Kenaikan harga kargo yang mencapai 50-70 persen, berimbas pada masyarakat yang biasa bersentuhan dengan jasa pengiriman. Pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) salah satu yang terdampak. Kini, memutar otak, agar produk tetap dalam berkelanjutan di pasar.
----
FORUM Komunikasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Kalimantan Utara (Kaltara) mencatat pelaku usaha sangat merasakan dampak dari kenaikan harga kargo pesawat ini.
Bagaimana tidak, produk-produk di rumah produksi maupun di pusat oleh-oleh UMKM Centre mengalami penurunan penjualan. Penurunan omzet pun mencapai 30 persen. “Masih banyak stok. Orang malas bawa oleh-oleh, karena harga kargo mahal. Jadi teman-teman yang produknya fokus di oleh-oleh, menurun omzetnya,” jelas Ketua Forum Komunikasi UMKM Kaltara Eko Prastiawan kepada Radar Tarakan, pekan lalu.
Pelaku usaha tak leluasa mengirim atau menjual produknya ke luar kota. Hanya bersifat lebih banyak menjual di dalam kota, atau masih dalam wilayah Kaltara. Tidak hanya mengirim produk ke luar kota, tetapi juga sangat berpengaruh dalam pengambilan bahan baku dari luar daerah, seperti dari Pulau Jawa. Mengagetkan bagi pelaku UMKM.
Misalnya saja, biasanya ia mendatangkan barang baku dari Jakarta seberat 20 kilogram (kg), dikenakan biaya kisaran Rp 800 ribu hingga Rp 900 ribu. Namun ia lebih dikejutkan lagi semenjak kenaikan. Dengan berat yang sama, ia harus mengeluarkan uang sebanyak Rp 1,6 juta. Dalam artian, ia harus membayar dua kali lipat dari harga biasanya.
“Ngeri loh kenaikannya 50 persen. Kaget juga, kemarin ambil 20 kilo harus bayar sampai satu juta enam ratusan. Jadi kami ambilnya terbatas juga, banyak yang kurangi stoknya,” bebernya.
Selain dampak negatifnya, dampak positif pun dirasakan sebagian pelaku industri kecil menengah, yang memproduksi bahan baku pangan. Seperti produknya, mulai dilirik oleh franchise nasional yang membuka cabang di Tarakan. “Ada juga dampak positifnya. Franchise nasional, seperti Inul Vizta, Roti O, mulai ambil bahan dari saya. Karena ongkos kirim dari Jakarta ke Tarakan, kan mahal. Jadi ada dampak negatif dan positifnya,” katanya.
Ia sendiri lebih memilih mendatangkan barang baku dari luar kota melalui jalur laut. Namun kekurangannya, barang yang didatangkan membutuhkan waktu selama 14 hari atau dua minggu perjalanan. “Kalau lewat kapal, murah banget. Misalnya satu meter kubik dikenakan Rp 875 ribu. Kalau lewat pesawat, ampun,” jelasnya.
Kenaikan harga kargo, jelas memengaruhi kenaikan harga produk. Tak jarang, konsumen pun merasa berat karena beban ongkos kirim melambung tinggi. “Ada juga permintaan kirim ke Balikpapan, itu pun diprotes karena kargo saja sudah mahal. Makanya ada produk dikirim jalur darat, laut,” lanjutnya.
Jeritan pelaku UMKM terkait kenaikan harga kargo pesawat yang melambung tinggi ini, sudah disampaikan kepada Dinas Perdagangan dan Koperasi (Disdagkop) Kaltara. Namun apa daya, kebijakan berada pada stakeholder yang lebih berwenang. “Tempo hari kami bersama Disdagkop provinsi, sudah mengetahui hal ini tapi tidak bisa apa-apa. Mau bagaimana lagi, sementara ini belum ada solusi,” katanya.
Tak ada harapan lain, selain mengharapkan harga kargo kembali normal. Lantaran pelaku UMKM di Tarakan ini tak dapat mengirimkan produknya keluar kota. “Berharap harga kargo turun, karena produknya tidak bisa keluar. Hanya bisa jual di Tarakan,” tutupnya.
