Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Fakta Baru, 90 Persen Tikus Mengidap Leptospirosis

anggri-Radar Tarakan • Selasa, 29 Januari 2019 - 21:28 WIB

TARAKAN – Dua orang penderita leptospirosis dinyatakan meninggal baru-baru ini di Tarakan. Penderitanya dipastikan bertambah lagi. Meski secara nasional kasus penyakit leptospirosis tertinggi terjadi di Jawa Tengah, namun tak pernah ditemukan korban penyakit leptospirosis meninggal dunia.

Kepada Radar Tarakan, Kepala Seksi Pengendalian Zoonosis pada Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Sorta mengatakan, dalam tugasnya, fungsi bidang pencegahan dan pengendalian selalu dimulai dari pelaksanaan survei lebih dulu dan pencatatan laporan kasus.

Hingga kini pihaknya telah melaksanakan survei dan pencatatan laporan kasus di enam provinsi Indonesia. Jika bertemu sebuah kasus, pihaknya selalu berupaya untuk menangani agar tidak terjadi kematian. Hingga kini, Kemenkes telah memberikan edukasi kepada masyarakat dengan menjelaskan bahwa proses penularan penyakit leptospirosis terjadi bukan karena tikus, namun tikus yang positif terkena penyakit leptospirosis yang kotoran tikusnya terpapar oleh aktivitas masyarakat.

“Supaya tidak terkena, ketika hendak melakukan aktivitas, misalkan mencuci ban kendaraan diharapkan menggunakan antiseptic dan alat pelindung diri seperti sarung tangan, masker, sepatu booth dan sebagainya,” bebernya.

Sorta menyatakan bahwa pihaknya mendukung setiap daerah yang berupaya untuk menangani penyakit leptospirosis ini, yakni dengan menyiapkan bantuan logistik screening untuk proses pendiagnosaan dengan cepat, agar ketika mendapatkan pasien penyakit leptospirosis, tenaga kesehatan dapat dengan cepat melakukan diagnosis pasien.

Agar terhindar dari penyakit leptospirosis, Sorta menginginkan agar masyarakat lebih fokus kepada pencegahan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) lebih dulu. Pada dasarnya, jika lebih cepat ditangani, penyakit leptospirosis tidak akan menyebabkan kematian bagi penderitanya. “Jawa Tengah kasus penyakit leptospirosis paling tinggi, tapi karena cepat ditangani maka tidak ada kasus kematiannya,” ujarnya.

Kendati demikian, kasus penyakit leptospirosis yang terjadi di Kota Tarakan telah diupayakan maksimal oleh tenaga kesehatan, misalNYA dengan membawa pasien sesegera mungkin ke rumah sakit untuk ditangani dokter. Kerap kali di masyarakat belum paham, sehingga menurut Sorta keterlambatan proses penyembuhan penyakit leptospirosis bukan dari penanganan dokter, melainkan masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan dr. Witoyo mengatakan, bahwa secara umum masyarakat harus menerapkan PHBS.

Penyebaran penyakit leptospirosis dapat melalui luka, atau terminum bekas urine tikus dan sebagainya. Untuk itu, pihaknya mengharapkan agar setiap masyarakat dapat menjaga diri sendiri agar terhindar dari kuman penyakit leptospirosis. Jika mengalami gejala penyakit leptospirosis, misalnyademam, mata berwarna merah atau kuning, kencing tak normal diharapkan segera memeriksakan diri ke rumah sakit.

“Dengan adanya kasus seperti ini, puskesmas akan melakukan pemeriksaan secepatnya supaya tidak terulang sampai meninggal lagi,” jelasnya.

Witoyo menjelaskan, kondisi lingkungan akan memengaruhi adanya penyakit leptospirosis. Sebab di Kota Tarakan saat ini sebanyak 90 persen tikus telah mengidap penyakit leptospirosis dan dapat menular kepada manusia, sehingga harus diwaspadai.

“Semakin banyak tikus, makin banyak risiko. Jadi kami berharap ada inovasi dari pihak kelurahan maupun rukun tetangga untuk memberantas tikus di lingkungan masing-masing,” katanya.

