SETELAH terdampar selama kurang lebih satu minggu, bangkai yang diduga paus sperma di Pantai Nibung, Pulau Bunyu, Kabupaten Bulungan akhirnya dikuburkan. Meski proses penguburan yang dilakukan oleh guru serta siswa-siswi dari SMKN 1 Bunyu memakan waktu empat jam tanpa bantuan masyarakat sekitar.
Penguburan bangkai paus sperma yang sempat viral di media sosial (medsos) itu bertujuan untuk menghindari dampak negatif bagi lingkungan perairan maupun bagi masyarakat sekitar.
Paus sperma dengan ukuran panjang kurang lebih 10 meter tersebut dikuburkan dengan menggunakan alat ala kadarnya seperti skop, cangkul dan batang kayu, yang dibawa langsung para siswa-siswi dari rumah.
Sementara keberadaan bangkai paus ini pun terus menerus mengundang perhatian masyarakat. Mereka datang untuk memastikan jenis hewan yang terdampar di pantai yang sepi itu.
Dan tak sedikit dari mereka sadar jika bangkai hewan yang terdampar tersebut dapat menimbulkan dampak negatif jika saja tidak segera dikuburkan.
Beruntung, seorang guru dari SMKN 1 Bunyu bernama Lia Anggraeni berinisiatif untuk segera menutupi bangkai hewan paus tersebut dengan mengumpulkan siswa-siswinya yang tergabung dalam Gerakan Siswa Teknik Pecinta Alam.
Dengan bantuan siswa-siswinya. Perempuan berusia 28 itu menuju lokasi dengan alat yang mereka bawa, meski jarak yang ditempuh tidaklah mudah. Ia dan muridnya harus menempuh perjalanan sepanjang 4 kilo untuk bisa sampai ke lokasi. “Enggak ada yang kuburkan. Mereka datang jauh-jauh hanya sekadar ambil gambar dan video. Lalu pergi begitu saja sih,” ucap Lia, saat ditemui Radar Tarakan, Minggu (28/4).
Lia sadar bangkai hewan yang pertama kali ia lihat itu hanya dijadikan tontonan masyarakat untuk dijadikan status medsos. Dan menurutnya, lambannya penguburan ini telah menimbulkan bau busuk yang menyengat. Ia khawatir virus dan bakteri yang menyebar dari bangkai paus bisa mencemari lingkungan. “Saya lihat mereka ada yang nginjak-nginjak tanpa ada niat sama sekali untuk menguburkan. Sejak itulah saya langsung meminta siswa-siswi saya untuk menemani saya turun untuk menutupi hewan ini,” bebernya.
Dalam proses penguburan itu, Lia mengaku membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam untuk dapat menutupi semua bangkai yang tersebut. “Cuaca saat itu benar-benar panas. Tahu sendiri kan Pulau Bunyu ini tempatnya batu bara. Jadi anak-anak ini bergantian, kalau lelah ada yang istirahat dan ada yang melanjutkan,” jelasnya.
Lia juga menambahkan, sebelum kemunculan bangkai hewan tersebut Pantai Nibung diketahui sangat sunyi. “Sekarang rekreasinya beralih ke pantai TPI. Tapi, setelah kemunculan hewan ini Pantai Nibung jadi ramai dikunjungi warga Pulau Bunyu,” jelasnya.
Menurut Lia, selama ini Pantai Nibung sunyi dikarenakan akses jalan yang tak mulus. “Contohnya banyak batu agregat yang bisa mencelakakan warga. Saya pernah jatuh menggelinding di area turun ke pantai dan kita harus melewati portal dan meminta izin dulu di penjagaan posnya,” ucap Lia.
Sementara itu, Tikayon (17) yang tak lain warga di Pantai Nibung itu juga mengaku jika tidak ada masyarakat yang berniat untuk menguburkan bangkai hewan tersebut. Hanya dibiarkan tergeletak untuk diabadikan dalam HP kamera pribadi. “Tidak ada juga. Nanti pas teman-teman dan guru SMKN 1 baru kuburkan,” kata Tika.
