang memicu pelanggaran lebih besar.
Maka tidak mengherankan ketika berkunjung ke sekolah beliau akan melihat lingkungan terlebih dahulu baru yang lainnya.
Bagi beliau, lingkungan yang bersih dan tertata adalah syarat mutlak agar siswa betah berada di sekolah untuk bereksplorasi, membangun bakat dan minat, melakukan riset, dan membangun critical thinking.
Inilah landasan mengapa beliau
kini menghidupkan kembali muruah sekolah unggulan di Kaltim melalui peraturan gubernur (pergub), mencakup SMAN 10 Samarinda, SMAN 3 Tenggarong, dan SMAN 2 Sangatta, dan sekolah lainnya.
Ia ingin sekolah di Kaltim sejajar dengan Jakarta dan Jogjakarta bahkan kelas dunia.
Pemimpin yang Turun ke Kelas
Hal paling unik dari Pak Armin adalah kecintaannya pada mengajar dan berinteraksi.
Di sela kunjungan dinas, ia sering masuk ke kelas, mengambil kapur atau spidol, dan mengajar langsung, berinteraksi dengan murid secara cair layaknya proses pembelajaran biasa.
Ini bukan sekadar pencitraan, melainkan cara beliau melakukan "audit riil" terhadap kualitas pembelajaran dan menjadi masukan berharga saat brainstorming bersama guru.
Beliau memimpikan kelas-kelas yang aktif, penuh argumen kuat, Project Based Learning, dan berbasis STEAM mempresentasikan proyek, baik verbal maupun dalam bentuk tulisan, sehingga critical thinking siswa terasah sesuai istilahnya, gurunya aktif untuk mengaktifkan siswa.
Di mata Pak Armin, sekolah bukan hanya tentang gedung, tapi tentang kualitas interaksi yang terjadi di dalamnya.
Bahkan, ia dikenal selalu menyediakan waktu setiap hari untuk menerima guru maupun kepala sekolah yang ingin berdiskusi, menyampaikan keluh kesah, serta mencari solusi atas berbagai problem yang dihadapi di lapangan (akar rumput).
Sosok yang Low Profile, Hasil High Impact
Mengenal Pak Armin sejak masa transisi kewenangan SMA/SMK ke pemerintah provinsi tahun 2017, kita bisa melihat garis merah yang konsisten, ia selalu berpihak pada guru dan kemajuan siswa.
Sosoknya yang pembelajar membuatnya selalu adaptif terhadap perkembangan dunia pendidikan terbaru.
Meskipun posisinya memungkinkan untuk mencari muka di hadapan atasan, ia lebih memilih menjadi jembatan bagi aspirasi guru-guru, membangun kedekatan yang nyata dengan guru-guru Kaltim sebagai rekan sejawat.
Dalam berkomunikasi, beliau dikenal piawai memilih kata yang tepat
sehingga orang merasa nyaman dan tidak terpojok.
Namun, integritasnya sebagai
pemimpin juga terlihat jelas, karena tentu pada momen tertentu ia akan berkata apa adanya demi kepentingan dan kemajuan pendidikan.
Kaltim beruntung memiliki seorang eksekutor yang juga seorang pemikir. Sosok yang memahami visi besar Gubernur menuju "Kaltim Unggul" dan "Generasi Emas," tapi
tetap peduli pada detail terkecil di pojok sekolah.
Pak Armin adalah pengingat bahwa
untuk membawa pendidikan Kaltim terbang tinggi, kita butuh pemimpin yang kakinya tetap membumi. (*)