Untuk diketahui, saat ini penyakit leptospirosis bukan sebuah penyakit baru. Namun Kota Tarakan penyakit leptospirosis masuk dalam kasus baru. Dalam menangani penyakit leptospirosis, pihaknya telah menyediakan obat anti kuman dan bakteri. Hanya jika yang penyakit leptospirosis adalah organ vital manusia, seperti liver, ginjal dan sebagainya, maka akan mengakibatkan kematian.

Sementara itu, Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Alam Tarakan Said Usman Assegaf mengatakan, air yang dikonsumsi pun tetap harus yang steril. Lazim ditemui kandungan bakteri yang kebanyakan tidak dipahami manusia. Seperti bakteri escherichia coli yang dapat membahayakan kesehatan manusia. “Kami punya pembasmi (bakteri) yang digunakan sesuai dengan standar Kementerian Kesehatan,” katanya.

Meski awalnya air PDAM terlihat kotor, namun dengan adanya alat penyaringan, membuat air PDAM akhirnya jernih sampai ke masyarakat sehingga dapat digunakan dengan baik. “Apapun jenis air yang kami kelola, kami masukkan ke dalam laboratorium, karena air baku yang kami kelola, setiap 3 kubik air, kami hanya menghasilkan 1 kubik karena air baku Tarakan memiliki kandungan lumpur yang banyak,” jelasnya.

Kendati demikian, Usman mengaku bahwa peralatan yang dimiliki PDAM masih terbilang ketinggalan dengan daerah lainnya, sebab masih ada yang menggunakan manual. Meski begitu, pihaknya bersama Dinkes Tarakan mewajibkan standar baku pada air.

Usman menyebutkan, bakteri yang terkandung dalam air tak hanya disebabkan oleh tikus, namun juga hewan lainnya seperti kambing, sapi, bahkan, sampah dan sebagainya. “Yang menjadi patokan kami, kami punya alat uji sendiri. Tetapi itu hanya untuk intern, kalau ekstern-nya dari Dinkes. Jadi kalau ada sesuatu, mereka (Dinkes) akan mengeluarkan surat kepada kami, hasil penelitian air kami. Berdasarkan surat itulah kami bergerak dan itu resmi,” ujarnya.

Sebelumnya, Dinkes Kalimantan Utara (Kaltara) telah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) penyakit leptospirosis di Kota Tarakan.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendali (P2P) pada Dinkes Kaltara Agust Suwandy mengatakan, penetapan status KLB itu karena selama ini penyakit leptospirosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira sp itu belum pernah ditemukan di Kaltara. “Jadi kasus leptospirosis ini baru pertama kali ada di Kaltara, itulah sebabnya kita nyatakan KLB,” ungkap Agust, Jumat (25/1) lalu.

“Leptospirosis itu akan sangat mudah menular kepada manusia melalui kencing tikus,” jelasnya lagi.

Namun, kata Agust, penularan leptospirosis di Indonesia lebih banyak disebabkan dari kencing tikus yang mengandung bakteri leptospira. Tapi tidak semua kencing tikus yang mengandung bakteri leptospira.

Penularan leptospirosis itu bisa melalui luka. Misalnya, sesorang ada luka di bagian kaki dan besentuhan dengan kencing tikus itu akan bisa langsung masuk ke aliran darah manusia.

Jika tingkat berat, bakteri itu akan menjalar dan merusak organ tubuh. Seperti, hati dan ginjal. Apabila sudah menjalar ke organ tubuh tentunya bisa menyebabkan kematian. Dua orang yang meninggal dunia di Tarakan ditemukan adanya bakteri leptospira yang masuk ke dalam tubuhnya.

“Dari riwayatnya, bapak yang pertama kali meninggal dunia itu sering membersihkan parit tanpa alas kaki dan beliau juga ada luka di bagian kaki,” bebernya.

Sedangkan pria yang kedua itu merupakan buruh bangunan dan ada luka juga. Kemungkinan penyebabnya juga karena lingkungan yang kotor. Apalagi buruh bangunan ini juga kerap bersentuhan langsung dengan lingkungan yang kotor. “Jadi tiga kasus yang ditemukan itu semua di Tarakan,” bebernya.

Agust menjelaskan, biasanya leptospirosis itu terjadi usai banjir, karena saat itu banyak melarutkan bekas-bekas kotoran hewan. Terutama kotoran tikus. (*/shy/lim)

 

Fakta Baru, 90 Persen Tikus Mengidap Leptospirosis

Editor : anggri-Radar Tarakan
#leptospirosis