TARAKAN– Namanya terus dikait-kaitkan dengan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kaltara 2020, dan dianggap sebagian kalangan sebagai figur yang layak untuk maju. Meski kalah dalam pertarungan Pileg 2019, dr. Ari Yusnita patut diperhitungkan.
Menilik hasil Pileg tahun ini, perolehan suara pribadi dr. Ari mencapai 26 ribu di lima kabupaten/kota. Dia membukukan 15 ribu suara di Kota Tarakan atau yang tertinggi dibanding 42 nama lainnya. Kendati, dia harus terseok-seok pada beberapa kabupaten lain dan kalah dari rekan satu partainya di Nasional Demokrat (Nasdem), Arkanata Akram, S.T, B.E (Hons), MengSc.
Namun begitu, dr. Ari masih ingin fokus di sisa jabatannya sebagai wakil rakyat di Senayan. AnggotaKomisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) itu mengatakan bahwa dirinya harus fokus menyelesaikan program-program yang menyasar masyarakat Kaltara.
“Kalau saya, mengalir saja seperti air yang mengalir. Saya tidak punya ambisi untuk mau jadi apa. Bahkan menjadi anggota DPR RI pun saya tidak punya ambisi, tapi pada prinsipnya saya lebih senang di Senayan karena langsung berkomunikasi di pusat untuk membantu program-program nyata yang dibawa ke masyarakat,” ujar dr. Ari kepada Radar Tarakan, kemarin (12/5).
dr. Ari tak dapat menyembunyikan kesedihannya atas kekalahan di Pileg 2019. Di pikirannya, menjadi anggota DPR RI lebih mudah dalam membantu masyarakat Kaltara melobi program pemerintah pusat. Ari juga mengaku bahwa secara pribadi dirinya masih memiliki cita-cita untuk membantu masyarakat Kaltara, baik di bidang perikanan maupun lainnya.
“Tapi sekarang saya sudah bangkit lagi untuk memikirkan bagaimana agar masyarakat di Kaltara bisa dapat bantuan pusat. Insyaallah, Kabupaten Tana Tidung nanti akan dapat bantuan ambulans satu lagi dari saya,” jelasnya.
“(Pilgub) Saya untuk sementara masih belum bisa memberikan tanggapan apa pun. Sekarang saya fokus dulu dengan tugas saya di Senayan,” imbuhnya.
dr. Ari dilantik sebagai anggota DPR pada Selasa 15 Desember 2015 lalu di Gedung DPR, Jakarta. Ia menggantikan Achmad Amins, di mana saat itu Kaltara masih masuk Daerah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Timur. Achmad Amins, wali kota Samarinda dua periode (2000-2010) mengundurkan diri karena alasan kesehatan. Pada 9 Januari 2019, Achmad Amins tutup usia di sebuah rumah sakit di Tangerang Selatan.
Perolehan suara dr. Ari saat itu sebanyak 21.405 suara tepat di bawah Achmad Amins yang mengantongi 35.142 suara. Adapun suara tertinggi ketiga dipegang Harbiansyah Hanafiah dengan 14.872 dukungan.
KALAU LAYAK, KENAPA TIDAK?
Partai Amanat Nasional (PAN) pun patut diperhitungkan dalam Pilgub 2020. PAN berencana menyodorkan kadernya H. Khaeruddin Arief Hidayat, S.E, M.Si, yang dianggap mampu untuk menjadi calon wakil gubernur.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PAN Kaltara Asnawi Arbain mengatakan bahwa sebelumnya PAN meraih 3 kursi di DPRD Kaltara, hasil Pileg 2014. Namun tahun 2019 ini, kursi tersebut berkurang menjadi 2 kursi.
Meski begitu, hingga kini PAN belum berkomunikasi terhadap figur yang dinyatakan akan diusung dalam Pilgub mendatang. Pada dasarnya, PAN menjalankan mekanisme atau tahapan Pilgub sama seperti pendaftaran pemilihan calon bupati/wali kota, yakni dengan membentuk tim pilkada lebih dulu, kemudian menerima pendaftaran calon, yang kemudian nama calon-calon akan dibawa langsung ke Dewan Pengurus Pusat (DPP) PAN untuk diputuskan.
“Tapi sampai sekarang belum ada yang berkomunikasi dengan PAN,” tuturnya.
Asnawi menyatakan bahwa PAN juga memiliki kader yang layak. Mantan Wakil Wali Kota Tarakan H. Khaeruddin Arief Hidayat, S.E, M.Si, yang berhasil lolos di DPRD Kaltara pada Pileg 2019 memiliki kapasitas yang mumpuni.
“Banyak kader PAN yang bisa maju, misalnya Pak Arief. Bisa saja kami giring maju, misalnya saja jadi orang nomor dua,” jelasnya.
