Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Pangkas Pohon dengan Alasan Rutinitas

anggri-Radar Tarakan • Selasa, 26 November 2019 - 19:59 WIB

TARAKAN – Mungkin Anda bertanya-tanya, di saat kota-kota lain menggalakkan penghijauan kota, Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan justru memangkas pohon rindang tepi jalan. Khususnya di sepanjang Jalan Mulawarman.

Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Tarakan memangkas pepohonan di sepanjang Jalan Mulawarman beberapa bulan lalu. Akibatnya, terik matahari lebih terasa khususnya bagi pejalan kaki atau pedagang kaki lima di sepanjang Jalan Mulawarman.

Salah seorang pedagang, Hayati (58) merasakan gerah berlebihan semenjak pepohonan di pinggir jalan dipangkas. Dibandingkan sebelum pepohonan dipangkas, dedaunan pohon menjadi pelindung dari terik matahari langsung.

“Mungkin dipangkas sudah sebulanan lebih. Panas banget, apalagi ini dinding warung pakai seng, jadi panasnya terasa. Kalau dulu kan ada pohon yang melindungi, sekarang dipangkas, jadi sinar matahari langsung dari atas,” katanya saat ditemui Radar Tarakan, Senin (25/11).

Tetapi dia melihat pucuk-pucuk daun sudah mulai tumbuh. Menurutnya pohon yang rindang sangat baik untuk pejalan kaki. Apalagi di sepanjang trotoar, banyak dilalui anak-anak sekolah yang berjalan kaki.

“Kalau daunnya rindang kan lebih bagus lagi, dingin tapi ini sudah mulai tumbuh. Apalagi banyak anak sekolah lewat, kasihan kepanasan sepanjang jalan tidak ada pohon yang melindungi dari terik matahari. Banyak debu lagi,” bebernya.

Saat dikonfirmasi Kepala Bidang Pertamanan DPUTR Broto Subagyo menjelaskan, pemangkasan pohon di sepanjang Jalan Mulawarman ini didasarkan tiga kegiatan. Yakni peremajaan drainase, pengamanan jaringan listrik dan kegiatan rutin Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan.

“Kami juga kerja sama dengan PLN. Untuk pohon yang dekat dengan jaringan bertegangan tinggi, bukan di tengah perkotaan dilakukan PLN. Tapi kalau dalam perkotaan, kami yang lakukan. Terutama tanaman yang ditanam pemerintah,” jelas Subroto.

Pemangkasan pohon ini tidak dianggarkan Pemerintah Kota (Pemkot). Melainkan kegiatan rutin, untuk memprioritaskan menjaga keamanan dan keselamatan pengguna jalan. “Kegiatan rutin artinya kami punya tim yang memang tugasnya memangkas pohon. Kami lihat beberapa tahun ini tidak ada pemangkasan, pohon-pohon dekat jaringan semakin rindang dan tinggi. Jadi pohon-pohon yang di atasnya ada jaringan PLN, kami pangkas,” katanya.

Dilanjutkan Broto, pohon-pohon ini tidak dipangkas habis. Tetapi sengaja menyisakan 3 meter hingga 4 meter, dengan alasan dapat tumbuh kembali. “Yang kami potong sudah mulai bersemi lagi. Tapi ada juga pohon yang pas kena pemasangan gorong-gorong, terpaksa kita tebang. Tapi kalau pohonnya kena di sampingnya saja, itu kami minta ke kontraktor dikerjakan manual, artinya akarnya tidak dicabut semua dengan alat berat,” ujarnya.

Tidak hanya di Jalan Mulawarman. Juga termasuk Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Yos Sudarso, Jalan P. Sumatera dan titik lainnya yang berpotensi mengganggu jaringan, dipangkas.

“Di Mulawarman hanya sebelahnya saja, karena memang kelihatan rawan, seiring dengan adanya peremajaan juga. Kalau ada pohon yang di atasnya ada jaringan, kami pangkas. Karena ini sudah mulai musim hujan, jadi mengantisipasi yang membahayakan pengguna jalan,” urainya.

Dikatakan jenis-jenis pohon yang ditanam di tengah kota ini terdapat angsana, ketapang dan mahoni.

Sementara itu, akademisi lingkungan UBT, Dr. Ir. Adi Sutrisno mengatakan, pemangkasan pepohonan di tengah kota mengakibatkan cuaca panas lebih terasa. Berbicara soal pertumbuhan pohon, tergantung dari jenisnya.

Secara singkat dijelaskannya, pohon angsana dan ketapang membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk kembali rindang. Sedangkan pohon mahoni membutuhkan waktu enam bulan lebih. “Kalau angsana lebih cepat, seperti singkong, ditanam begitu saja akan tumbuh. Ketapang seperti angsana juga, yang paling lama itu mahoni,” jelasnya.

Sejauh yang ia tahu, pepohonan di pinggir jalan, tepatnya daerah Jalan Mulawarman masih terbilang kecil, jika dibandingkan di kota-kota besar. “Dibandingkan di Pulau Jawa, pohon angsana itu sampai besar-besar. Tapi mungkin pemangkasan ini terkait dengan pembangunan trotoar atau drainase di situ. Sepanjang dibiarkan tumbuh lagi, bersabar tunggu sampai rindang lagi,” lanjutnya.

Dikatakannya, pohon angsana dan mahoni ini tergolong jenis pepohonan yang tidak mudah tumbang. Kedua jenis pohon ini pun kerap ditanam di pinggir jalan.

“Beda lagi sama pohon sengon, jarang ditanam di pinggir jalan karena mudah tumbang. Jadi kalau pemangkasan karena pembangunan, yang penting bisa kembali seperti semula, rindang, pastinya bisa bersabar dulu,” tutupnya. (*/one/lim)

Editor : anggri-Radar Tarakan
#DPUTR #pemkot tarakan