Sejak dikuburkan. Tika mengaku melihat fenomena yang berbeda. Pantai Nibung kembali sepi. Bahkan pengunjung yang baru tiba kembali berubah arah dan meninggalkan lokasi.
“Hanya sesaat saja,” katanya.
Tika pun berharap Pantai Nibung yang terkenal akan pantainya yang indah serta pohon pinusnya yang rindang bisa kembali ramai dan menjadi objek wisata di Pulau Bunyu.
“Jujur di Pulau Bunyu ini sepi akan hiburan,” ucapnya lagi.
Salah satu warga Bunyu yaitu Nanang yang ditemui Radar Tarakan pada Sabtu lalu (27/4), menjelaskan bahwa belum ada satu warga pun yang dapat memastikan jenis bangkai hewan tersebut.
“Makanya sangat banyak warga berdatangan untuk melihatnya secara langsung. Ditambah lagi hewan ini terlihat banyak buluhnya dan itu dianggap sangat aneh bagi warga sekitar,” jelasnya.
Dibeberkannya, awal pertama saat ditemukan pada pekan lalu, didapati tubuh hewan tersebut sangat besar. Namun makin lama tubuh hewan tersebut menyusut dan mengeluarkan aroma tidak sedap. Dari cerita warga Bunyu, ada mengatakan hewan tersebut adalah berjenis ubur-ubur dan gurita. “Kita juga pernah dapat info kalau hewan seperti ini pernah terdampar di pantai Filipina. Katanya kalau hewan ini mati dan terdampar, akan ada bencana seperti gempa. Tapi sampai sekarang Bunyu aman saja,” bebernya.
Sementara Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Tarakan dan Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak, menurunkan langsung petugasnya untuk melakukan pengecekan. Kepala Seksi Pengawasan dan Penanganan Pelanggaran, Stasiun PSDKP Tarakan Hamzah Kharisma mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan terkait jenis hewan tersebut lantaran sudah berbentuk bangkai. Pihaknya menilai perlu adanya penelitian lanjut untuk bisa mengetahui pasti jenis hewan tersebut.
“Kami hanya melakukan pengukuran terhadap bangkainya. Untuk panjangnya itu mencapai 10,15 meter dan memiliki lebar 2,4 meter,” jelasnya.
Ditambahkan Hamzah, pihaknya bersama BPSPL Pontianak sudah mengirimkan data dan foto ke kantor pusat BPSPL untuk dilakukan pengkajian lebih lanjut. Pihaknya dari data dan foto yang sudah dikirim, identifikasi jenis hewan tersebut akan segera terungkap.
“Nanti akan kami minta pihak atau instansi terdekat di Bunyu untuk memindahkan atau menguburkan hewan ini, karena sudah mengeluarkan bau tidak sedap. Kemudian bisa mengganggu lingkungan masyarakat, terutama yang ada di pantai ini,” imbuhnya.
Sementara itu, salah satu anggota enumerator BPSPL Pontianak, Santoso menambahkan, dari pemantauan lapangan sementara pihaknya belum bisa juga memastikan terkait jenis hewan tersebut. Hanya, pihaknya memprediksi bangkai hewan tersebut adalah paus sperma.
“Tapi untuk lebih memastikan kita harus melakukan penelitian lebih lanjut. Kita juga tidak bisa ambil sampel karena kondisi bangkainya sudah tidak memungkinkan lagi,” tutupnya.
Hal yang sama juga dikemukakan Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Kaltim Aganta Seno. Menurutnya jika melihat dari beberapa kejadian sebelumnya, kemungkinan bangkai tersebut merupakan paues sperma. “Kami juga menduganya demikian. Sebelumnya ada beberapa kejadian, dan itu paus sperma,” ujarnya. (eru/zar/lim)
Editor : anggri-Radar Tarakan