Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Front Baru di 'Gerbang Air Mata': Kelompok Houthi Yaman Resmi Seret Laut Merah ke Pusaran Perang Iran

Redaksi Prokal • Senin, 30 Maret 2026 - 20:45 WIB

Rudal yang diluncurkan dari Yaman ke Hebron, Israel.
Rudal yang diluncurkan dari Yaman ke Hebron, Israel.

SANAA – Setelah satu bulan menebar ancaman, kelompok pemberontak Houthi di Yaman—yang disokong penuh oleh Teheran—akhirnya resmi membuka front baru dalam konflik Timur Tengah. Pada Sabtu (28/3), dua rudal meluncur dari wilayah Yaman menuju Israel, menandai keterlibatan langsung mereka dalam perang yang kian meluas. Tak hanya menyasar daratan, Houthi kini mengancam akan menutup Bab al-Mandab, jalur pelayaran vital di selatan Laut Merah yang dikenal sebagai "Gerbang Air Mata".

Kelompok Houthi, yang secara resmi bernama Ansar Allah (Penolong Allah), mewakili minoritas Muslim Syiah Zaidi di Yaman. Setelah menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar garis pantai Laut Merah sejak 2014, mereka bertransformasi menjadi bagian krusial dari "Poros Perlawanan" Iran. Dengan pasokan teknologi rudal dan drone dari Teheran, Houthi kini memiliki jangkauan serang yang melampaui perbatasan Yaman.

Mengapa Terjun Sekarang?

Keputusan Houthi untuk menembakkan rudal ke Israel dianggap oleh banyak analis sebagai langkah simbolis sekaligus politis. Pemimpin Houthi, Abdel-Malik al-Houthi, menegaskan bahwa langkah ini adalah bentuk loyalitas kepada Iran, satu-satunya negara yang dianggap berdiri bersama mereka selama bertahun-tahun konflik di Yaman.

Namun, pengamat dari Yaman, Mohammad Basha, melihat adanya agenda tersembunyi. Dengan menyerang Israel, Houthi mengirimkan pesan kepada Arab Saudi. Mereka menuntut kompensasi atas kerusakan akibat perang bertahun-tahun di masa lalu sembari memberi sinyal bahwa mereka dapat memulai kembali aksi militer tanpa harus memicu perang terbuka dengan Riyadh atau Washington secara langsung.

Ancaman Ekonomi: Cekikan di Dua Selat

Kekhawatiran terbesar dunia saat ini bukanlah serangan rudal ke Israel yang efektivitasnya masih marginal, melainkan ancaman terhadap pelayaran global. Dengan Selat Hormuz yang sudah hampir tertutup total oleh Teheran, penutupan Bab al-Mandab akan menciptakan "cekikan ganda" terhadap pasokan minyak dan gas dunia.

Sekitar 15% perdagangan maritim global melewati celah sempit Bab al-Mandab yang hanya selebar 29 kilometer. Gangguan di titik ini pada periode 2023-2025 diperkirakan telah menelan biaya 20 miliar USD per tahun akibat pengalihan rute kapal memutar melewati Afrika Selatan. Saat ini, situasinya jauh lebih kritis karena stok minyak global sedang menipis dan rute alternatif semakin terbatas.

Israel telah menyatakan kesiapannya menghadapi perang di banyak front. Juru bicara IDF, Nadav Shoshani, menegaskan bahwa militer Israel telah bersiap mempertahankan diri dari ancaman Yaman. Namun, risiko terbesar mungkin justru dihadapi Arab Saudi. Di tengah blokade Selat Hormuz, Riyadh sangat bergantung pada pipa minyak timur-barat menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Jika Houthi menghujani wilayah ini dengan drone, nadi ekonomi Saudi akan berada dalam bahaya besar.

Dunia kini menanti apakah Houthi akan benar-benar "menekan pelatuk" di Laut Merah. Langkah tersebut dipastikan akan memicu lonjakan harga minyak mentah dan memaksa raksasa pelayaran seperti Maersk untuk mencari rute yang lebih jauh dan mahal. Di sisi lain, Houthi juga mempertaruhkan segalanya; pola serangan balik Israel yang kerap menyasar kepemimpinan puncak (decapitation campaign) mungkin akan segera menghampiri Sanaa lebih cepat dari yang mereka duga. (*)

Editor : Indra Zakaria