Hidup orang dengan HIV/AIDS (ODHA) memang bukan perkara mudah. Dijauhi, dikucilkan bahkan dibenci orang lain pasti pernah dirasakan setiap. Seperti halnya dengan AJ (43) yang sudah 14 tahun menjalani hidup berstatus ODHA.
AGUS DIAN ZAKARIA
AJ dinyatakan positif HIV Aids sejak 2005 dari pemeriksaan rumah sakit usai melahirkan anak semata wayangnya. Wanita kelahiran Samarinda 11 Desember 1976 tersebut mewarisi penyakit mendiang suami yang kerap menggunakan obat-obatan dengan jarum suntik.
“Saya positif tahun 2005, saya terinfeksi dari almarhum suami saya. Sekitar 2 minggu habis melahirkan saya baru tahu saya positif. Karena suami saya pengguna jarum suntik,” terangnya kepada Radar Tarakan Senin,(28/1).
Sejak masih berpacaran, ia sama sekali tidak mencurigai adanya ciri-ciri HIV/AIDS pada kekasihnya tersebut. Tidak butuh waktu lama, ia memutuskan untuk menikah.
“Saya asli orang sini (Tarakan) terus saya kerja di Jakarta kemudian di sana ketemu sama almarhum suami saya. Terus saya menikah di Manado. Setelah itu saya kembali ke sini. Waktu pacaran itu yang pasti saya tidak tahu calon suami saya ODHA, curiganya setelah kami menikah,” jelasnya.
Namun di usia pernikahan yang baru seumur jagung, akhirnya menaruh kecurigaan kepada sang suami, lantaran suami pernah merahasiakan hasil tes DNA setelah mendapat panggilan pengecekan dari rumah sakit. “Saya punya anak tiri dari suami, waktu anak tiri saya yang berumur 2 tahun dirawat di rumah sakit karena ngedrop. Tiba-tiba pihak rumah sakit memanggil almarhum suami saya untuk tes darah. Dari hasil tesnya Ternyata almarhum suami saya positif dan waktu itu dia merahasiakan kepada saya,” terangnya.
Waktu terus berjalan dan akhirnya ia melahirkan anak pertama di salah satu rumah sakit di Kota Manado. Setelah dua minggu usai melahirkan, ia baru mengetahui ternyata dirinya positif mengidap HIV/AIDS yang ditulari oleh sang suami. Syok dan tak bisa menerima kenyataan tersebut.
“Waktu itu saya berpikir kenapa harus saya. Saya tidak macam-macam, saya ibu rumah tangga biasa. Istilahnya tidak menyimpang lah. Yah mungkin ini takdir jalan hidup saya,” ujarnya.
Setelah merasa tidak nyaman, akhirnya ia kembali ke Tarakan dan berharap hasil tes tersebut sebuah hal yang keliru. Setelah itu ia kembali mengecek DNA dan berharap mendapatkan hasil berbeda. Namun nasi telah menjadi bubur, hasil tersebut tetap menunjukkan jika ia positif mengidap penyakit mematikan tersebut.
“Kasus penemuan ODHA yang pertama kali di Tarakan tahun 2005 itu kami. Saya masih tidak percaya, bisa dikatakan, saya belum menerima kenyataan ini. Akhirnya saya tes lagi ternyata hasil tesnya sama,” ungkapnya.
Setelah setahun menjalani hidup berstatus ODHA, AJ belum bisa menerima kenyataan tersebut. Bertahun mengurung diri di rumah. Hal tersebut dilakukan karena waktu itu dampak penyakit tersebut telah terlihat pada tubuhnya. Ia merasa malu untuk menampilkan diri di lingkungannya.
“Saya dijauhi orang terdekat saya, bahkan keluarga saya sendiri. Jangankan keluar rumah, bahkan untuk melihat keluar dari pintu saja saya takut. Sampai keluarga saya melarang saya mencium anak saya sendiri karena takut saya menularkan kepada anak saya. Awalnya saya sakit hati kalau dengar keluarga yang ingatkan,” tuturnya.
Meski demikin, ia rasa bahagia menghampirinya karena sang buah hati memiliki harapan selamat dari jeratan virus ganas tersebut. Meskipun ia dan suami positif mengidap HIV/AIDS.
“Setelah anak saya lahir saya diberi pilihan oleh dokter mau menyusui anak sendiri atau susu formula. Karena saya tidak mau menulari, akhirnya saya memilih susu formula. Setelah saya belajar-belajar tentang AIDS, saya baru tahu ternyata waktu itu anak saya dikasih obat pencegahan penularan nama obatnya profilaksis,” terangnya.
Ia sangat bersyukur lantaran sang buah hati tidak mengalami hal serupa dengannya, dan hingga kini memasuki usia remaja, anak laki-lakinya tersebut dapat menjalani hidup tanpa beban yang dihadapi. Meski demikian, ia meyakini jika anaknya tersebut telah mengetahui penyakit yang diidapnya. Walau begitu ia mengaku belum siap untuk menceritakan langsung kepada anaknya.
“Sekarang ini umurnya jalan 14, jadi sudah kelas 2 SMP. Setiap kali saya penyuluhan, saya selalu bawa dia. Mungkin dia sudah tahu, tapi mungkin dia pura-pura tidak tahu. Karena dialah alarm saya untuk mengingatkan saya minum obat. Kalau untuk ngomong langsung sama dia, saya belum berani,” tuturnya.
Ia menerangkan, hingga saat ini ia sudah menikmati hidupnya tanpa beban. Bahkan saat ini ia aktif di dalam gerakan kemanusiaan yang peduli terhadap sesama ODHA. Aktif dalam kegiatan dan kerap menjadi pemateri dalam sosialisasi untuk memberikan motivasi kepada ODHA lainnya. Ia percaya Tuhan memiliki rencana besar dalam setiap takdir yang digariskannya.
“Saya berpikir seperti ini, yang kasih saya makan bukan orang lain, kok jadi buat apa saya harus takut dan malu pada mereka. Semua orang kan punya masalahnya sendiri,” tutupnya dengan senyum. (*/zac/lim)
Editor : anggri-Radar Tarakan