KOMODITAS ANDALAN TERHAMBAT
Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tarakan Sofyan Udin Hianggio mengatakan komoditas andalan warga Tarakan seperti ikan kering tipis, kepiting soka dan sebagainya. “Dengan adanya harga seperti itu, pasti orang berpikir untuk belanja. Akhirnya merugikan masyarakat khususnya UMKM,” bebernya.
“Jadi ini sangat merugikan potensi alam dan pengrajin UMKM yang ada di Kota Tarakan,” sambungnya.
Meski merupakan kewenangan pusat, namun DPRD Tarakan akan berupaya untuk melakukan pembahasan terkait naiknya kargo tersebut yang diangggap membebani masyarakat. Selanjutnya, pihaknya akan menyuarakan kepada pihak terkait agar menindaklanjuti masalah naiknya harga kargo tersebut. “Tapi in kan masalah nasional, kepala negara saja menyatakan kaget dengan kondisi ini. Artinya kami akan mencoba untuk menyuarakan aspirasi masyarakat ini,” tuturnya.
Rencananya DPRD akan turut menyuarakan aspirasi tersebut kepada pemerintah pusat pun dianggap cukup sulit. Sebab pada dasarnya penerapan naiknya harga kargo merupakan keputusan pusat. Melaui hal tersebut, Sofyan mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tetap bersikap sabar dan menantikan keputusan dari pusat untuk menstabilkan kembali harga kargo. “Masyarakat diharapkan bersabar, kami sedang mengupayakan menyampaikan hal ini. Memang cukup sulit, tapi begitulah putusan dari pusat,” terangnya.
Wali Kota Tarakan Ir. Sofian Raga mengatakan inflasi Tarakan di tahun 2018 lalu mengalami kenaikan dikarenakan harga tiket yang luar biasa naik. Tetapi terkait harga tiket, pemerintah daerah hanya bisa mengikuti, karena kewenangan dari pemerintah pusat.
Pemerintah pusat harus menyikapi hal ini, karena regulasi diatur dari pemerintah pusat. Pemerintah daerah hanya mendukung agar menjadi ideal. “Regulasi berada di pemerintah pusat, daerah hanya mengikuti saja,” ujarnya.
Sementara itu, pakar ekonomi, Hariyadi Hamid mengatakan harga tiket pesawat yang naik dan bagasi berbayar yang saat ini diterapkan sangat berpengaruh pada keadaan ekonomi. Karena sebagian besar barang atau kebutuhan akan sembako atau berbagai barang di Tarakan tidak akan bisa terpenuhi.
Karena sebagian besar didatangkan dari luar walaupun lebih banyak didatangkan dari kapal laut. Hanya ada juga beberapa barang khusus yang didatangkan melalui maskapai penerbangan dan berdampak pada harga. Secara ekonomi, tentunya banyak masyarakat yang mengeluh. Seperti pakaian, yang dulunya banyak mengambil dari daerah lain dan dijual ke Tarakan. “Sehingga akan sangat berpengaruh pada pemenuhan kebutuhan yang ada di Tarakan,” ungkapnya.
Bahkan mungkin ada sebagian produk UMKM yang bahan bakunya juga selama ini dipesan dari kargo. Sehingga pasti akan berpengaruh pada omzet penjualan, karena jumlah produksi yang harus terbatas.
“Dari sisi ekonomi ini tentunya tidak baik,” ungkapnya.
Tentu saja, masyarakat sebagian besar polanya menggunakan pesawat udara sehingga lebih baik mengalihkan ke jalur laut meskipun dalam segi waktu akan lebih lama. Maka para pengusaha sebagian besar sudah memikirkan bagaimana caranya proses produksi tidak terganggu, meskipun durasi waktunya akan berkurang. (*/one/*/shy*/naa/lim)
Editor : anggri-Radar Tarakan