TARAKAN – Partai Demokrat disebut-sebut salah satu partai yang dilobi pasangan Dr. H. Irianto Lambrie – H. Irwan Sabri, S.E. Bakal pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Kaltara 2020 itu terus mengumpulkan dukungan untuk jalur partai politik (parpol) pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Kaltara 2020.
Teranyar, Partai Nasional Demokrat (Nasdem) dan Partai Persatuan Indonesia (Perindo) menyerahkan surat keputusan (SK) dukungan untuk keduanya, kemarin (3/7).
Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Nasdem Kaltara, Supaad Hadianto, S.E, mengatakan bahwa pada pekan ini, pihaknya telah menerbitkan 3 SK dukungan. Irianto-Irwan untuk Pilgub Kaltara, Najamuddin-Ari Yusnita untuk Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati (Pilbup) Bulungan, dan Marten-Datuk Nasir untuk Pilbup Malinau. Sedang Tana Tidung dan Nunukan, diprediksi pekan depan.
“Tana Tidung dan Nunukan seharusnya hari ini. Tapi karena ada keterlambatan proses administrasinya, maka diundur,” ujarnya.
Disinggung soal deklarasi, Supaad menyatakan bahwa hal ini diserahkan kepada bakal calon. Deklarasi tak hanya melibatkan Nasdem, namun adapula partai koalisi lainnya.
“Deklarasi ini kami serahkan kepada bakal calon. Kami hanya menyesuaikan. Tidak ada perubahan lagi setelah dikeluarkan lagi surat dari DPP Nasdem. Kalau masalah Pak Jusuf SK (dr. H. Jusuf SK), sebaiknya dikonfirmasi langsung ke beliau,” pungkasnya.
Kepada Radar Tarakan, anak Jusuf SK, dr. Ari Yusnita mengatakan bahwa saat ini kondisi ayahnya dalam proses penyembuhan. Untuk itu, maju atau tidaknya Jusuf SK di Pilgub Kaltara ini baru akan disampaikan setibanya nanti di Kaltara.
“Setelah saya pulang ke Tarakan, kami akan melakukan jumpa pers dan menjelaskan ke teman-teman media lengkap dengan penjelasan dari dokter. Saya masih fokus untuk rekom (SK dukungan) saya dan untuk penyembuhan Bapak (Jusuf SK). Minggu depan tunggu penjelasan saya yah,” singkatnya.
Ketua DPD Perindo Kaltara Ruslan Arifin membenarkan jika SK dukungan untuk Pilgub Kaltara telah diserahkan pihaknya ke Irianto-Irwan di Jakarta, Jumat (3/7) sore.
“Sesuai yang pernah saya sampaikan. Memang jauh hari memang kami mengusung. Resminya hari ini (kemarin), dikeluarkan SK. Kami mengharapkan beliau ke depannya lebih baik lagi, memegang amanah untuk masyarakat Kaltara. Beliau berpengalaman. Itu yang menjadi pertimbangan kami mengusung petahana.
Selain itu, di era ke depan ini, bagaimana mengangkat kembali masalah ekonomi, sosial, termasuk penanganan Covid-19 cepat berakhir. Karena dalam perjalanan di RSUD sudah di-launching rapid test dan TCM. Kalau untuk kepentingan partai, jelas beliau bersama Perindo,” singkat Ruslan.
SIAPA PEMILIK SK DEMOKRAT?
Juru Bicara Dr. H. Irianto Lambrie, Ricky Valentino, S.Pt, M.Ikom, mengemukakan dukungan yang dikantongi pihaknya genap 6 partai. Namun, beberapa partai lainnya masih terus berkomunikasi. “Golkar, Demokrat, PKB on the way (dalam proses) menuju Iraw (Irianto-Irwan). Demokrat secara spesifik, kan ada Irwan sebagai kader. Golkar (Golongan Karya) kami komunikasi sejak lama, sama dengan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) juga begitu. Untuk lebih jelasnya, juga di masing-masing ketua DPD-DPW,” ujar Ricky.
Jika Golkar, Demokrat, dan PKB juga mengamanahkan dukungan pada Irianto-Irwan, maka jumlah kursi dukungan sebagai syarat pencalonan keduanya telah mencapai 20. “Harus Juli ini selesai, atau minimal,” jelasnya.
Ketika ditanya soal dukungan Demokrat di Pilgub Kaltara, Sekretaris DPD Partai Demokrat Kaltara, Muddain, S.T, mengatakan bahwa dalam kepengurusannya di Kaltara, Partai Demokrat memiliki ketua DPD Kaltara, yakni Dr. Yansen TP, M.Si. Pria yang menjabat bupati Malinau itu juga diamanahi jabatan di Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Demokrat sebagai wakil ketua umum.
Menurut Muddain, isu politik sudah biasa dalam dunia perpolitikan. Untuk itu, arah dukungan Partai Demokrat nanti berada di tangan Yansen yang merupakan bagian dari unsur pimpinan Demokrat. “Kalau isu, siapa saja bisa. Karena bisa jadi ada isu pengangkut sampah, atau buruh pelabuhan maupun buruh kasar yang dapat rekomendasi dari kami. Maka terserah orang mau buat isu seperti apa. Tapi saya yakin keputusan Demokrat adalah keputusan terbaik,” ujar mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tarakan ini.
Disinggung terkait sikap Yansen pada media yang lebih banyak diam, dikatakan Muddain merupakan sebuah sikap karena isu politik yang semakin liar dan tidak jelas. Sebagai partai dengan suara terbanyak di Kaltara dan tidak tergiring dengan isu yang tidak jelas, maka pihaknya memilih diam. “Makanya kami diam dan melaksanakan tugas kami sebagai orang politisi. Begitu aja,” ujarnya.
Muddain memprediksi bahwa Demokrat akan menerbitkan keputusan pengusungan paling lambat akhir Juli ini. Untuk itu, sampai saat ini pihaknya belum dapat berkomentar terkait arah dukungan Demokrat.
Ditemui Radar Tarakan pada Selasa (30/6) saat baru tiba di Bandara Juwata Tarakan, Yansen menolak halus untuk diwawancara. Ia keluar dari pintu kedatangan bandara sekira pukul 12.00 WITA dengan mengenakan jaket berwarna abu-abu tua. Lantas dengan buru-buru menuju mobilnya kemudian melambaikan tangan kepada wartawan. "Maaf ya, eh jangan dekat-dekat. Ada corona-nya ini baju. Mohon maaf ya," kata Yansen menolak dengan halus sembari melambaikan tangan. (shy/lim)
Editor : anggri-Radar Tarakan