Kendati demikian, Asnawi menegaskan bahwa dirinya tak ingin menyebutkan nama per nama sampai adanya kepastian dari DPP PAN. Sebab pada dasarnya Asnawi menginginkan agar hal-hal yang terjadi dengan tim pilkada, harus dijadikan patokan.
“Sepanjang belum dibukanya pendaftaran, ya kami belum ada calon,” imbuhnya.
PAN TERBUKA, CABUP TANA TIDUNG DAN BULUNGAN
Di Kaltara, selain Pilgub, empat kabupaten, Bulungan, Nunukan, Malinau dan Tana Tidung juga akan melaksanakan pilkada yang akan dihelat secara serentak.
Di Tana Tidung, akhir pekan lalu, mantan Wali Kota Tarakan, Ir. Sofian Raga, M.Si, secara terang-terangan menyatakan sikapnya akan maju sebagai calon bupati di kabupaten termuda di Kaltara ini.
Menanggapi hal tersebut, Asnawi menyambung, pihaknya siap menerima siapa saja untuk ikut berkompetisi di Tana Tidung.
"Sebagai partai pemenang di sana (Tana Tidung), kami selalu terbuka untuk siapa saja kepada yang berminat memakai perahu PAN di pilkada nanti. Jadi tidak perlu bicarakan soal namanya siapa, dan orangnya siapa, yang jelas PAN selalu terbuka," tegas anggota DPRD Kaltara periode 2014-2019 ini.
Ia juga mengungkapkan, menurut laporan DPD PAN Tana Tidung, beberapa orang tertarik untuk bekerja sama dengan PAN guna memuluskan langkahnya menuju KTT 1. "Tapi saya tidak tahu siapa saja, teman-teman di KTT yang tahu itu," cetusnya. "Kalau memang berminat, ya silakan mendaftar saja melalui Tim Pilkada KTT yang akan dibentuk nanti, setelah itu digodok, kemudian dibawa ke DPW (provinsi), dan kami teruskan ke DPP. Artinya, kami ada di tengah, yang menentukan di DPP," tambah Asnawi menjelaskan.
Mekanisme tersebut juga diberlakukan kepada kader partai yang berminat mencalonkan diri. "Kader partai maupun bukan kader harus ikuti proses normatifnya itu karena kami harus terbuka, tidak ada yang ditutupi, jumlahnya juga kami tidak batasi," katanya.
Sementara di Bulungan, Demokrat memastikan akan tetap kembali memprioritaskan kadernya. Hal ini disampaikan Ketua DPC Partai Demokrat Bulungan H. Najamuddin, S.E, saat ditemui di Tarakan, Minggu (12/5).
"Soal Pilkada Bulungan tahun depan kami belum dapat instruksi dari DPD dan DPP. Tapi kami pastikan Demokrat di Bulungan akan berpartisipasi walau tahun ini hanya dapat dua kursi, dan kader Demokrat akan kami utamakan baik untuk nomor satu atau nomor dua," beber Lontong, sapaan akrab Najamuddin.
Untuk diketahui, pada Pilkada Bulungan 2015 lalu, Demokrat juga mengusung kadernya sebagai calon bupati dan wakil bupati, yaitu Oni Aprianur dan Najamuddin dengan modal tiga kursi plus tiga kursi dari partai lainnya di DPRD Bulungan. Namun, mereka kalah dari pasangan Sudjati-Ingkong Ala dengan selisih 1.200 suara.
"Jadi tahun ini kami akan berkoalisi karena masih butuh tiga kursi lagi. Untuk sekarang kami akan mengklirkan dulu semua urusan Pemilu 2019 sampai tanggal penetapan nanti, setelah itu atau habis Lebaran nanti baru kami fokus soal Pilkada," jelas caleg DPRD Kaltara Dapil Bulungan-Tana Tidung terpilih ini.
Menyinggung apakah dirinya kembali maju di Pilkada Bulungan, Lontong, masih enggan berkomentar banyak. Namun dirinya mengaku perolehan suara yang dia dapat melalui Pileg 2019 menjadi corong bahwa dirinya masih dipercaya masyarakat Bulungan.
"Semua keputusan itu ada di DPP, kalau DPP meminta saya untuk ikut lagi ya kita harus berhitung dan berpikir sejernih mungkin, karena strategi pileg dengan pilkada ini beda, apalagi nanti ada Pilgub, pastinya konsentrasi kami terpecah," katanya.
"Intinya kami sudah mempersiapkan diri untuk Pilkada, tapi kami masih menunggu instruksi dari pusat dan provinsi, karena kami juga tidak mau membeli kucing dalam karung, jadi kami utamakan kader, tapi kami belum bisa membukanya, nanti siapa yang diusung partai itulah kader terbaik," tambah Lontong. (shy/sur/lim)
Editor : anggri-Radar Tarakan