TANJUNG SELOR - Sejak awal Januari hingga kini kasus demam berdarah dengue (DBD), di Bumi Benuanta sebutan lain dari Kalimantan Utara (Kaltara) terus meningkat. Sebelumnya di Januari, penderita positif DBD hanya sebanyak 134 orang. Namun kembali bertambah di Februari sebanyak 95 orang. Artinya, hingga saat ini jumlah positif DBD telah mencapai 229 orang.
Dikatakan Kepala Bidang P2P Dinkes Kaltara, Agust Suwandy peningkatan tidak hanya terjadi pada penderita yang positif saja, korban meninggal akibat nyamuk Aedes Aegypti pun mengalami peningkatan.
"Di Januari, Kabupaten Bulungan dan Kota Tarakan saja yang kami temukan ada korban meninggal dunia. Kalau satu orang yang meninggal dunia di Kabupaten Malinau merupakan korban DBD tahun 2018, karena dari pihak Dinkes Malinau terlambat melapor, jadi baru sekarang ini dimasukkan datanya" ungkap Agust kepada Radar Kaltara, Rabu (27/2).
Kemudian di awal Februari ini kembali ditemukan satu korban meninggal dunia di Kabupaten Nunukan. Adanya korban meninggal itu menambah catatan korban meninggal dunia akibat DBD.
"Jadi berdasarkan data yang kita terima dari Kabupaten Kota jumlah penderita DBB ini terus meningkat," ujarnya.
Tentu jumlah itu akan terus bertambah seiring masih tingginya intensitas hujan di Kaltara. Menyiasat hal itu pihaknya mengaku telah melakukan berbagai langkah agar penyebaran DBD tidak semakin meluas.
"Kita juga memasang spanduk di titik-titik strategis," ujarnya.
Pemasangan spanduk itu penting dilakukan, guna memberikan pemahaman kepada masyarakat akan bahaya penyakit DBD. Pihaknya mengimbau kepada masyarakat agar aktif melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan gerakan 3M plus. Pertama, menguras, membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain. Kedua, menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya. Ketiga, memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular demam berdarah.
"Langkah ini dapat diimplementasikan di tingkat rukun tetangga (RT), kecamatan maupun tingkat daerah," jelasnya.
Untuk penanganan secara wilayah, kata Agust telah dilakukan fogging atau pengasapan yang dikoordinatori oleh Dinkes di kabupaten kota se-Kaltara. Khususnya, di wilayah yang rawan perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti.
Selain itu, Dinkes Kaltara juga telah memberikan dukungan lewat pemberian bubuk abate ke setiap kabupaten/kota. Sejauh ini, sebanyak 1.200 botol bubuk abate telah disebar ke seluruh kabupaten/kota.
“Sebenarnya, fogging itu tidak selalu harus dilakukan. Sebab, fogging hanya berfungsi untuk membunuh nyamuk dewasa. Sedangkan untuk pembasmian jentik sendiri, harus dilakukan oleh masyarakat secara langsung. Jadi di sini dibutuhkan kesadaran masyarakat dalam merawat lingkungan sekitar,” pungkasnya. (*/jai/zia)
Editor : izak-Indra Zakaria